Bahaya Ghazwul Fikri

Perang salib dalam arti peperangan fisik sudah berakhir. Namun, satu hal yang harus disadari oleh kaum muslimin, peperangan yang bersifat non fisik sejatinya masih terus berlangsung hingga saat ini. Peperangan inilah yang kemudian disebut dengan istilah al-ghazwul fikri.

Secara bahasa, ghazwul fikri terdiri dari dua kata yaitu ghazwah dan fikr. Ghazwah berarti serangan, serbuan atau invansi. Sedangkan fikr berarti pemikiran. Jadi, secara bahasa ghazwul fikri diartikan sebagai invansi pemikiran.

Sebagian orang menyebut ghazwul fikr dengan istilah perang ideologi, perang budaya, perang urat syaraf, dan perang peradaban. Intinya, ia adalah peperangan dengan format yang berbeda, yaitu penyerangan yang senjatanya berupa pemikiran, tulisan, ide-ide, teori, argumentasi, propaganda, dialog dan perdebatan.

Konon, orang yang pertama kali menyadari pentingnya metode baru dalam menaklukkan Islam adalah Raja Louis IX. Setelah ditawan oleh pasukan muslim di Al-Manshuriyah Mesir pada perang salib ke VII tahun 1254 M, di dalam memoarnya ia menulis: “Setelah melalui perjalanan panjang, segalanya menjadi jelas bagi kita. Kehancuran kaum muslimin dengan jalan konvensional (perang fisik) adalah mustahil. Karena mereka memiliki metode yang jelas dan tegas diatas konsep jihad fii sabilillah. Dengan metode ini, mereka tidak pernah mengalami kekalahan militer.” 

Ia melanjutkan: “Barat harus menempuh jalan lain (bukan militer). Yaitu jalan ideologi dengan mencabut akar ajaran itu dan mengosongkannya dari kekuatan, kenekatan dan keberanian. Caranya tidak lain adalah dengan menghancurkan konsep-konsep dasar Islam dengan berbagai penafsiran dan keragu-raguan.”

Dalam artikel berjudul: “Serial Perang Salib Modern #3: Perang Salib, Benarkah?” disebutkan bahwa Raja Louis IX berkata: ”Tidak mungkin meraih kemenangan atas umat Islam melalui peperangan. Kita hanya akan bisa mengalahkan mereka, dengan cara sebagai berikut: 
(a) menimbulkan perpecahan di kalangan pemimpin umat Islam. Jika sudah terjadi, perluaslah ruangnya sehingga perselisihan ini menjadi faktor yang melemahkan umat Islam.
(b) Tidak memberi peluang berkuasanya seorang penguasa yang shalih di negeri-negeri Islam dan Arab.
(c) merusak pemerintahan di negara-negara Islam dengan suap, kerusakan dan wanita sehingga fondasi bangunan terpisah dengan puncak bangunan.
(d) mencegah munculnya tentara yang meyakini hak atas tanah airnya, rela berkorban demi membela prinsip tanah airnya.
(e) mencegah terbentuknya persatuan bangsa Arab di kawasan Arab. 
(f) Membuat sebuah negara Barat di tengah kawasan Arab, mulai dari Ghaza di sebelah selatan, sampai Antokia di sebelah utara, kemudian ke arah timur, terus memanjang sampai ke Barat.

Sebelum menyimpulkan pengertian ghazwul fikri, perlu diketahui empat kata kunci dan target dari ghazwul fikri ini.

Ifsadul akhlak (merusak akhlak), yaitu memporak-porandakan etika dan moral kaum muslimin sehingga tidak lagi berakhlak sesuai etika dan moral ajaran Islam. Kaum muslimin diserbu dengan budaya permissivisme (paham serba boleh), hedonisme (paham memburu kelezatan materi), gemar bersenang-senang, melepaskan insting tanpa kendali, berlebih-lebihan dalam memuaskan kesenangan perut, mencabut nilai-nilai kesopanan, kesantunan, dan rasa malu dari kalangan pria maupun wanita.

Tahthimul fikrah (menghancurkan pemikiran), yaitu mengacaukan pemahaman kaum muslimin dengan memunculkan berbagai macam isme-isme yang asing dan bertentangan dengan ajaran Islam, seperti: atheisme, materialisme, komunisme, liberalisme, dan lain-lain.

Idzabatus syakhshiyyah (melarutkan kepribadiaan), yaitu menggoyahkan sikap hidup kaum muslimin sehingga enggan beramar ma’ruf nahi munkar dan bahkan bersikap mujamalah (basa-basi), toleran atau ikut-ikutan kepada orang-orang yang menyimpang dari nilai-nilai ajaran Islam. Misalnya dengan dalih HAM, tidak sedikit kaum muslimin ikut-ikutan mentolerir, bahkan melegalkan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai agama. Contoh: lesbian, gay, biseksual, dan transgander (LGBT).

Ar-Riddah (murtad), yaitu melepaskan kewajiban agama, mengingkarinya, bahkan keluar dari agama.

Target dari ghazwul fikri ini adalah berubahnya pribadi-pribadi muslim sehingga menjadi orang-orang yang memberikan al-wala-u lil kafirin (loyalitas, kesetiaan, dan kecintaan kepada orang-orang yang ingkar kepada Allah Ta’ala).

Menurut Ali Abdul Halim Mahmud seorang doktor dari Al Azhar Mesir, ghazwul fikri merupakan suatu upaya untuk menjadikan:

Bangsa yang lemah atau sedang berkembang, tunduk kepada negara penyerbu.

Semua negara, negara Islam khususnya, agar selalu menjadi pengekor setia negara-negara maju, sehingga terjadi ketergantungan di segala bidang.

Semua bangsa, bangsa Islam khususnya, mengadopsi ideologi dan pemikiran kafir secara membabi buta dan serampangan, berpaling dari manhaj Islam, Al Quran dan Sunnah.

Bangsa-bangsa mengambil sistem pendidikan dan pengajaran negara-negara penyerbu.

Umat Islam terputus hubungannya dengan sejarah masa lalu, sirah nabinya dan salafus saleh.

Bangsa-bangsa atau negara-negara yang diserbu menggunakan bahasa penyerbu.

Ghazwul fikri adalah upaya melembagakan moral, tradisi, dan adat-istiadat bangsa penyerbu di negara yang diserbunya.

Sejak awal, Islam telah memperingatkan kaum muslimin agar waspada terhadap orang-orang kafir dan munafik yang selalu berupaya menyesatkan mereka,

وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً فَلَا تَتَّخِذُوا مِنْهُمْ أَوْلِيَاءَ حَتَّى يُهَاجِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah.” (QS. An-Nisa, 4: 89)

*****

Dapat disimpulkan pengertian ghazwul fikri adalah serangan pemikiran, ide, budaya, dan propaganda yang dilancarkan suatu bangsa/peradaban kepada bangsa/peradaban lain sehingga mengalami kelemahan mental dan dapat dikuasai untuk kepentingan mereka.

Wallahu A’lam.

Beda Orang Cerdas dan Bodoh, Cek 5 Sikap Berikut

Beda Orang Cerdas dan Bodoh, Cek 5 Sikap Berikut

Dunia penuh bermacam manusia dengan tingkat intelegensia masing-masing. Hampir semua orang merasa dirinya cerdas walaupun sulit mengukur kecerdasan diri sendiri.


Intelegensia sangat penting dalam kehidupan, khususnya dalam karier profesional. Kecerdasan bisa menjadi aset terbaik demi karier. Persoalannya adalah banyak orang yang merasa pintar tetapi sebenarnya tidak begitu. Menurut Independent.co.uk, berikut lima perbedaaan fundamental antara orang cerdas dan orang bodoh.

1. Orang bodoh menyalahkan orang lain atas kesalahannya sendiri
Kebiasaan menyalahkan orang lain adalah perilaku tidak profesional yang tidak akan pernah dilakukan orang cerdas. Orang yang secara konsisten menutupi kesalahannya dengan menyalahkan orang lain menunjukkan betapa tidak bertanggung jawabnya dia.

2. Orang bodoh merasa paling benar sepanjang waktu
Dalam sebuah konflik, orang yang cerdas lebih mampu berempati pada orang lain dan mengerti argumentasi mereka. Orang cerdas mampu mengintegrasikan pendapat orang lain dengan pikirannya tanpa meremehkan pandangan orang lain.

Sebaliknya orang bodoh selalu merasa perlu untuk berargumentasi dengan orang lain untuk memastikan bahwa dirinya yang paling benar. Bias kognitif yang dialami orang bodoh membuatnya tidak mampu untuk melihat kemampuan sendiri sehingga selalu merasa dirinya superior.

3. Orang bodoh bereaksi terhadap konflik dengan kemarahan
Si cerdas juga bisa marah, tetapi marah yang bijaksana. Berbeda dengan orang bodoh yang bereaksi berlebihan dalam segala hal yang tidak menyenangkan hatinya.

4. Orang bodoh mengabaikan kebutuhan dan perasaan orang lain
Orang cerdas cenderung mampu berempati dengan keadaan orang lain. Tetapi, orang bodoh selalu mementingkan dirinya sendiri. Dia cenderung tidak mampu untuk melihat kebutuhan dan perasaan orang lain dengan karena egonya.

5. Orang bodoh merasa lebih baik dari siapa pun
Orang cerdas cenderung mampu memotivasi atau menolong orang lain. Hal ini dilakukan karena mereka percaya diri akan kemampuan sendiri tanpa takut dikalahkan orang lain. Sedangkan orang bodoh akan melakukan segala cara agar dirinya terlihat lebih baik dari orang lain. Mereka percaya bahwa dirinya jauh lebih baik dari semua orang.

Kisah Copet

COPET TSM

1. Ada copet di KRL berjumlah 5 orang Pembagian perannya sudah diatur :

*Yang pertama* bertugas mencopet

*yang kedua*  bertugas menerima hasil copetan

*yang ketiga*  bertugas membully korban

*yang keempat* bertugas memprovokasi

*yang kelima* bertugas menjadi juru damai.

2. Saat kecopetan, si korban sudah berhasil memegang tangan orang yg mengambil HP di saku celananya. Tapi HP sdh dialihkan ke teman copet yang kedua.

3. Korban berdebat dengan copet. Tapi copet bilang "mana buktinya"

4. Copet ketiga bilang setengah berbisik, sok akrab, "Hati hati lho, kamu jangan asal tuduh ya"

5. Copet keempat menimpali dan bilang,"Jangan ngotot kalau tidak ada bukti, nanti malah kamu yang diteriakin maling"

6. Copet kelima bilang,"Sudah sudah jangan ribut di KRL. Ikhlasin saja, mungkin belum rejeki kamu. Nanti beli aja lagi yang lebih bagus"

7. Si korban menyerah. Dia pikir semua berjalan normal. Dia gak tahu siapa mereka. Padahal mereka berlima bersekongkol.

Berteman Dengan Orang Shalih

Manusia itu laksana sekawanan burung, sebagaimana peribahasa "birds of a feather flock together" manusia memiliki naluri untuk berkumpul dengan sejenisnya. Oleh karena itu, jika kita ingin menjadi orang shalih, hendaklah berusaha berkawan dan berkumpul dengan orang-orang shalih.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” [At-Taubah/9:119]

Seorang Muslim hendaknya mencari, bergaul, dan menjadikan orang yang shalih sebagai kawan-kawannya.

Jangan merasa rendah bergaul dengan orang-orang yang taat, walaupun mereka kekurangan secara duniawi, namun mereka memiliki derajat di sisi Allah Yang Maha Tinggi. Allah Azza wa Jalla berfirman:

"Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan di senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” [Al-Kahfi/18: 28]

Di dalam ayat ini terdapat perintah untuk berkawan dengan orang-orang baik, menundukkan jiwa untuk berkawan dan bergaul dengan mereka, walaupun mereka adalah orang-orang miskin, karena sesungguhnya berkawan dengan mereka terdapat faedah-faedah yang tidak terbatas.

Namun hal ini bukan berarti kita tidak boleh mengenal semua orang. Mengenal semua orang dibolehkan, namun kita jangan menjadikan kawan dekat kecuali orang-orang yang shalih. Kita harus memilih kawan-kawan yang baik untuk keselamatan kita. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seseorang itu mengikuti din (agama; tabiat; akhlaq) kawan dekatnya. Oleh karena itu, hendaknya seseorang di antara kalian memperhatikan siapa yang dia jadikan kawan dekat. [HR. Abu Dawud]

Berkawan dengan orang-orang shalih akan menghasilkan ilmu yang bermanfaat, akhlak yang mulia, dan amal-amal yang shalih. Sedangkan berkawan dengan orang-orang yang buruk akan menghalangi semua itu. Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا ﴿٢٧﴾ يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا ﴿٢٨﴾ لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي ۗ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا

Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zhalim menggigit dua tangannya (yakni: sangat menyesal), seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.” Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si Fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia. [Al-Furqan/25: 27-29]

Sebaliknya Allah melarang orang beriman menjadikan orang kafir sebagai kawan akrab, dan ancaman kehilangan pertolonganNya bagi orang yang melanggar larangan ini.

“Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri akan (siksa)Nya. Dan hanya kepada Allah kembali(mu).” (Qs: Ali Imran: 28).

Inilah ajaran agama kita, ajaran mulia dari Allah Azza wa Jalla, dan dari Rasul yang utama, untuk keselamatan kita bersama.

Wallahu a'lam.

The World’s Five Most Important Oil Fields

The world still relies overwhelmingly on conventional oil production from existing fields, many of which are in decline. The Middle East has dominated the world of oil for half a century and as the list below shows, it remains king. Here are the top five most important oil fields in the world.

1.  Ghawar (Saudi Arabia) The legendary Ghawar field has been churning out oil since the early 1950s, allowing Saudi Arabia to claim the mantle as the world’s largest oil producer and the only country with sufficient spare capacity to act as a swing producer. Holding an estimated 70 billion barrels of remaining reserves, Ghawar alone has more oil reserves than all but seven other countries, according to the Energy Information Administration. Some oil analysts believe that Ghawar passed its peak perhaps a decade ago, but Saudi Arabia’s infamous lack of transparency keeps everyone guessing. Nevertheless, it remains the world’s largest oil field, both in terms of reserves and production. It continues to produce 5 million barrels per day (bpd).

2.  Burgan (Kuwait) Just behind Ghawar is another massive oil field located in the Middle East. The Burgan field was originally discovered in 1938, but production didn’t begin until a decade later. The field holds an estimated 66 to 72 billion barrels of reserves, which accounts for more than half of Kuwait’s total, and it produces between 1.1 and 1.3 million bpd.

3.  Safaniya (Saudi Arabia) The Safaniya field is the world’s largest offshore oil field. Located in the Persian Gulf, the Safaniya field is thought to hold more than 50 billion barrels of oil. It is Saudi Arabia’s second largest producing field behind Ghawar, churning out 1.5 million bpd. Like Saudi Arabia’s other fields, Safaniya is very mature as it has been producing for nearly 60 years, but Saudi Aramco is working hard to extend its operating life.

4.  Rumaila (Iraq) Iraq’s largest oil field is the Rumaila, which holds an estimated 17.8 billion barrels of oil. Located in southern Iraq, Rumaila was highly sought after when the Iraqi government put blocks up for bid in 2009. BP and the China National Petroleum Corporation (CNPC) are working together to develop the giant field along with Iraq’s state-owned South Oil Company. The field now produces around 1.5 million bpd, but its operators have plans to boost that production to 2.85 million bpd over the next couple of years.

5.  West Qurna-2 (Iraq) Also located in southern Iraq, the West Qurna-2 field is Iraq’s second largest, holding nearly 13 billion barrels of oil reserves. The West Qurna field was divided in two and auctioned off to international oil companies. Russia’s Lukoil took control of West Qurna-2 and successfully began production earlier this year at an initial 120,000 bpd. Lukoil plans on lifting production to 1.2 million bpd by the end of 2017. The neighboring West Qurna-1 field – operated by a partnership of ExxonMobil, BP, Eni SpA, and PetroChina – holds 8.6 billion barrels of oil reserves. They hope to increase production from 300,000 bpd to more than 2.3 million bpd over the next half-decade.

It’s clear that the Middle East is still the center of the universe when it comes to oil. Despite their age, these supergiants remain the oil fields of tomorrow. And as the tight oil revolution in the U.S. plays out, these fields will remain, and the world will continue to depend heavily on the fortunes of a few countries in the Middle East

By Nick Cunningham of Oilprice.com

11 Tanda Orang dengan EQ Lemah

Ini 11 Tanda Orang dengan EQ Lemah, Salah Satunya Mudah Tersinggung!

Intisari-Online.com—Tidak seperti intellectual quotient (IQ), sebenarnya emotional quotient (EQ) lebih mudah untuk ditempa.

Sebab EQ berbicara soal pilihan hidup dan disiplin.

EQ juga tidak diukur dengan standar angka, namun akan terlihat dari cara hidup setiap hari.

Bagaimana caranya agar kita mengetahui apakah EQ kita lemah atau kuat?

Berikut ciri-ciri dan tanda orang dengan EQ lemah seperti yang dilansir di Huffingtonpost.com:

1. Gampang stres

Saat ada situasi yang tidak beres, orang dengan EQ lemah biasanya mudah merasa tidak nyaman, cemas, dan frustasi.

Ia membiarkan dirinya dikuasai berbagai emosi yang tidak perlu. Sehingga pikiran dan perasaannya kacau.

Sebaliknya, orang yang memiliki EQ yang kuat cenderung mampu mengendalikan stres dan mengelola mood. Sehingga ia jauh dari stres.

2. Tidak tegas pada diri sendiri

Orang yang memiliki EQ yang baik mampu menyeimbangkan sikap, perilaku, dan pikirannya. Ia memiliki batasan-batasan tertentu pada dirinya.

Sehingga hal-hal yang membuat kualitas hidupnya memburuk akan dibuangnya. Istilahnya ia tegas terhadap dirinya sendiri.

Sedangkan orang yang lemah EQ biasanya menjalani hidup semaunya, tanpa prinsip dan batasan.

3. Tidak mengenal emosinya sendiri

Semua manusia pasti memiliki emosi, namun tidak semua orang mengenal emosi yang dialaminya.

Penelitian membuktikan hanya 36% orang bisa mengenal dan mengendalikan emosinya.

Sebaliknya orang yang lemah EQ biasanya tidak mampu mengenal emosinya sendiri.

Sehingga ia gampang jatuh dalam kesalahpahaman, konflik, dan emosi-emosi beracun lainnya. Ia cenderung merasa buruk, sensitif, frustasi, dan cemas. 

4. Mudah berasumsi dan sangat mempercayai asumsinya sendiri

Orang yang lemah EQ biasanya cepat untuk berasumsi dan beropini. Tanpa mencari bukti, ia selalu mempercayai asumsinya.

Bahkan ketika sudah ditemukan fakta dan kebenarannya pun, kalau itu bertentangan dengan asumsinya, ia akan menolaknya.

5. Menyimpan dendam

Emosi negatif seperti menyimpan dendam dan keinginan untuk membalas dendam biasanya timbul pada orang yang lemah EQ.

Hal ini merupakan salah satu respons karena tidak mampu mengendalikan stres.

6. Sering jatuh dalam kesalahan yang sama

Orang dengan EQ lemah sulit melupakan kesalahan orang lain maupun kesalahan diri sendiri.

Ia sering jatuh pada kesalahan yang sama tanpa upaya untuk memperbaiki kesalahan itu.

Padahal membiarkan diri terus berada dalam kesalahan yang sama bisa menghancurkan kualitas hidup.

7. Sering salah paham pada orang lain

Salah satu tanda EQ lemah adalah sulit untuk memahami intensi orang lain. Ia sering salah paham akan perkataan maupun perilaku orang lain.

Rasanya sulit baginya untuk berpikir dengan pikiran dan perasaan yang lebih terbuka untuk memahami maksud dan tujuan orang lain kepadanya.

8. Tidak mengenali dirinya sendiri

Semua orang, untuk mengendalikan diri perlu mengenali emosi dan sifatnya. Misalnya hal-hal apa yang membuatnya marah, senang, sedih, dan emosi lainnya.

Nah, orang yang lemah EQ biasanya tidak bisa memahami itu. Itulah sebabnya ia bersikap seperti orang yang tidak memiliki pendirian.

9. Tanpa ekspresi, malah tidak bisa marah

EQ yang baik tidak hanya soal sikap yang manis dan baik, namun juga kemampuan untuk mengekspresikan diri. Jika sedih, menangis.

Kalau senang, ya tertawa. Orang yang lemah EQ tidak mengetahui hal ini. Bahkan ada orang yang tidak bisa menunjukkan kemarahan pada dirinya.

Padahal menyimpan amarah itu tidak sehat.

10.  Menyalahkan orang lain akan apa yang dirasakannya

Emosi manusia itu timbul dari dalam diri, bukan dari luar. Namun orang yang lemah EQ tidak memahami konsep ini.

Untuk hal-hal yang dirasakannya, ia malah menyalahkan orang lain. Ia merasa bahwa orang lain harus bertanggung jawab atas apa yang dirasakannya sendiri.

11. Gampang tersinggung

Orang yang lemah EQ gampang tersinggung karena ia sendiri kurang percaya diri dan pikirannya tertutup.

Bahkan kadang, orang bercanda saja dianggap serius. Akhirnya ia tersinggung hingga menyimpan dendam.

(Tika Anggreni Purba)



Kemenangan Harus Diupayakan


Kemenangan Harus Diupayakan

Oleh: DR. Muhammad Arifin Badri

Nabi Musa 'Alaihissalam tetap diperintahkan berusaha, walau usahanya menurut nalar manusia dan kebiasaan, tiada artinya, yaitu memukulkan tongkat ke lautan.

Allahu Akbar! Tatkala sisa usaha yang bisa ia lakukan diiringi dengan kesempurnaan tawakkal, maka menghasilkan buah yang luar biasa, di luar nalar manusia.

Maryam 'Alaihassalam, yang sedang lapar, dan dalam kondisi lemah karena baru saja melahirkan, diperintahkan untuk berusaha mendapatkan makanan, yaitu menggoyangkan batang pohon kurma.

Hasilnya sungguh luar biasa, walau dengan sisa tenaganya yang lemah, buah kurma masak yang segar berjatuhan di hadapan Maryam.

Padahal Allah Ta'ala berkuasa untuk membelah lautan dan menjatuhkan buah kurma tanpa perlu memerintahkan mereka berdua untuk menjalani usaha yang sangat kecil nilainya.

Demikian pula dengan Rasulullah ketika berhijrah, sejatinya Allah kuasa menyelamatkan beliau tanpa harus bersembunyi di dalam gua yang sempit dan kecil.

Namun itulah Sunnatullah, beliau harus memberi keteladanan bahwa tawakkal bukan berarti berpangku tangan, namun tetap menjalankan usaha bahkan sisa usaha yang masih bisa dilakukan, dan selanjutnya percayakan hasilnya kepada Allah Ta'ala Yang Maha Kuasa.

Orang Kafir akan Kekal di Neraka

Orang Kafir akan Kekal di Neraka

Sebaik apapun orang kafir, dan mati dalam keadaan tetap kafir, maka dia akan kekal di Neraka. Yang menetapkan demikian adalah Allah dan RasulNya.

Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

لا يسمع بي أحد من هذه الأمة يهودي ولا نصراني ثم يموت ولم يؤمن بالذي أرسلت به إلا كان من أهل النار

“Tidaklah seseorang dari umat ini baik dari kalangan Yahudi maupun Nasrani yang mendengar ajaranku kemudian mati dalam keadaan tidak beriman kepada ajaran yang aku bawa, kecuali ia menjadi penghuni neraka” (HR. Muslim).

Beliau pernah melihat lembaran Taurat di tangan Umar bin Khathab radhiallahu’anhu, lalu beliau bersabda:

أمتهوكون يا ابن الخطاب؟ لقد جئتكم بها بيضاء نقية، لو كان موسى حيا واتبعتموه وتركتموني ضللتم

“Apakah engkau termasuk orang yang bingung wahai Ibnul Khathab? Sungguh aku datang kepada kalian dengan membawa ajaran yang putih bersih. andaikan Musa hidup saat ini, lalu kalian mengikuti syariat Nabi Musa dan meninggalkan syariatku, maka kalian akan tersesat.”

dalam riwayat lain:

لو كان موسى حياً ما وسعه إلا اتباعي

“andaikan Musa hidup saat ini, tidak ada kelonggaran baginya kecuali mengikuti syariatku.”

Maka Umar bin Khathab pun mengatakan:

رضيت بالله رباً وبالإسلام ديناً وبمحمد نبياً

“Aku telah ridha Allah sebagai Rabb-ku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad sebagai Nabiku” (HR. An Nasa-i, dihasankan Al Albani dalam Shahih Al Jami', no. 5308).

Maka waspada terhadap paham pluralisme yang berkeyakinan bahwa semua agama sama, yang membahayakan akidah kaum Muslimin.

Kafir

*POLEMIK ISTILAH KAFIR*

Pengertian kafir itu *BUKAN orang yang tdk percaya keberadaan tuhan*, seperti yang dipahami oleh sebagian orang.  Kalau orang tdk percaya keberadaan tuhan itu *“atheis”* namanya.

Kafir itu adalah *istilah dalam agama Islam* (yg tertuang dlm Al Quran dan hadist). Dalam al-Quran, kata kafir dengan berbagai bentuk kata jadinya disebut sebanyak 525 kali.

Kafir (bahasa Arab: ر ف ك) berasal dari kata *kafaru* yang berarti: menutup; ingkar; atau menolak.

Secara harfiah Kafir berarti orang yang *mengingkari atau menolak risalah/kebenaran Islam yang disampaikan oleh nabi Muhammad Saw*.

Menurut Ensiklopedi Islam, sebutan kafir diberikan kepada siapa saja yang mengingkari atau tidak percaya kepada kerasulan nabi Muhammad Saw. 

Sedangkan dalam KBBI; Kafir sebagai orang yang tidak percaya kepada Allah SWT dan rasul-Nya.

Jadi kafir adalah sebuah istilah dalam agama Islam, dimana setiap orang yg *TIDAK MENGIMANI Allah SWT sebagai satu2nya Tuhan, dan Nabi Muhammad SAW sebagai rasul-Nya* disebut kafir.

Kendati orang Yahudi atau Kristen meyakini adanya Tuhan, mengakui adanya wahyu, membenarkan adanya hari akhirat dan lain-lain, mereka (dalam teologi Islam) tetap saja diberi predikat kafir, karena mereka menolak kerasulan nabi Muhammad dan agama wahyu yang dibawanya.

*SIKAP TERHADAP KAFIR*

Menurut syariat Islam (sesuai yg dicontohkan nabi Muhammad), sikap orang muslim terhadap orang non Muslim (kafir) secara umum harus berinteraksi sosial secara baik. Kecuali terhadap Kafir Harbi (yg memusuhi/memerangi Islam). 

Perhatikan negara2 yang warganya mayoritas muslim, disana warga non muslim hidup tenang damai tanpa gangguan.

Sesuai syariat Islam, Orang kafir terbagi menjadi empat macam, yaitu:

1. *Kafir Dzimi*, yaitu orang kafir yang berada di mayoritas Muslim dan mengikuti aturan penguasa islam.

2. *Kafir Muahad*, yaitu orang kafir yang tinggal di negara kafir, yang ada perjanjian damai dengan negara Islam.

3. *Kafir Musta’man*, yaitu orang kafir yang masuk ke negara Islam, dan mendapatkan jaminan keamanan dari pemerintah Islam.

4. *Kafir harbi*, yaitu orang kafir yang memusuhi/memerangi Islam.

Dari keempat macam orang kafir tersebut, hanya “Kafir Harbi” yang *boleh diperangi* dan halal darahnya untuk ditumpahan.

Ghibah Yang Diperbolehkan

Menceritakan ‘aib orang lain tanpa ada hajat sama sekali, inilah yang disebut dengan ghibah. Karena ghibah artinya membicarakan ‘aib orang lain sedangkan ia tidak ada di saat pembicaraan. ‘Aib yang dibicarakan tersebut, ia tidak suka diketahui oleh orang lain.

Ghibah dibolehkan jika ada tujuan yang syar’i yaitu dibolehkan dalam enam keadaan sebagaimana dijelaskan oleh Imam Nawawi rahimahullah. Enam keadaan yang dibolehkan menyebutkan ‘aib orang lain adalah sebagai berikut:

1- Mengadu tindak kezaliman kepada penguasa atau pada pihak yang berwenang. Semisal mengatakan, “Si Ahmad telah menzalimiku.”

2- Meminta tolong agar dihilangkan dari suatu perbuatan mungkar dan untuk membuat orang yang berbuat kemungkaran tersebut kembali pada jalan yang benar. Semisal meminta pada orang yang mampu menghilangkan suatu kemungkaran, “Si Rahmat telah melakukan tindakan kemungkaran semacam ini, tolonglah kami agar lepas dari tindakannya.”

3- Meminta fatwa pada seorang mufti seperti seorang bertanya mufti, “Saudara kandungku telah menzalimiku demikian dan demikian. Bagaimana caranya aku lepas dari kezaliman yang ia lakukan.”

4- Mengingatkan kaum muslimin terhadap suatu kejelekan seperti mengungkap jeleknya hafalan seorang perowi hadits.

5- Membicarakan orang yang terang-terangan berbuat maksiat dan bid’ah terhadap maksiat atau bid’ah yang ia lakukan, bukan pada masalah lainnya.

6- Menyebut orang lain dengan sebutan yang ia sudah ma’ruf dengannya seperti menyebutnya si buta. Namun jika ada ucapan yang bagus, itu lebih baik. (Syarh Shahih Muslim, 16: 124-125)

Kalau kita perhatikan apa yang dimaksud oleh Imam Nawawi di atas, ghibah masih dibolehkan jika ada maslahat dan ada kebutuhan. Misal saja, ada seseorang yang menawarkan diri menjadi pemimpin dan ia membawa misi berbahaya yang sangat tidak menguntungkan bagi kaum muslimin, apalagi ia Rafidhah, maka sudah barang tentu kaum muslimin diingatkan akan bahayanya. Namun yang diingatkan adalah yang benar ada pada dirinya dan bukanlah menfitnah yaitu menuduh tanpa bukti.

Shale vs Claystone


Claystone is a mud rock that is entirely (or dominantly) clay-sized material.
Claystone is usually massive, and is very soft and can be easily broken with hand pressure.
It will crumble into irregular pieces rather than fissile fragments.




Shale is a mudstone or claystone - AND shale is ‘shaly’. That is, it is fissile or platy, and breaks into very thin fragile sheets. Shale is distinguished from other sedimentary rocks because it is fissile and laminated.

"Laminated" means that the rock is made up of many thin layers.
"Fissile" means that the rock readily splits into thin pieces along the laminations.

The only difference between Mudstone/Claystone and Shale is that mudstones break into blocky pieces whereas shales break into thin chips with roughly parallel tops and bottoms. Both are made of ancient mud.




Dampingi Anak Sholat Di Masjid

TIPS membawa anak kecil ke masjid agar tidak gaduh mengganggu jamaah shalat.

1. Sebelum berangkat jelaskan apa itu masjid dan bagaimana seharusnya anak bersikap di masjid.

2. jangan biarkan anak anda membawa serta atau mengantongi mainan ketika hendak berangkat ke masjid.

3. Persiapkan pakaian anak agar mengenakan pakaian untuk shalat bukan pakaian untuk bermain.

4. Sesampai di masjid, gandeng tangan anak agar ikut masuk masjid.

5. Dudukkan anak di sebelah anda.

6. Jangan biarkan anak anda duduk atau berdiri shalat di sebelah sesama anak kecil.

7. Bila anak mencuri kesempatan dan keluar dari masid atau membuat gaduh di masjid, segera cari anak anda dan gandeng kembai tangannya untuk masuk ke masjid dan duduk di sebelah anda.

8. Jangan lupa untuk kembali mengingatkan adab di masjid yang seharusnya dilakukan anak anda.

9. Ketika shalat didirikan, kondisikan agar anak ikut mendirikan shalat di sebelah anda, sehingga anda bisa mengawasi dan membimbingnya bila di tengah shalat anak anda membuat kegaduhan atau bermain.

10. Selesai shalat lakukan evaluasi terhadap sikap anak selama di masjid, dan sampaikan hasil evaluasi anda kepada anak.

11. Jangan lupa mengapresiasi anak bila dia bersikap baik.

12. Kadang kala beri hadiah atau hukuman yang mendidik atas prestasi dan kegagalannya.

13. Selalu panjatkan doa untuk anak anda agar menjadi anak yang rajin mendirikan shalat.

Nabi Ibrahim alaihissalam saja rajin berdoa untuk anaknya agar menjadi penegak shalat

رب اجعلني مقيم الصلاة ومن ذريتي ربنا وتقبل دعاء 

Wahai Rab-ku jadikanlah aku penegak shalat dan juga anak keturunanku, wahai Rab kami kabulkanlah doa kami (Ibrahim 40)

14. Sering sering kisahkan cerita para ulama' yang rajin shalat dan juga keutamaan shalat berjamaah di masjid, termasuk keutamaan masjid.

15. Sampaikan kepada anak anda apa impian anda tentang masa depan anak anda dengan ibadah shalat.

16. Lakukan semua kiat di atas dengan ikhlas sebagai satu kewajiban mendidik anak.

17. Tunaikan semua kiat di atas dengan lemah lembut.

18. Oh iya, jangan lupa bantu menyusun kegiatan anak agar sesuai dengan jadwal shalat fardhu.

19. Dan penting sekali anda mengoreksi diri, sudahlah anda memberi keteladanan kepada anak anda?

Semoga bermanfaat.

Keutamaan Umat Nabi Muhammad SAW

Keutamaan Umat Nabi Muhammad SAW

Umat nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wasallam adalah umat yang pertama kali dihisab di antara umat-umat yang lain.

Rasulullah shalallahu 'alaihi wasalam bersabda:
"Kita adalah umat terakhir, namun menjadi umat pertama di hari kiamat nanti. Padahal umat-umat terdahulu sudah mendapatkan ajaran Kitabullah sebelum kita, dan kita baru mendapatkan Kitab sesudah mereka." [HR. Bukhari no. 847, dan Muslim no. 1414]

Maksud hadits di atas adalah sekalipun kaum muslimin dari umat Nabi Muhammad adalah umat manusia yang dilahirkan terakhir di dunia, namun pada hari kiamat kelak mereka adalah umat manusia yang pertama kali dikumpulkan, di mintai pertanggungjawaban amal perbuatannya, diberi keputusan, dan dimasukkan ke dalam surga, setelah para Nabi dan Rasul memasukinya. [Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari].

Sebagaimana dijelaskan dalam hadits riwayat Muslim yang lain:
"Kita adalah umat terakhir. Namun kelak kita akan menjadi umat pertama (yang menjalani proses hisab) di hari kiamat, dan kita juga akan menjadi umat yang pertama kali masuk surga." [HR. Muslim no. 1413]

Juga dalam hadits Muslim yang lain dari Abu Hurairah dan Hudzaifah bin Yaman, Rasulullah bersabda:
"Kami adalah penduduk dunia yang terakhir namun menjadi golongan manusia yang pertama kali diadili di hari kiamat nanti sebelum umat-umat lainnya." [HR. Muslim no. 1415]

Formation of Minerals

Formation of Minerals: Where Do Minerals Come From?

Minerals are all around you. They are used to make your house, your computer, even the buttons on your jeans. But, where do minerals come from? There are many types of minerals, and they do not all form in the same way. Some minerals form when salt water on Earth's surface evaporates. Others form from water mixtures that are seeping through rocks far below your feet. Still others form when mixtures of really hot molten rock cool.

Formation from Magma and Lava

You are on vacation at the beach. You take your flip-flops off to go swimming because it is one of the hottest days of the summer. The sand is so hot it hurts your feet, so you have to run to the water. Imagine if it were hot enough for the sand to melt. Some minerals start out in liquids that are that hot.

There are places inside Earth where rock will melt. Melted rock inside the Earth is also called molten rock, or magma. Magma is a molten mixture of substances that can be hotter than 1,000°C. Magma moves up through Earth's crust, but it does not always reach the surface. When magma erupts onto Earth’s surface, it is known as lava. As lava flows from volcanoes it starts to cool. Minerals form when magma and lava cool.

Rocks from Magma

Magma cools slowly as it rises towards Earth’s surface. It can take thousands to millions of years to become solid when it is trapped inside Earth. As the magma cools, solid rocks form. Rocks are mixtures of minerals. Granite is a common rock that forms when magma cools. Granite contains the minerals quartz, plagioclase feldspar, and potassium feldspar. The different colored speckles in the granite are the crystals of the different minerals. The mineral crystals are large enough to see because the magma cools slowly, which gives the crystals time to grow.

The magma mixture changes over time as different minerals crystallize out of the magma. A very small amount of water is mixed in with the magma. The last part of the magma to solidify contains more water than the magma that first formed rocks. It also contains rare chemical elements. The minerals formed from this type of magma are often valuable because they have concentrations of rare chemical elements. When magma cools very slowly, very large crystals can grow. These mineral deposits are good sources of crystals that are used to make jewelry. For example, magma can form large topaz crystals.

Minerals from Lava

Lava is on the Earth's surface so it cools quickly compared to magma in Earth. As a result, rocks form quickly and mineral crystals are very small. Rhyolite is one type of rock that is formed when lava cools. It contains similar minerals to granite. However the mineral crystals are much smaller than the crystals in the granite. Sometimes, lava cools so fast that crystals cannot form at all, forming a black glass called obsidian. Because obsidian is not crystalline, it is not a mineral.

Formation from Solutions

Minerals also form when minerals are mixed in water. Most water on Earth, like the water in the oceans, contains minerals. The minerals are mixed evenly throughout the water to make a solution. The mineral particles in water are so small that they will not come out when you filter the water. But, there are ways to get the minerals in water to form solid mineral deposits.

 Minerals from Salt Water

Tap water and bottled water contain small amounts of dissolved minerals. For minerals to crystallize, the water needs to contain a large amount of dissolved minerals. Seawater and the water in some lakes, such as Mono Lake in California or Utah's Great Salt Lake, are salty enough for minerals to "precipitate out" as solids.

When water evaporates, it leaves behind a solid "precipitate" of minerals, which do not evaporate.  After the water evaporates, the amount of mineral left is the same as was in the water.

Water can only hold a certain amount of dissolved minerals and salts. When the amount is too great to stay dissolved in the water, the particles come together to form mineral solids and sink to the bottom. Salt (halite) easily precipitates out of water, as does calcite. 

Minerals from Hot Underground Water

Cooling magma is not the only source for underground mineral formations. When magma heats nearby underground water, the heated water moves through cracks below Earth's surface.

Hot water can hold more dissolved particles than cold water. The hot, salty solution reacts with the rocks around it and picks up more dissolved particles. As it flows through open spaces in rocks, it deposits solid minerals. The mineral deposits that form when a mineral fills cracks in rocks are called veins. When the minerals are deposited in open spaces, large crystals can form. These special rocks are called geodes. 

Manusia yang Haram Disentuh Api Neraka

Empat Golongan Manusia yang Haram Disentuh Api Neraka

SIAPA yang tak takut mendengar kata ‘Neraka.’ Tak akan ada seorang pun yang mau masuk neraka, sekalipun ia adalah ahli maksiat. Neraka adalah seburuk-buruknya tempat kembali. Karena itu sejatinya Muslim selalu berdoa agar dijauhkan dari panasnya api neraka.

Untuk menjadi penghuni neraka amat mudah, tidak sesulit menjadi penghuni surga. Untuk menjadi ahli neraka cukup sederhana: bermaksiatlah dan jangan pernah taubat. Namun, tentu saja orang beriman tak akan pernah mau meski hanya ‘mampir.’ Orang beriman akan senantiasa berdoa agar dijauhkan dari neraka dan berharap dimasukkan ke surga.

Rasulullah SAW mengabarkan ada beberapa golongan yang tidak akan disentuh oleh api neraka. Seperti dalam hadits berikut:

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Maukah kalian aku tunjukkan orang yang Haram baginya tersentuh api neraka?” Para sahabat berkata, “Mau, wahai Rasulullah!” Beliau menjawab: “(Yang Haram tersentuh api neraka adalah) orang yang Hayyin, Layyin, Qarib, Sahl.”
(HR. At-Tirmidzi & Ibnu Hibban, dishahihkan Al-Albani).

Lalu apa maksud dari keempat golongan yang disebutkan dalam hadits tersebut?

Pertama, Hayyin

Orang yang memiliki ketenangan dan keteduhan lahir maupun batin. Tidak labil dan gampang marah, penuh pertimbangan. Tidak mudah memaki, melaknat serta teduh jiwanya.

Kedua, Layyin

Orang yang lembut dan santun, baik dalam bertutur-kata atau bersikap. Tidak kasar, tidak semaunya sendiri. Tidak galak, tidak suka memarahi orang yang berbeda pendapat dengannya. Tidak suka melakukan pemaksaan pendapat. Lemah lembut dan selalu menginginkan kebaikan untuk sesama manusia.

Ketiga, Qarib

Akrab, ramah diajak bicara, menyenangkan bagi orang yang diajak bicara. Wajah yang berseri-seri dan murah senyum jika bertemu serta selalu menebar salam.

Keempat, Sahl

Orang yang tidak mempersulit sesuatu. Selalu ada solusi bagi setiap permasalahan. Tidak suka berbelit-belit, tidak menyusahkan dan tidak membuat orang lain susah.

Wallahu a'lam.

AZAB TIDAK HANYA UNTUK PELAKU KEZALIMAN

AZAB DAN BENCANA TIDAK HANYA UNTUK PELAKU KEZALIMAN

Dalam Al-Quran surat Al- Anfaal ayat 25, Allah SWT berfirman :

{وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ } [الأنفال: 25]

“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kalian. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.”

Mengomentari ayat ini, Ibnu ‘Abbas berkata, “Allah memerintahkan kepada kaum Mukminin agar tidak mendiamkan saja kemungkaran terjadi di sekitar mereka sehingga azab tidak menimpa secara merata kepada mereka.

عَنْ زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ أَنَّهَا سَأَلَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ لَهُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَنَهْلِكُ وفينا الصَّالِحُونَ؟ قَالَ: (نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ”.

Di dalam Shahih Muslim dari Zainab binti Jahsy bahwasanya ia bertanya kepada Rasulullah SAW,

“Wahai Rasulullah, apakah kami akan dibinasakan padahal ada orang-orang shalih di tengah kami?” Beliau menjawab, “Ya, bila keburukan telah demikian banyak.”

Ayat tersebut menyiratkan bahwa siksaan atau azab yang ditimpakan Allah sebagai balasan atas kezaliman yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok kecil orang tidak saja menimpa si pelaku kezaliman tetapi bisa juga menimpa orang-orang lain yang tidak bersalah atau tidak terlibat dalam kezaliman tersebut.

Orang-orang yang tidak bersalah sering harus turut menanggung penderitaan yang timbul sebagai azab atas kezaliman yang dilakukan orang lain.

Imam Ahmad meriwayatkan:

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “إِذَا ظَهَرَتِ الْمَعَاصِي فِي أُمَّتِي، عَمَّهم اللَّهُ بِعَذَابٍ مِنْ عِنْدِهِ”. فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَمَا فِيهِمْ أُنَاسٌ صَالِحُونَ؟ قَالَ: “بَلَى”، قَالَتْ: فَكَيْفَ يَصْنَعُ أُولَئِكَ؟ قَالَ: “يُصِيبُهُمْ مَا أَصَابَ النَّاسُ، ثُمَّ يَصِيرُونَ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ”

Dari Ummu Salamah, dia berkata :

“Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Bila perbuatan-perbuatan maksiat di tengah umatku telah nyata, maka Allah akan menimpakan azab-Nya kepada mereka secara merata.” Ia berkata, “Lalu aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bukankah di tengah mereka itu ada orang-orang yang shalih?’ Beliau menjawab, “Benar.”
Ia berkata lagi, “Bagaimana jadinya mereka?” Beliau bersabda, “Apa yang menimpa orang-orang akan menimpa mereka juga, kemudian nasib akhir mereka mendapatkan ampunan dan keridlaan dari Allah.” (HR Ahmad)

Wallahu a'lam.

CIRI-CIRI ORANG BAIK

CIRI-CIRI ORANG BAIK

Mau Tahu Orang Itu Baik atau Tidak? Begini cirinya :

1. Orang Baik cenderung LEBIH BANYAK TERSENYUM. Percaya atau tidak, kebaikan seseorang bisa ditunjukkan dari cara dia tersenyum. Mengapa? Karena semakin banyak orang tersenyum, maka Hawa Positif akan bertebaran di sekitarnya. Selain itu, dengan tersenyum, orang akan terkesan lebih ramah dan bisa dipercaya.

2. Pikiran-pikiran negatif jarang menghinggapi orang baik, sedangkan orang jahat biasanya diliputi rasa iri hati dan dengki.
Orang Baik akan selalu MENANAMKAN PIKIRAN POSITIF dalam hidupnya. Bahkan saat dia mengalami masa-masa sulit sekalipun. Berbeda dengan orang jahat, saat kita berbicara dengannya akan banyak pikiran-pikiran atau gagasan buruk yang dia tebarkan. Bahkan dia bisa menyebar hawa iri dengki di sekitar kita. Sehingga suasana jadi tidak nyaman.

3. Lihat seberapa sering seseorang mengganti nomor handphone. Orang Baik, jarang mengganti nomor handphonenya. Mungkin pada awalnya terdengar konyol dan main-main. Tapi percayalah orang baik JARANG MENGGANTI NO HP NYA.  Mereka beranggapan jika suatu saat orang membutuhkannya, gonta-ganti nomor handphone bisa menjadi petaka tersendiri. Orang akan kesulitan mencari nomornya dan kehilangan satu kesempatan untuk menolong orang. Jika ada sebagian orang yang beralasan mengganti nomor ponsel untuk menghindari gangguan, Orang Baik tidak akan merasa dirugikan dengan apapun yang orang lain lakukan padanya.

4. Orang Baik biasanya lebih sering MENYAPA DULUAN. Orang Baik tidak akan keberatan untuk menyapa semua orang, bahkan terhadap orang yang berbuat jahat sekalipun. Orang Baik selalu terhindar dari rasa ingin dicari dan dibutuhkan. Dia biasanya tidak membutuhkan pengakuan orang atas kinerjanya selama ini.

5. Orang Baik TIDAK INGIN MENUNJUKKAN BAHWA DIA BAIK. Tapi orang jahat akan selalu membangun citra baik untuk dirinya.

6. Orang Baik selalu PINTAR MENGENDALIKAN EMOSI. Mereka terlihat sangat sabar dan toleran. Tidak mengutamakan kepentingan diri sendiri. Sebaliknya selalu mengutamakan kepentingan orang lain.

7. Orang Baik akan bercerita atau MEMBAGIKAN HAL-HAL YANG BERMANFAAT dengan tujuan memberi tahu. Bukan untuk meyakinkan orang lain bahwa hanya dirinyalah yang benar.

8. Orang Baik selalu merapal 3 kata sakti. Yaitu MAAF, TOLONG, dan TERIMA KASIH.

9. Orang Baik tidak akan keberatan untuk mengakui kelebihan orang lain. Apalagi jika dia merasa salah. Mereka tidak akan segan-segan untuk MEMINTA MAAF DAN MEMPERBAIKI KESALAHAN. Berbeda dengan orang jahat yang memiliki gengsi tinggi dan menganggap dirinya selalu benar. Jangankan mengaku salah, menganggap orang lain berprestasi saja gengsi. Ada saja alasannya untuk menjatuhkan orang lain.

Semoga ciri-ciri Orang Baik ada pada diri kita.

Kegemukan dalam Pandangan Islam

"...makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (QS. Al Araf:31)

Di sekitar kita banyak ditemui orang-orang yang berbadan gemuk dan berat di atas batas normal. Mereka yang berbadan gemuk cenderung banyak makan, bertubuh kurang sehat, tidak maksimal bergerak, kurang beraktivitas, dan mudah sakit. Bahkan sebagian malas beribadah.

Banyak ibadah yang menjadi terganggu karena badan kegemukan. Oleh karena itu Islam cenderung memandang negatif terhadap orang yang kegemukan.

Dalam sahih Bukhari dan Muslim, dari ‘Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Yang paling baik dari kalian adalah orang yang hidup di masaku, kemudian masa setelahnya, kemudian setelahnya. Sesungguhnya pada masa yang akan datang ada kaum yang suka berkhianat dan tidak bisa dipercaya, mereka bersaksi sebelum diminta kesaksiannya, bernazar tapi tidak melaksanakannya, dan nampak pada mereka kegemukan."

Dalam riwayat Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Kemudian datang kaum yang suka menggemukkan badan, mereka bersaksi sebelum diminta bersaksi.”

Imam Al Qurthubi rahimahullah berkata, “Hadits ini adalah celaan bagi orang gemuk, karena gemuk yang disengaja disebabkan banyak makan, minum, santai, foya-foya, selalu senang, dan terlalu mengikuti hawa nafsu. Ia adalah hamba bagi dirinya sendiri dan bukan hamba bagi Tuhannya, orang yang hidupnya seperti ini pasti akan mudah terjerumus kepada yang haram, dan semua daging yang tumbuh di badannya dari yang haram maka neraka adalah tempat yang tepat yang layak baginya. Allah -subhanahu wa ta’aalaa- telah mencela orang kafir karena banyak makan, dalam firman-Nya:
“Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan Jahannam adalah tempat tinggal mereka.” (QS Muhammad:12)

Maka jika seorang mukmin meniru mereka dan menikmati kenikmatan dunia setiap saat, lantas dimana hakikat keimanan dan pelaksanaan Islam pada dirinya? Barangsiapa yang banyak makan dan minum, maka ia akan semakin rakus dan tamak, bertambah malas dan banyak tidur di malam hari. Siang harinya dipakai untuk makan dan minum, sedangkan malamnya hanya untuk tidur. (Jami’ li Ahkam Al-Qur’an 13/394)

Dalam hadits lain dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
"Sesungguhnya akan didatangkan seseorang yang sangat gemuk pada hari kiamat, akan tetapi timbangannya disisi Allah tidak seberat sayap lalat. Bacalah firman Allah: “Dan kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.” (Shahih Bukhari dan Muslim)

Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu pernah bertemu seseorang di jalan, dan bertanya kepadanya.
“Kenapa perutmu besar seperti ini?” tanya Umar bin Khattab radhiyallahu ‘Anhu.

“Ini karunia dari Allah,” jawab orang tersebut.

“Ini bukan berkah, tapi azab dari Allah!” seru Umar.

Ia pun melanjutkan, “Hai sekalian manusia, hai sekalian manusia. Hindari perut yang besar. Karena membuat kalian malas menunaikan shalat, merusak organ tubuh, menimbulkan banyak penyakit. Makanlah kalian secukupnya. Agar kalian semangat menunaikan shalat, terhindar dari sifat boros, dan lebih giat beribadah kepada Allah.”

Seburuk-buruk Manusia di Hari Kiamat

Diceritakan dari Aisyah –radliyallahu anha-, sesungguhnya Rasulullah –shallallahu alayhi wa sallam—bersabda:

إِنَّ شَرَّ النَّاسِ عِنْدَ اللهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ تَرَكَهُ أَوْ وَدَعَهُ النَّاسُ اتِّقَاءَ شَرِّهِ

"Sesungguhnya sejelek-jelek kedudukan manusia di sisi Allah di hari kiamat ialah orang yang ditinggalkan manusia lain karena takut akan kejelekannya." (HR. Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Penjelasan Hadits
Setiap manusia di hari kiamat nanti mempunyai kedudukan sendiri-sendiri, sesuai dengan amal perbuatan mereka selama di dunia. Allah berfirman:
"Dan bagi setiap manusia, beberapa derajat dari apa yang mereka kerjakan." (QS. Al-An'am: 132).

Manusia yang mempunyai amal yang paling baik, akan memperoleh derajat tertinggi nanti di akhirat. Dan sebaliknya, manusia yang mempunyai amal terburuk, akan mendapat derajat terendah. Di antara derajat tertinggi dan terendah terdapat derajat-derajat lain yang mempunyai selisih tingkat antara satu dengan yang lain, sesuai dengan amal yang dilakukan.

Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam menjelaskan bahwa seburuk-buruk derajat manusia di hari kiamat ialah orang yang ditinggalkan orang lain, bukan karena ia tidak mempunyai kebaikan, atau manfaat yang dapat diambil, tetapi karena takut akan keburukan dirinya, dan khawatir akan sifat negatif yang timbul darinya.

Penciptaan Manusia


Manusia punya dua unsur yang berbeda yang melekat pada dirinya. Unsur jasadiyah dan unsur ruhiyah, atau biasa disebut jasmani dan rohani, atau material dan spiritual.

Jasad/fisik manusia diciptakan dari materi bumi atau materi dunia yaitu tanah.

"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk." (QS. Al-Hijr : 26)

"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah." (QS. Al-Mu'minun : 12)

"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: 'Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.' Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku." (QS. Shod : 71-72)

Spirit (roh) manusia ditiupkan langsung oleh sang Khalik kepada manusia.

Yang menarik, dalam Al Quran, proses penciptaan jasmani lebih sering disebut di beberapa ayat daripada tiupan roh.

Sepertinya sang Khalik sengaja membuatnya menjadi misteri dan menyuruh kita untuk lebih sering mencari jawaban tentang rohnya sendiri.

Kedua unsur ini sama-sama membutuhkan nutrisi atau pasokan supaya tetap survive. 

Karena jasad berasal dari tanah maka nutrisinyapun berasal dari tanah. Semua makanan dan minuman yang dikonsumsi manusia tidak lepas dari unsur tanah. Tanpa bantuan material dari tanah, sayuran, buah, lauk, daging, air, hewan penghasil susu tak akan tumbuh dan berkembang.

Berbeda dengan jasmani yang berasal dari tanah, roh manusia ditiupkan langsung olehNya. Yang jadi pertanyaan, apa dan dari mana nutrisi yang paling tepat yang dibutuhkan oleh roh?

Apakah dari unsur tanah yang dibuat sendiri oleh manusia berupa kesenangan dunia dengan segala kerelatifan dan kenisbiannya atau mencarinya langsung kepada Dzat yang pernah meniupkannya?

Mumpung masih ada waktu, ayo kita cari jawaban dari misteri ini.

Ghouta, Benteng Umat Islam di Akhir Zaman



“Sesungguhnya benteng kaum muslimin di hari perang besar terjadi berada di Ghouta (nama sebuah tempat di negeri Syam), berada di samping kota yang disebut Damaskus, Ia adalah kota terbaik yang ada di Syam.” (HR. Abu Dawud, no. 4298 dan Ahmad, no. 21725)

Dalam beberapa hari belakangan ini, Ghouta kembali menjadi sorotan media internasional. Pasalnya, distrik yang terletak di pinggiran Damaskus itu hingga kini masih terus dihujani bom oleh pasukan rezim Suriah dan sekutunya.

Menurut Syrian Observatory for Human Rights (SOHR), lebih dari 500 penduduk sipil terbunuh dalam bombardir udara rezim Suriah yang dimulai sejak 18 Februari.

Ghouta Timur merupakan wilayah kelompok mujahidin terakhir yang berada di bawah kepungan rezim Assad sejak 2013. Secara geografis, Ghouta Timur berada di jarak 10 kilometer sebelah timur dari pusat kota Damaskus, ibu kota Suriah. Ghouta Timur merupakan rumah bagi sekitar 400 ribu warga sipil, yang setengahnya terdiri dari anak-anak. Sudah tujuh tahun lebih, wilayah ini telah menjadi basis perjuangan mujahidin Suriah melawan tirani rezim Bassar Assad yang berkuasa.

Nubuwat Nabi, Ghouta Benteng Terakhir Kaum Muslimin

Selain dikenal sebagai wilayah yang makmur dengan hasil buminya, Ghouta juga termasuk salah satu kota yang disebut-sebut oleh Nabi sallallahu a’laihi wasallam sebagai benteng terakhir umat Islam di akhir zaman. Ia menjadi tempat perlindungan kaum muslimin ketika meletusnya perang di akhir zaman. Karena itu, dalam beberapa riwayat lain ketika menyebutkan keutamaan negeri Syam, secara spesifik Rasulullah sallallahu a’laihi wasallam menyatakan bahwa Ghouta merupakan kota terbaik di antara kota-kota yang ada di wilayah Damaskus.

Dalam riwayat Abu Darda’ disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ فُسْطَاطَ الْمُسْلِمِينَ يَوْمَ الْمَلْحَمَةِ بِالْغُوطَةِ إِلَى جَانِبِ مَدِينَةٍ يُقَالُ لَهَا دِمَشْقُ مِنْ خَيْرِ مَدَائِنِ الشَّامِ

“Sesungguhnya benteng kaum muslimin di hari perang besar terjadi berada di Ghouta (nama sebuah daerah di Syam), berada di samping kota yang disebut Damaskus, Ia adalah kota terbaik yang ada di Syam.” (HR. Abu Dawud, no. 4298 dan Ahmad, no. 21725)

Dalam Kitab ‘Aunul Ma’bud, Syaikh Muhammad Syamsul Haq Azim Abadi menjelaskan, “Maksud dari fustatul muslimin adalah benteng kaum muslimin digunakan sebagai tempat untuk melindungi diri tempat naungan pada hari terjadinya perang besar (malhamah kubro) pada masa fitnah-fitnah yang akan datang.” (‘Aunul Ma’bud, 14/317)

Al-‘Alqami berkata, “Hadis ini menunjukkan keutamaan Damaskus dan masyarakat yang ada di dalamnya pada akhir zaman. Tempat tersebut adalah benteng dari segala fitnah. Di antara keutamaannya lebih dari sepuluh ribu sahabat nabi yang tinggal di daerah tersebut.” Demikian juga Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah mengunjungi wilayah ini sebelum di utus menjadi nabi dan setelahnya ketika peristiwa Isra’ Mi’raj dan Perang Tabuk.

Thaifah Manshurah (Kelompok Manusia Pilihan Allah) Ada di Ghouta?

Dalam berbagai hadits shahih telah dijelaskan bahwa akan senantiasa ada sekelompok umat Islam yang berpegang teguh di atas kebenaran. Mereka berpegang teguh dengan petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah, memperjuangkan tegaknya syariat Islam. Kelompok ini disebut oleh Nabi sebagai Thaifah manshurah, yaitu sekelompok manusia pilihan yang mendapat jaminan dari Allah berupa pertolongan dan kemenangan.

Kelompok ini diawali dari Rasulullah sallallahu a’laihi wasallam beserta segenap sahabat, berlanjut dengan generasi-generasi Islam selanjutnya, sampai pada generasi Islam yang menyertai perjuangan Imam Mahdi dan Nabi Isa ‘alaihissalam dalam memerangi Dajjal dan memerintah dunia berdasar syariat Islam.

Dalam sebuah riwayat tentang kelompok ini, Rasulullah sallallahu a’laihi wasallam bersabda, “Akan senantiasa ada sekelompok umatku yang berperang di atas kebenaran. Mereka meraih kemenangan atas orang-orang yang memerangi mereka, sampai akhirnya kelompok terakhir mereka memerangi Dajjal.” (HR. Abu Daud)

Lalu dalam riwayat lain Nabi menyebutkan:
“Akan senantiasa ada satu kelompok dari umatku yang meraih kemenangan di atas kebenaran. Orang-orang yang memusuhi mereka tidak akan mampu menimpakan bahaya kepada mereka sampai datangnya kiamat.” Mu’adz berkata, “Mereka adalah penduduk Syam.“ (HR. Bukhari)

Penafsiran sahabat Mu’adz bin Jabbal di atas dipegang oleh sebagian besar para ulama salaf. Di antaranya Imam Ahmad bin Hambal, Ibnu Qudamah dan Ibnu Rajab. (lihat: Majmu’ Rasail Ibnu Rajab, 3/204)

Imam At-Tiibi berkata, “Mereka adalah penduduk Syam dan negara-negara yang ada di belakangnya. dan ini termasuk dari mukjizat yang nampak, sifat yang disebutkan dalam hadits senantiasa ada—segala puji bagi Allah Ta’ala—sejak zaman Nabi sallallahu a’laihi wasallam sampai sekarang ini. dan mereka tetap akan eksis hingga datangnya hari kiamat.”

Rasulullah sallallahu a’laihi wasallam bersabda, “Syam akan terbuka untuk kamu. Jika kamu diberi pilihan tempat tinggal, maka pilihlah tempat tinggal di kota yang bernama Damaskus. Ia adalah benteng Muslimin dari pertempuran dan kekuatan mereka bersumber dari sana di tempat yang bernama Ghouta.” (HR. Ahmad no. 17470)

Kemudian dalam riwayat lain, sahabat Auf bin Malik al-Asyja’i mengisahkan bahwa Rasulullah sallallahu a’laihi wasallam bersabda, “Akan terjadi gencatan senjata’ (perdamaian) antara kalian dengan Bani Ashfar (bangsa pirang), lalu mereka mendukung kalian di bawah 80 panji (raayah). Pada setiap panji terdiri dari 12.000 prajurit. Benteng umat Islam saat itu adalah di wilayah yang disebut Ghouta; daerah sekitar kota Damaskus.” (Shahih, HR. Imam Ahmad, dishahihkan oleh Ahmad Syakir)

Jika kota Ghouta yang hari ini sedang dibombardir oleh pasukan rezim Bashar Assad disebut oleh Nabi sebagai benteng kaum muslimin di akhir zaman, mungkinkah di tempat ini akan eksis sekelompok umat pilihan yang dijanjikan kemenangan oleh Allah? Wa’allahu a’lam!

Yang pasti kota Ghouta merupakan salah satu kota yang pernah terucapkan oleh Nabi sallallahu a’laihi wasallam ketika menyebutkan keutamaan negeri Syam. Sama seperti keutamaan kota Makkah, Madinah dan Palestina yang sering disebutkan dalam al-Quran dan Hadis. Karena itu, tempat yang bernama Ghouta menjadi salah satu wilayah yang memiliki ikatan erat dengan aqidah umat Islam. Sehingga mempertahankan kota Ghouta menjadi tanggung jawab seluruh umat Islam. Wallahu a’lamu bisshowab.

Bahaya Sekulerisasi Ilmu


“Besok besar saya ingin menjadi ahli ilmu agama”. Itulah jawaban seorang murid ketika ditanya tentang cita-citanya kelak. Jawaban demikian boleh jadi lumrah belaka. Tetapi jika dicermati, segera terasa pandangan terhadap ilmu yang perlu dikaji kembali.

Munculnya istilah ilmu agama menandaskan seolah ada ilmu non-agama. Anggapan selanjutnya biasanya bahwa belajar ilmu agama itu berpahala, sementara belajar ilmu non-agama tidak akan berpahala. Ada cara pandang dikotomik antara ilmu agama dan ilmu umum.

Semestinya tidak ada istilah ilmu agama. Agama bukan ilmu, melainkan ilmu adalah bagian dari agama. Agama yang melahirkan ilmu. Dan setiap ilmu harus ditegakkan di atas pondasi agama. Surah Al-Mujadilah ayat 11 tegas menyatakan bahwa ilmu harus diawali dengan iman. “Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman dan berilmu di antara kamu beberapa derajat.”

Tetapi sebagian orang menganggap bahwa ilmu agama sebatas pelajaran fiqih, tauhid, akidah, tasawuf, tarikh, akhlak, bahasa Arab, dan lainnya. Ilmu geografi, ekonomi, psikologi, sosiologi, filsafat, sastra, seni, biologi, fisika, matematika, kimia, dan serupanya dipandang sebagai bukan ilmu agama, atau bahkan tidak ada kaitannya dengan agama.

Itulah awal dari sekulerisasi ilmu. Islam memandang ilmu secara utuh dan menyatu. Umat Islam dianjurkan untuk menuntut ilmu. Dan Allah akan mengangkat derajat orang-orang berilmu tanpa dibedakan jenis ilmunya. Yang penting ilmu tersebut harus tegak di atas keimanan.

Cermati konsep manusia ideal (ulul albab) menurut Al Quran. Manusia ideal adalah orang-orang yang selalu berzikir kepada Allah, memikirkan penciptaan langit dan bumi. “(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring. Mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata, Ya Tuhan kami, tidak Engkau ciptakan ini semua dengan sia-sia. Maha Suci Engkau. Maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Ali Imron: 191).

Jadi, di antara ciri manusia ideal adalah selalu berzikir, memikirkan penciptaan langit dan bumi. Tetapi mungkinkah manusia akan mampu memikirkan penciptaan langit dan bumi tanpa berbekal perangkat keilmuan seperti biologi, fisika, matematika, kimia, dan lainnya? Menafsirkan ayat-ayat kauniyah pun meniscayakan mufasir untuk menguasai ilmu-ilmu tersebut.

Itulah kenapa wahyu yang pertama kali turun adalah perintah membaca (Al-Alaq: 1-5). Membaca tentu meliputi apa saja, termasuk geografi, ekonomi, psikologi, sosiologi, filsafat, sastra, seni, biologi, fisika, matematika, kimia, dan seterusnya.

Sekulerisasi ilmu melahirkan anggapan bahwa yang disebut ulama hanya terbatas mereka yang menguasai ilmu syariah (fiqih). Sementara profesor geografi, ekonomi, psikologi, sosiologi, filsafat, sastra, seni, biologi, fisika, matematika, kimia, cukup disebut sebagai ilmuwan, bukan ulama. Padahal Al-Quran tidak pernah membatasi siapa penyandang gelar ulama. “Sungguh yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanya ulama. Sungguh Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Fathir: 28).

Ulama dalam ayat ini adalah mereka yang mengetahui kebesaran dan kekuasaan Allah. Dengan kata lain, pakar di bidang apa saja, sepanjang kepakaran itu membuatnya semakin takut kepada Allah, merekalah ulama. Ulama bukan hanya para pakar fiqih, tauhid, akidah, tasawuf, tarikh, akhlak, bahasa Arab, melainkan siapa saja yang mendayagunakan pikiran dan nuraninya untuk menguak kebesaran Allah dengan landasan keimanan dan ketakwaan.

Sekulerisasi ilmu juga melahirkan kesalahan yang sangat fatal. Misalnya, yang dituntut mampu membaca dan memahami Alquran hanya mereka yang belajar di pesantren atau kampus Islam. Mereka yang belajar di luar kedua lembaga pendidikan itu, tidak ada urusan dengan bisa atau tidak membaca dan memahami Al Quran. Bahkan sama sekali awam soal agama dan ibadah juga tidak menjadi soal. Karena agama dan ibadah itu bukan bidang kajian mereka.

Jelaslah, ilmu hendak dilepaskan sama sekali dari agama. Mempelajari ilmu hanya untuk ilmu itu sendiri. Padahal tidak ada satu urusan di dunia ini yang boleh dilepaskan dari agama. Jika agama tidak menjadi pondasi tegaknya segala sendi kehidupan, akibatnya ketinggian ilmu seolah terus berpacu dengan maraknya berbagai kasus seperti kita lihat di negeri ini: KKN, tawuran, narkoba, kekerasan, perselingkuhan, plagiarisme, dan kebejatan moral lain.

Sekulerisasi ilmu jelas merupakan muasal kosongnya ilmu dari muatan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Akan berbeda jika pemegang ilmu selalu tegak di atas pondasi agama. Mustahil ia akan menyalahgunakan ilmunya. Karena senantiasa merasa diawasi Allah, sehingga akan berhati-hati dalam setiap ucapan dan tindakan. Itulah esensi ihsan. Yaitu “engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Dan jika engkau tidak melihat-Nya, yakinlah bahwa sungguh Dia melihatmu.” (Bukhari dan Muslim).

Bahaya lain dari sekulerisasi ilmu adalah munculnya para pakar ilmu yang justru memperdahsyat kerusakan di bumi. Mereka paham agama tetapi tidak mengamalkannya. Mereka inilah yang oleh Allah digambarkan seperti keledai membawa kitab.

“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian tidak mengamalkan isinya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab tebal. Amat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” (Al-Jumuah: 5).

Oleh M Husnaini
Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surabaya

Sistem penanggalan Lunar (Komariyah)



Sistem penanggalan Lunar (Qomariyah) yang mengacu pada perputaran bulan terhadap bumi, ditetapkan Allah sebagai dasar penentuan tanggal bahkan sejak alam semesta ini diciptakan. Sistem ini yang digunakan dalam kalender Islam karena terkait kegiatan ibadah rutin tahunan seperti puasa di bulan Ramadhan atau haji di bulan Dzulhijah. Sementara penanggalan Masehi mengacu pada perputaran bumi terhadap matahari, digunakan belakangan oleh bangsa Romawi.

Sistem penanggalan yang "diakui" Allah adalah sistem Qomariyah sebagaimana dalil:
"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa." (QS. At-Taubah:36)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Sesungguhnya zaman ini telah berjalan (berputar) sebagaimana perjalanan awalnya ketika Allah menciptakan langit dan bumi, yang mana satu tahun itu ada dua belas bulan. Diantaranya ada empat bulan haram, tiga bulan yang (letaknya) berurutan, yaitu Dzul Qa'dah, Dzul Hijjah, dan Muharram, kemudian bulan Rajab Mudhar yang berada diantara Jumada (Akhir) dan Sya'ban." (HR. Al Bukhari: 4385 dan Muslim: 1679)

Kenapa disebut bulan Haram:
"Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan haram. Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar." 

Wallahu a'lam.

Pembagian Hati

Firman Allah Ta’ala:

يَوْمَ لا يَنْفَعُ مَالٌ وَلا بَنُونَ إِلا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“(Yaitu) di hari harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan qalbun salim.” (Asy-Syu’araa’: 88-89)

1. HATI SEHAT

Salim artinya sehat. As-Salimul Qalbi adalah hati yang memiliki kesehatan sebagai sifat baku. Salim adalah antonim (lawan kata) dari maridh, saqim dan ‘alil yang berarti sakit.

Manusia menggunakan ungkapan yang berbeda-beda dalam menggambarkan hakikat hati yang sehat ini. Titik temunya adalah bahwa HATI YANG SEHAT adalah YANG TERBEBAS DARI SYAHWAT YANG KONTRADIKTIF DENGAN PERINTAH DAN LARANGAN ALLAH atau yang terbebas dari SYUBHAT.

Ia terbebas dari peribadatan kepada selain Allah dan dari pengambilan keputusan hukum kepada selain Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ia mencintai Allah dengan tulus dan mengikuti ketentuan Rasul-Nya dalam takut, harap, tawakal, dan ketundukan kepada Allah, MENGUTAMAKAN RIDHA-NYA DALAM SETIAP KEADAAN, dan MENJAUHI KEMURKAAN-NYA DENGAN SEGALA CARA. Inilah hakikat ‘ubudiyah yang hanya boleh diberikan kepada Allah.

Hati yang sehat tidak menyekutukan Allah dengan apapun dalam bentuk apapun.

‘Ubudiyahnya murni ditujukan kepada Allah Ta’ala, baik yang berupa kehendak, cinta, tawakal, ikhbat (ketundukan), khauf (takut), dan roja’ (harap).

Ia mengikhlaskan amal untuk Allah. Bila mencintai, ia mencintai karena Allah; bila membenci, ia membenci karena Allah; dan bila memberi, ia memberi karena Allah; dan bila tidak memberi, ia tidak memberi karena Allah.

Baik secara garis besar maupun rinci, YANG MENJADI PANUTAN adalah ajaran yang dibawa oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia tidak mendahului beliau dalam berkeyakinan, berbicara, maupun beramal. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Hujuraat: 1)

Maksudnya:
“Jangan berkata (berpendapat) sebelum beliau berkata dan jangan berbuat sebelum beliau memerintahkan (jangan melakukan amal ibadah kecuali yang diperintahkan).”

Seorang salaf berkata:
“Setiap perbuatan, sekecil apapun, pasti akan ditanya dengan dua pertanyaan, yaitu: MENGAPA dan BAGAIMANA. Yakni, mengapa kamu berbuat dan bagaimana kamu berbuat?”

Pertanyaan pertama berkenaan dengan sebab, motivasi dan latar belakang perbuatan; apakah bertitik-tolak dari kepentingan dan ambisi si pelaku di dunia seperti kesenangan dipuji orang, ketakutan terhadap celaan mereka, keinginan untuk memperoleh sesuatu yang disukai, upaya menghindari sesuatu yang dibenci di dunia; atau perbuatan itu timbul dengan motivasi untuk menunaikan kewajiban beribadah, meraih cinta Allah, mendekatkan diri kepada-Nya, dan mencari jalan menuju ridha-Nya?

Sasaran pertanyaan ini adalah: Anda melakukan perbuatan ini untuk Rabb anda ataukah untuk kepentingan dan hawa nafsu anda sendiri?

Adapun pertanyaan kedua adalah berkenaan dengan mutaba’ah (peneladanan) kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam ibadah tersebut. Artinya, perbuatan tersebut telah disyari’atkan-Nya kepadamu melalui lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam ataukah tidak diperintahkan-Nya sehingga tidak diridhai-Nya?

Yang pertama adalah pertanyaan mengenai ikhlas sedangkan yang kedua adalah pertanyaan mengenai mutaba’ah (teladan dan tuntunan yang diikuti). Sebab, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menerima amal kecuali dengan keduanya (ikhlas dan sesuai tuntutan).

Antisipasi terhadap pertanyaan pertama adalah dengan memurnikan keikhlasan, sedangkan terhadap pertanyaan kedua adalah dengan merealisasikan mutaba’ah dengan sebenar-benarnya. Hati harus bersih dari keinginan yang kontradiktif dengan keikhlasan dan dari nafsu yang kontradiktif dengan mutaba’ah. Inilah hakikat kesehatan bagi hati yang dijamin selamat dan bahagia.”


2. HATI MATI

Ini kebalikan dari yang pertama. Ini adalah hati yang mati, tanpa kehidupan sama sekali. Ia tidak mengenal Rabb serta tidak beribadah kepada-Nya dengan melaksanakan apa yang diperintahkan, dicintai, dan dridhai-Nya.

Sebaliknya, ia SENANTIASA MENGIKUTI HAWA NAFSU sekalipun dimurkai dan dibenci Rabb-nya.

Ia TIDAK PEDULI apakah dengan mengikuti hawa nafsu, Rabb-nya ridha atau murka kepadanya. Ia menghambakan dirinya kepada selain Allah dalam kecintaan, ketakutan, pengharapan, keridhaan, kemurkaan, pengagungan, dan ketundukan.

Bila mencintai, ia mencintai karena nafsu; bila membenci, ia membenci karena nafsu; bila memberi, ia memberi karena nafsu; dan bila menolak, ia menolak karena nafsu juga. Jadi, hawa nafsu lebih diutamakan dan dicintainya daripada ridha Rabb-nya.

Hawa nafsu adalah imamnya, syahwat adalah komandannya, kebodohan adalah pengendalinya, dan kelalaian adalah kendaraannya. Ia senantiasa sibuk berpikir untuk memperoleh ambisi-ambisi duniawi serta DIMABUK OLEH HAWA NAFSU dan CINTA DUNIA.

DARI JAUH, IA DIPANGGIL UNTUK KEMBALI KEPADA ALLAH dan MENGUTAMAKAN KEBAHAGIAAN AKHIRAT, akan tetapi IA ENGGAN MENYAMBUT PANGGILAN SANG PEMBERI NASIHAT, bahkan mengikuti bujukan setan yang durhaka. Murka dan ridhanya tergantung oleh dunia. Hawa nafsu telah menulikan dan membutakannya.

“Setiap umatku akan masuk surga, kecuali orang-orang yang enggan untuk memasukinya. Ada seseorang yang bertanya, siapakah orang yang enggan tersebut wahai Rasulullah ? Beliau bersabda, “Barangsiapa mentaatiku akan masuk surga, barangsiapa tidak taat kepadaku sungguh dia orang yang enggan masuk surga “ (HR. Bukhari)

Bergaul dengan orang yang berhati seperti ini adalah PENYAKIT dan RACUN. Bersahabat dengannya adalah KEBINASAAN.


3. HATI SAKIT


Hati jenis ini adalah hati yang mempunyai kehidupan, tetapi berpenyakit. Kadang-kadanag kehidupan tampak padanya, tetapi kadang-kadang yang tampak penyakitnya, tergantung yang mana di antara keduanya yang sedang dominan.

Dalam hati yang ini, terdapat kecintaan, keimanan, keikhlasan, dan tawakal kepada Allah, yang semua ini merupakan bahan baku kehidupannya. Tetapi di dalamnya juga terdapat kecintaan kepada hawa nafsu, pengutamaan terhadapnya dan ambisi untuk memperolehnya, kedengkian, kesombongan, dan kebanggaan terhadap diri sendiri.

Ia dipengaruhi oleh dua penyeru; yang satu mengajaknya kepada Allah, Rasul-Nya dan negeri akhirat, sedangkan yang lain mengajaknya kepada dunia. Ia mengikuti salah satu dari kedua penyeru itu, (mana) yang pintu dan jaraknya lebih dekat kepadanya.

Hati jenis pertama (Hati Sehat) adalah hati yang khusyu’, lembut dan sehat.

Hati jenis kedua (Hati Mati) adalah hati yang kering dan mati.

Sedangkan hati yang yang sakit, yang bisa jadi lebih dekat kepada kesehatan atau sebaliknya lebih dekat kepada kematian (hati). Allah Ta’ala telah menyebutkan ketiga jenis hati ini dalm firman-Nya:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ وَلا نَبِيٍّ إِلا إِذَا تَمَنَّى أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ فَيَنْسَخُ اللَّهُ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ ثُمَّ يُحْكِمُ اللَّهُ آيَاتِهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ لِيَجْعَلَ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ فِتْنَةً لِلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَفِي شِقَاقٍ بَعِيدٍ وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَيُؤْمِنُوا بِهِ فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ وَإِنَّ اللَّهَ لَهَادِ الَّذِينَ آمَنُوا إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, setan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh setan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh setan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya. Dan sesungguhnya orang-orang yang lalim itu, benar-benar dalam permusuhan yang sangat, dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Qur’an itulah yang hak dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya, dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.” (Al-Hajj: 52-54)

Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala membagi hati menjadi tiga: dua di antaranya terkena fitnah dan hanya satu yang selamat. Dua jenis hati yang terkena fitnah adalah hati yang berpenyakit dan hati yang keras (mati). Sedangkan yang selamat adalah hati orang mukmin yang tunduk dan patuh kepada Rabb-nya. Diharapkan, hati dan anggota badan lain dalam keadaan sehat tanpa penyakit apapun, sehingga bisa berfungsi sebagaimana mestinya.

Hati yang terkena fitnah, senantiasa dalam keraguan disebabkan oleh bisikan setan, tetapi hati yang sehat tidak akan terkena mudharat darinya.

Hudzaifah ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Fitnah-fitnah dibentangkan dan dilekatkan di hati, sebagaimana dibentangkannya serat-serat tikar satu persatu. Hati mana pun yang dirasukinya, niscaya padanya membekas sebuah noda hitam, sedang hati mana pun yang menolaknya, niscaya padanya membekas sebuah titik putih, sehingga seluruh hati akan terbagi menjadi dua: ada hati yang hitam berbintik putih dan seperti kendi yang terbalik, ia tidak mengenal yang ma’ruf dan tidak menolak yang munkar, yang diketahuinya hanyalah hawa nafsu yang dirasukkan kepadanya. Ada pula hati yang putih, ia tidak terkena mudharat fitnah selama ada langit dan bumi.” (HR. Muslim dan Ahmad)

Beliau menyerupakan pembentangan dan pelekatan fitnah di hati seperti serat-serat tikar yang dibentangkan dan dilekatkan satu persatu.

Beliau juga membagi hati pada saat pembentangan fitnah tersebut, menjadi dua yaitu: Ada hati yang ketika fitnah dibentangkan, terasuki olenya sebagaimana bunga karang yang diresapi air. Pada hati tersebut akan timbul sebuah titik hitam. Setiap fitnah yang dibentangkan akan terus meresap padanya, sehingga warnanya menjadi hitam dan posisinya terbalik. Inilah sabda beliau “seperti kendi yang terbalik”. Apabila hati menjadi hitam dan terbalik, maka ia terancam oleh dua penyakit yang berbahaya yang akan mencampakkannya ke dalam kebinasaan, yaitu:

1. Ia akan kabur dalam melihat yang ma’ruf dan yang munkar. Ia tidak mengenal yang ma’ruf dan tidak menolak yang munkar. Bisa jadi penyakit ini semakin parah sehingga ia meyakini yang ma’ruf sebagai kemunkaran dan yang munkar sebagai yang ma’ruf; yang sunnah sebagi bid’ah dan yang bid’ah sebagai sunnah; serta kebenaran sebagai kebatilan dan kebatilan sebagai kebenaran.

2. Ia lebih mengutamakan hawa nafsu daripada ajaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia tunduk dan mengikuti hawa nafsunya.

Ada pula hati yang putih. Cahaya dan pelita-pelita iman memancar dan menyala di dalamnya. Apabila fitnah dibentangkan kepadanya, ia menolak, sehingga cahaya, pancaran dan kekuatannya semakin bertambah.

Fitnah-fitnah yang dibentangkan pada hati merupakan penyebab sakitnya. Itulah fitnah syahwat dan syubhat, atau fitnah al-ghayy (penyimpangan) dan adh-dhalal (kesesatan), atau fitnah maksiat dan bid’ah, atau fitnah kezhaliman dan kebodohan.

Fitnah pertama (fitnah syahwat) mengakibatkan rusaknya maksud dan kehendak. Sedangkan fitnah kedua (fitnah syubhat) mengakibatkan rusaknya lmu dan keyakinan.

Hudzaifah ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Hati itu ada empat: ada hati yang bersih, di dalamnya terdapat pelita yang menyala, itulah hati orang mukmin. Ada hati yang tertutup, itulah hati orang kafir. Ada hati yang terbalik, itulah hati orang munafik, yang telah mengetahui tetapi kemudian menolak dan telah melihat tetapi kemudian buta. Ada pula hati yang terdiri dari dua unsur, yaitu unsur keimanan dan kemunafikan. Keadaannya tergantung kepada salah satu dari kedua unsur tersebut yang paling dominan.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dan Abdullah bin Imam Ahmad. Syaikh Al-Albani berkata: “Hadits ini mauquf shahih.”)

Perkataan beliau “hati yang bersih”, maksudnya adalah hati yang bersih dari selain Allah dan Rasul-Nya. Jadi, hati tersebut bersih dari selain kebenaran.

Adapun hati yang tertutup, adalah hati orang kafir, karena hati tersebut masuk di dalam tutupnya, sehingga cahaya ilmu dan iman tidak bisa mencapainya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَقَالُوا قُلُوبُنَا غُلْفٌ بَلْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَقَلِيلا مَا يُؤْمِنُونَ

“Dan mereka berkata: “Hati kami tertutup”. Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka; maka sedikit sekali mereka yang beriman.” (Al-Baqarah: 88)

Penutup di sini adalah yang dipasang oleh Allah di hati mereka sebagai hukuman atas penolakan mereka terhadap kebenaan dan kesombongan mereka untuk menerimanya.

وَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ جَعَلْنَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِالآخِرَةِ حِجَابًا مَسْتُورًا وَجَعَلْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَنْ يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا وَإِذَا ذَكَرْتَ رَبَّكَ فِي الْقُرْآنِ وَحْدَهُ وَلَّوْا عَلَى أَدْبَارِهِمْ نُفُورًا

“Dan apabila kamu membaca Al Qur’an niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup. Dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan apabila kamu menyebut Tuhanmu saja dalam Al Qur’an, niscaya mereka berpaling ke belakang karena bencinya.” (Al-Israa’: 45-46)

Apabila hati semacam ini diingatkan untuk memurnikan tauhid dan mutaba’ah, para pemiliknya akan berpaling menjauh.

Beliau juga menyebutkan hati yang terbalik sebagai isyarat bagi hati orang munafik. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

فَمَا لَكُمْ فِي الْمُنَافِقِينَ فِئَتَيْنِ وَاللَّهُ أَرْكَسَهُمْ بِمَا كَسَبُوا أَتُرِيدُونَ أَنْ تَهْدُوا مَنْ أَضَلَّ اللَّهُ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ سَبِيلا

“Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri? Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah? Barang siapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya.” (An-Nisaa’: 88)

Artinya, Allah telah membalikkan dan mengembalikan mereka kepada kebatilan mereka semula, DISEBABKAN OLEH USAHA dan PERBUATAN MEREKA YANG BATHIL. Ini adalah hati yang paling buruk. IA MEYAKINI KEBATILAN SEBAGAI KEBENARAN dan MENCINTAI PELAKU KEBATILAN, sebaliknya MENGANGGAP KEBENARAN SEBAGAI KEBATILAN dan MEMUSUHI PARA PELAKU KEBENARAN. Hanya Allah tempat memohon pertolongan.

Sedangkan yang dimaksud beliau dengan hati yang memiliki dua unsur, adalah hati yang di dalamnya terdapat keimanan, akan tetapi pelita keimanan tersebut tidak menyala di dalamnya. Kebenaran yang ada di dalamnya, yang dengannya Allah mengutus Rasul-Nya, tidak murni. Di dalamnya terdapat unsur tersebut dan unsur kebalikannya. Kadang-kadang ia lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan, tetapi kadang-kadang lebih dekat kepada keimanan daripada kekafiran. Yang menentukan adalah unsur yang sedang dominan. Ke situlah ia kembali.

Wallahu a'lam.

Dikutip dari kitab Menyelamatkan Hati dari Tipu Daya Setan (Ighatsatul Lahfan min Mashayidisy Syaithan), karya Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Damaskus, 1292-1349 Masehi