Showing posts with label Sains. Show all posts
Showing posts with label Sains. Show all posts

Pergeseran Medan Magnet

Magnet bumi memiliki dua kutub, yakni kutub utara dan kutub selatan. Kutub magnet bumi memiliki fungsi sebagai kompas alam yang menunjukkan arah utara dan selatan. 

Kedua kutub tersebut ditarik oleh yang namanya medan magnet. Medan magnet melingkar mengelilingi bumi dan disebut sebagai magnetosfer. Memiliki fungsi yang sangat penting karena melindungi planet bumi dari erosi atmosfer oleh radiasi matahari dan dari sinar kosmik dari luar angkasa.

Medan magnet ini sejatinya memiliki gaya magnet yang senantiasa berubah. Hal tersebut turut mempengaruhi perubahan di antara kutub magnet. Selain itu, kekuatannya juga bisa bertambah dan berkurang seiring waktu. Apakah kutub pada magnet bumi pernah berubah? Jawabannya iya. Kutub-kutub magnet pernah berubah selama 300.000 tahun. Lokasi kutub utara dan selatan bergeser secara bertahap. Perlu dicatat bahwa kutub magnetik berbeda dengan kutub geografis (poros rotasi Bumi) yang posisinya selalu tetap. 

Medan magnet Bumi dihasilkan oleh proses geodinamo di dalam perut planet kita. Aliran besi dan nikel cair yang sangat panas di inti luar Bumi terus bergolak menghasilkan arus listrik dan medan magnet. Perubahan arah arus cairan inilah yang mengubah posisi kutub di permukaan. 

Apakah Kutub Magnet Bisa Bertukar Posisi? 

Ya, fenomena ini disebut sebagai pembalikan kutub magnetis (magnetic reversal). Berdasarkan catatan paleomagnetik pada batuan kuno, kutub magnet Bumi telah berbalik arah ratusan kali sepanjang sejarah Bumi (rata-rata terjadi setiap 200.000 hingga 300.000 tahun sekali). Saat pembalikan penuh terjadi, jarum kompas yang biasanya menunjuk ke utara akan berbalik menunjuk ke arah selatan geografis. Proses pembalikan total ini memakan waktu yang sangat lama, mulai dari ribuan hingga puluhan ribu tahun.

Bagi masyarakat awam, dampak fenomena ini umumnya minimal dan hampir tidak terasa secara langsung dalam aktivitas sehari-hari. Namun, para ilmuwan dan instansi global harus melakukan penyesuaian khusus: Setiap lima tahun sekali, badan sains seperti NOAA dan British Geological Survey (BGS) merilis pembaruan World Magnetic Model (WMM). Pembaruan ini penting agar sistem GPS di smartphone, navigasi penerbangan, kapal laut, hingga sistem militer tetap akurat.


Sedimentary Rock Formation


Sedimentary rocks hold important secrets about Earth’s geological and evolutionary history and contain most of the fossil fuel deposits.

What are Sedimentary Rocks?

They are types of rocks, created from deposition of layers upon layers of sediments over time. These types of rocks are formed on the Earth’s surface, as well as underwater. Wherever sedimentation goes on, rocks are formed over time. The sediments that compose these rocks may be of organic, chemical, or mineral origin.

Although, these rocks constitute only 5% of the total crust volume, they extensively cover most continental surfaces. They form a thin cover over the whole crust, holding important geological history, locked within them. Most of the natural energy resources like coal and fossil fuels are contained within the layers of this rock type. Drinking water is extracted and minerals are also mined from these rocks, which are created by millions of years of sedimentation.


Types

Depending on the nature of sediments that create them, these rocks can be classified into three prime types:

Clastic: These are composed of broken down fragments of minerals and remnants of weathered rocks. One example of this type is sandstone. They are mostly made up of quartz, amphiboles, feldspar, clay minerals, and other minerals derived from weathering of igneous and metamorphic rocks.

Biochemical: The deposition of the biological remains of various organisms can create certain types of sedimentary rocks. Some examples are limestone (from the deposition of calcium carbonate, containing remains of corals, foraminifera, and mollusks), stromatolites (formed from deposition of microorganism biofilms of blue green algae), oil shale, and coal shale.

Chemical Precipitate: Sediments formed from deposition of chemical reaction precipitates of mineral solutions are called chemical sedimentary rocks. Their formation occurs when water dissolves many minerals and deposits them on evaporation. Examples of this type are gypsum, barite, rock salt, and sylvite.


The Formation Process Explained

For millions of years, the process of deposition and formation of these rocks has been operational in changing the geological structure of Earth and enriching it. Let us now see how they form.

 

Weathering

The formation process begins with weathering of existent rock , that is exposed to the elements of nature. Wind and water are the chisels and hammers that carve and sculpt the face of the Earth through the process of weathering. The igneous and metamorphic rocks are subjected to constant weathering by wind and water.

These two elements of nature wear out rocks over a period of millions of years, creating sediments and soil from weathered rocks. Other than this, sedimentation material is generated from the remnants of dying organisms.

Transport of Sediments and Deposition

These sediments, generated through weathering are transported by the wind, rivers, glaciers, and seas (in suspended form) to other places in the course of flow. They are finally deposited, layer over layer, by these elements, in some other place.

 

Sedimentary Rock Formation

Gravity, topographical structure, and fluid forces decide the resting place of these sediments. Many layers of mineral, as well as organic and chemical deposits accumulate together for years. Layers of different deposits called bedding features are created from them. Crystal formation may also occur in these conditions.

 

Lithification (Compaction and Cementation)

Over a period of time, as more and more layers are deposited, the process of lithification begins. Two sub-processes that are a part of lithification are compaction and cementation. Compaction is the compression of the sediments under overlying weight of sediments. Cementation is the process of filling in the gaps in sediments, with minerals that gel them together. Crystal formation may occur here too. With these two processes at work, what was a loose layer of deposits, hardens and solidifies to become rock. This is the conclusive stage.

Each layer of these rocks has an imprint or snapshot of Earth as it was at that moment of time. They are libraries of history.

 



Shale vs Claystone


Claystone is a mud rock that is entirely (or dominantly) clay-sized material.
Claystone is usually massive, and is very soft and can be easily broken with hand pressure.
It will crumble into irregular pieces rather than fissile fragments.




Shale is a mudstone or claystone - AND shale is ‘shaly’. That is, it is fissile or platy, and breaks into very thin fragile sheets. Shale is distinguished from other sedimentary rocks because it is fissile and laminated.

"Laminated" means that the rock is made up of many thin layers.
"Fissile" means that the rock readily splits into thin pieces along the laminations.

The only difference between Mudstone/Claystone and Shale is that mudstones break into blocky pieces whereas shales break into thin chips with roughly parallel tops and bottoms. Both are made of ancient mud.




GEOSPARITUAL‬: Spiritual Dalam Teori Relativitas



Prof. Fahmi Amhar
Kepala Riset Bakosurtanal

"Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu." (QS. 32:5)

Apa yang saya pelajari di bangku sekolah tidak ingin semuanya hanya memuaskan secara akademis maupun bermanfaat secara praktis. Saya juga ingin semua yang saya pelajari itu memiliki makna secara spiritual, karena setelah saya mati nanti, hanya nilai kedekatan dengan Tuhanlah yang akan meninggalkan makna.

Pada 1905, Albert Einstein pada usianya yang baru 26 tahun, telah berani memunculkan sebuah teori fisika yang aneh. Salah satu dari tulisan Einstein itu membahas relativitas waktu. Menurutnya, waktu itu relatif. Sebuah makhluk yang memiliki kecepatan mendekati cahaya, atau dia berada di dekat pusat gravitasi yang besar, maka waktu baginya akan mulur.

Kalau seorang astronot melesat dengan roketnya mendekati kecepatan cahaya, maka ketika dia merasa baru menjalani penerbangannya 1 jam, orang yang di bumi mungkin sudah menghitungnya 2 jam. Bahkan bila kecepatannya semakin tinggi, atau dia mendekati black-hole, bisa-bisa dia baru merasa 1 jam, sementara orang yang di bumi sudah menghitungnya 7 tahun.

Di bulan Ramadhan ini Allah sedang mendekatkan diri-Nya pada hamba-hambanya yang terpilih. Mereka yang terpilih ini baru merasakan beramal 1 jam, tetapi nilainya sama dengan 70 jam bagi mereka yang tidak terpilih, atau bagi yang bersangkutan di luar bulan Ramadhan. Bahkan ada malam yang sangat khusus (Lailatul Qadar). Orang yang terpilih, ketika beribadah di malam tersebut, nilainya sama dengan 30.000 malam (1000 bulan, atau 83 tahun).

Di surat Al-Kahfi bahkan Allah mengisahkan sekelompok pemuda, yang mengalami dilasi waktu lebih ekstrim lagi. Mereka baru merasakan tidur di dalam gua sehari atau bahkan setengah hari. Tetapi orang-orang di luar gua mencatatnya 309 tahun. Ketika mereka keluar dari gua, semua orang durhaka yang pernah ingin membunuh mereka sudah meninggal lama, tergantikan dengan orang-orang yang bertaqwa.

Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya diantara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang diantara mereka: "Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini)". Mereka menjawab: "Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari". Berkata (yang lain lagi): "Rabb kamu lebih mengetahui berapa lama kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah dia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemah lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun. (QS. 18:19)

Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi). (QS. 18:25)

Para malaikat bahkan naik ke langit dalam sehari (membawa doa yang kita panjatkan) yang lamanya 1000 tahun atau 50.000 tahun dalam ukuran manusia.

Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu. (QS. 32:5)
Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Rabb dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun. (QS. 70:4)

Karena itu marilah kita menjadikan bulan Ramadhan ini bulan latihan mendekatkan diri kepada-Nya. Allah telah berjanji, "Barangsiapa mendekati-Ku satu jengkal, Aku akan mendekatinya satu hasta. Barangsiapa mendekati-Ku dengan berjalan, Aku akan mendekatinya dengan berlari".

Waktu hidup kita yang sebenarnya, tergantung dari sedekat apa kita kepada Sang Pemilik Waktu, yaitu Allah SWT, atau secepat apa kita berusaha mendekati-Nya, yakni dengan bersegera memenuhi segala seruan-Nya, menjalankan segala perintah-Nya, dan menjauhi segala larangan-Nya.

GUNUNG SADAHURIP BUKAN BANGUNAN PIRAMIDA



Oleh : Sujatmiko
(Sekjen Kelompok Riset Cekungan Bandung dan anggota IAGI)
Bandung, 12 Januari 2012

Gunung Sadahurip adalah sebuah gunung kecil terisolir yang terletak di Desa Sukahurip , Kecamatan Pangatikan, Kabupaten Garut. Tingginya yang  1463 meter di atas permukaan laut, membuat gunung mungil ini tampak menyolok di kejauhan, begitu kita memasuki Kecamatan Wanaraja dari arah Garut . Bentuknya yang mirip dengan bangunan piramida, ditambah dengan mitos penduduk setempat tentang keanehan dan keangkerannya, apalagi diperkuat oleh bisikan-bisikan ghoib, membuat Yayasan Turangga Seta yakin bahwa G. Sadahurip adalah sebuah piramida budaya yang dibangun oleh nenek moyang kita.

Keyakinan mereka kemudian dituangkan dalam suatu hipotesa yang menyimpulkan bahwa selain di G. Sadahurip, terpendam bangunan piramida budaya di gunung-gunung berbentuk piramida lainnya di Jawa Barat antara lain G. Kaledong dan G. Haruman, keduanya di Garut, dan G. Lalakon di Bandung. Hipotesa mereka ini tentu saja mengundang kontroversi khususnya bagi kalangan ilmuwan kebumian mengingat geomorfologi model piramida yang merupakan produk dari proses geologi dan gunung api sangat umum ditemukan di banyak penjuru dunia.

Walaupun demikian, berkat semangat dan kemahiran Yayasan Turangga Seta dalam menyosialisasikan hipotesanya dan memanfaatkan nama besar dari beberapa pakar ilmu kebumian yang di awal penelitian mereka ikut berpartisipasi, maka akhirnya Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana di Binagraha terpancing untuk ikut nimbrung melalui tim bentukannya yaitu Tim Bencana Katastropik Purba. Tim inilah yang beberapa waktu lalu mengklaim telah menemukan Piramida Sadahurip, yang selain tertinggi dan terbesar di dunia, juga tertua yaitu lebih dari 6000 tahun sebelum Masehi.

Pernyataan-pernyataan lainnya yang tak kalah kontroversialnya kemudian dilemparkan ke masyarakat luas antara lain tentang temuan pintu masuk ke ruang piramida di perut G. Sadahurip, dan yang terakhir tentang kehebatan para pendiri piramida yang diyakini telah mampu memindahkan seluruh kandungan batuan yang sebelumnya menyusun lembah Batu Rahong untuk dijadikan bahan bangunan Piramida Sadahurip.

Pernyataan terakhir ini yang sebetulnya dapat dijelaskan dengan konsep ilmu rupa bumi atau geomorfologi mengindikasikan bahwa Tim Bencana Katastropik Purba  tidak dilengkapi dengan tenaga ahli kebumian yang mumpuni, yang selain dapat membaca dan menerjemahkan gejala alam yang telah dan sedang terjadi, juga dapat menjaga martabat dan kehormatan institusi kepresidenan yang seharusnya selalu kita  junjung tinggi.


Gunung Sadahurip asli bentukan alam

Kepastian bahwa G. Sadahurip merupakan bentukan alam murni tanpa campur tangan manusia, apalagi tenaga ghoib, didapat setelah penulis melakukan pengamatan geologi langsung di lapangan pada tanggal 8 Januari 2012. Dalam kegiatan ini tim penulis didukung  dan dikawal oleh Dan Ramil 1103 Wanaraja Garut, Kapten TNI Didi Suryadi beserta beberapa orang anggotanya, dan Sekretaris Desa Sukahurip, Bapak Syarip Hidayat. Target pengamatan pertama adalah morfologi G. Sadahurip yang tampak simetris sempurna dari arah Wanaraja, tetapi ternyata menjadi tidak simetris dari arah selatan/Kampung Cicapar.


G. Sadahurip tidak berbentuk piramida dilihat dari Cicapar

Pengamatan selanjutnya difokuskan kepada fenomena geologi yang ditemukan di sepanjang perjalanan, dari mulai Kampung Cipacar sampai ke puncak G. Sadahurip dan kemudian turun ke Kampung Sokol. Singkapan batuan yang ditemukan berupa batuan beku andesit dalam bentuk aliran lava dan batuan intrusif yang masif, yang di beberapa tempat melapuk meninggalkan struktur kulit bawang atau kekar tiang.


Pelapukan mengulit bawang di lereng Sadahurip dengan batuan asli kolom-kolom andesitis
Selain dari itu, ditemukan juga batuan piroklastika hasil kegiatan gunung api yang kebanyakan telah lapuk. Dengan variasi batuan semacam ini yang sangat umum ditemukan di morfologi gunung berbentuk piramida,  maka dapat disimpulkan bahwa G. Sadahurip adalah sebuah gunung api kecil yang utuh dengan bentuk menyerupai piramida. Fenomena semacam ini oleh van Bemmelen disebut sebagai lava dome (The Geology of Indonesia, 1949) dan oleh Arthur Holmes sebagai cumulo dome (Principles of Physical Geology, 1984).

Metode penelitian geologi sederhana yang penulis uraikan ini sebetulnya merupakan materi kuliah Geologi Dasar di seluruh Fakultas Geologi di Indonesia yang seharusnya dipertimbangkan oleh Tim Bencana Katastropik Purba dalam melaksanakan penelitiannya. Dengan demikian maka pemakaian beragam peralatan super canggih seperti geolistrik superstring, georadar, foto satelit 3 D–IFSAR resolusi 5 meter, dan bahkan penentuan umur dengan metode Karbon C-14 atau radiocarbon dating yang tentunya telah menguras dana dan tenaga yang tidak kecil akan dapat dihindari.

Antara bisikan ghoib dan pertimbangan ilmiah

Dalam wawancaranya dengan VIVAnews pada tanggal 15 Februari 2011, Yayasan Turangga Seta yang didirikan sekitar tahun 2004 mengakui bahwa metode penelitian yang mereka terapkan banyak didasarkan atas kepekaan beberapa anggotanya terhadap kehadiran ghoib yang mereka sebut sebagai parallel existence (penulis menyebutnya sebagai bisikan ghoib). Mereka terkesan bangga menyebut timnya sebagai MIT atau Menyan Institute of Technology dengan argumentasi bahwa dalam melakukan perburuan situs prasejarah, yang mungkin dengan ritual pembakaran kemenyan untuk mengundang roh, mereka kadang-kadang mendapat sokongan informasi lokasi dari informan tak kasatmata (VIVAnews, 17 Maret 2011).

Dengan keyakinan semacam itu maka dapat dimengerti mengapa dalam sosialisasi pertamanya di hadapan Wagub Jabar tanggal 3 Maret 2011, Yayasan Turangga Seta terkesan kurang senang ketika penulis dan Drs. Lutfi Yondri M.Hum., pakar arkeologi dari Balai Bandung, memberikan masukan ilmiah, padahal maksudnya agar Yayasan Turangga Seta yang sebagian besar anggotanya masih muda-muda dapat lebih berhati-hati , baik dalam melakukan penelitian ataupun dalam prosedur dan perizinannya  (sesuai dengan isi Undang-Undang Cagar Budaya No. 11 Tahun 2010).

Masukan serupa tetapi sedikit lebih keras diberikan lagi kepada perwakilan Yayasan Turangga Seta ketika memperkenalkan hipotesanya di Jurusan Tambang ITB pada tanggal 6 Mei 2011 yang dihadiri juga oleh penulis dan Drs. Lutfi Yondri M.Hum. Pernyataan mereka ketika itu cukup tegas bahwa mereka lebih percaya kepada  bisikan ghoib atau parallel existence dari pada pertimbangan ilmiah.

Selain peringatan secara langsung, sanggahan melalui media internet dan media cetak dilayangkan juga  antara lain oleh Mang Okim (milis IAGI   20 Maret 2011 : Piramida G. Lalakon di Bandung, Akhir Sebuah Harapan),  Dr. Ir. Budi Brahmantyo M.Sc. (PR 3 Agustus 2011: Gunung Lalakon, Sebuah Karya Alam), dan lain-lain. Artikel dan tulisan berikut lampiran gambar-gambar yang menjelaskan dan menyanggah hipotesas piramida tersebut dan telah dikutip oleh Google, dipastikan telah dibaca juga oleh Yayasan Turangga Seta.

Selain dari itu, beberapa pakar geologi terkemuka di Indonesia yang pada awalnya mendampingi dan mendukung secara sukarela penelitian mereka, kemudian menarik diri setelah menyadari adanya penyimpangan metode dan arah penelitian mereka dari kaidah-kaidah ilmu kebumian yang baku (pengakuan Dr.Ir.Danny Hilman M.Sc. di Nasional, 4 April 2011, dan bantahan keras Dr.Ir. Andang Bachtiar M.Sc. di FB karena nama dan reputasinya dimanfaatkan secara tidak benar). Dengan adanya sanggahan dan bantahan dari para pakar tersebut, maka sungguh sulit dimengerti bahwa Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana justru terpengaruh dan bahkan mendukung penuh kegiatan eksplorasi dan penggalian arkeologi yang di beberapa lokasi diketahui melanggar ketentuan dan prosedur yang digariskan dalam Undang-Undang RI No. 11 Tahun 2010 .

Pelajaran berharga bagi kita semua

Gencarnya issue tentang Piramida G. Sadahurip ini , yang oleh masyarakat Garut diartikan sebagai adanya bangunan piramida dan/atau kandungan harta karun di perut G. Sadahurip, membuat aparat Kecamatan Pangatikan dan Desa Sukahurip di Garut menjadi sibuk luar biasa. Selain karena membanjirnya para pengunjung ke puncak G. Sadahurip sejak sekitar 6 bulan terakhir, yang ketika penulis mendaki gunung ini pada tanggal 8 Januari 2012 jumlahnya mencapai lebih dari 200 orang, beberapa instansi terkait dan Pemkab Garut tentunya tak kalah sibuknya melayani permintaan dan pertanyaan para pejabat di Jakarta tentang issue piramida tersebut.

Wisatawan yg penasaran isu piramida melewati lereng Sadahurip dengan lapisan lava andesitis
Hikmah dari semua itu adalah meningkatnya minat masyarakat dan para pelajar untuk mendaki sampai ke puncak G. Sadahurip melalui jalan setapak dan lereng terjal yang tidak ringan. Untuk melayani pengunjung, paling sedikit tiga warung jajanan  telah dibangun mendadak  oleh penduduk setempat di lereng G. Sadahurip. Hal ini memberikan indikasi bahwa masyarakat sangat mendambakan sarana wisata minat khusus yang sebetulnya bisa diciptakan oleh para pemangku kekuasaan kalau mau.

Sehubungan dengan itu, maka walaupun G. Sadahurip bukan bangunan piramida budaya, alangkah baiknya kalau minat masyarakat khususnya para remaja dan pelajar yang dengan semangat pantang menyerah mendaki sampai ke puncak G. Sadahurip dapat dipertahankan. Dengan anggaran yang tidak seberapa dan bahkan melalui kerja gotong royong, jalan ke puncak G. Sadahurip dapat diatur dengan membuat tangga-tangga sederhana. Pemandangan alam dilihat dari puncak G. Sadahurip sungguh luar biasa antara lain G. Kaledong dan G. Haruman serta beberapa gunung lainnya yang bentuk piramidanya  tak kalah indahnya dari G. Sadahurip.

Kerucut G. Kaledong dan G. Haruman yang merupakan sisa-sisa gunung api purba, juga disangka piramida.
Dan kepada Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana, pesan moral yang kiranya perlu disampaikan adalah agar tidak terjun terlalu jauh dalam masalah-masalah yang sebetulnya dapat dilakukan oleh lembaga dan instansi serta institusi pendidikan terkait. Alangkah ironisnya bahwa hilangnya bangunan sangat penting di puncak G.Sadahurip yaitu beton Trianggulasi T74 yang dibongkar karena dikira mengandung harta karun, lepas dari perhatian, padahal hukuman bagi pencurinya di zaman kolonial Belanda begitu berat.

Mengapa Putaran Thawaf Berlawanan dengan Arah Jarum Jam



Ketika saya masih anak-anak, sekitar usia 7-8 tahunan, ada sebuah pertanyaan yang sangat naif, yaitu kenapa membaca Kitab Suci (Al-Quran), harus dari kanan ke kiri, tidak seperti membaca bacaan pada umumnya. Pertanyaan ini tidak pernah saya tanyakan pada orang lain, karena pasti bakal 'merepotkan' pihak yang ditanya. Seiring dengan bertambahnya usia, maka sudah tentu saya mendapatkan pendidikan berbagai disiplin ilmu di sekolah-sekolah umum, mulai dari tingkat SD, SMP, SMA hingga Perguruan Tinggi. 

Di tingkat SMP juga SMA, untuk pelajaran agama, kembali ada pertanyaan yang naif. Yaitu, mengapa Thawaf (mengelilingi Ka'bah), harus berputar berlawanan dengan arah jarum jam. Alasan yang saya temukan di berbagai sumber buku adalah karena hal itu mengikuti apa yang telah dilakukan oleh nabi-nabi terdahulu.

Tentu ini tidak menjawab apa yang saya maksudkan. Saya ingin tahu, kenapa arahnya seperti itu, kenapa tidak searah jarum jam saja misalnya. Ketika mempelajari ilmu-ilmu sains (fisika, kimia dan geografi alam semesta), ada fenomena-fenomena menarik yang saya cermati. 

Berdasarkan penelitian, ternyata setiap benda terdiri dari unsur-unsur terkecil yang disebut atom. Atom itu sendiri terdiri dari inti atom (proton dan neutron) dan elektron-elektron yang mengelilinginya. Yang menarik adalah arah putarnya ternyata berlawanan dengan arah putar jarum jam! 

Atau secara dua dimensi dari kanan ke kiri. Fenomena ini mengingatkan lagi soal pertanyataan arah putaran thawaf dan arah bacaan Kitab Suci. Fenomena menarik kembali ditunjukkan dalam ilmu-ilmu yang berkaitan dengan pergerakan benda-benda angkasa seperti bulan, bumi, matahari, planet-planet, komet, hingga galaksi. 



Kita semua pasti tahu, gerak semu matahari adalah dari Timur ke Barat. Dalam 2 dimensi, arah mata angin biasanya menunjukkan Timur ada di sebelah kanan, Barat di sebelah kiri, Utara di atas dan Selatan di bawah. 

Jadi, gerakan semu matahari adalah dari kanan ke kiri. Bulan adalah satelit bumi. Bagaimana arah putarnya mengelilingi bumi? Ternyata juga berlawanan dengan arah putar jarum jam. Demikian juga gerakan bumi dan planet-planet mengelilingi matahari, berlawanan dengan arah putar jarum jam. 

Matahari pun ternyata tidak diam, ia berputar mengelilingi pusat galaksi dengan arah yang berlawanan dengan jarum jam. Meski orbitnya sangat lonjong, komet pun memiliki arah putar mengelilingi matahari berlawanan dengan jarum jam. Yang terakhir adalah galaksi-galaksi yang bertebaran di jagat raya, ternyata masing-masing juga berputar pada porosnya dengan arah yang berlawanan dengan jarum jam. Sungguh menakjubkan.

Albert Einstein pernah mengatakan bahwa Tuhan tidak suka 'berjudi'. Maksudnya Tuhan merencanakan segala sesuatunya secara detail dengan perhitungan, tidak secara acak. Jadi, fenomena-fenomena yang diilustrasikan di atas, jelas bukan sebuah kebetulan. 

Pesannya sangat jelas, yakni bahwa Tuhan ingin menunjukan keeksistensiannya. Ternyata semua sistem di alam semesta ini, mulai dari yang super mikro hingga yang maha makro, dikendalikan oleh Zat Tunggal yang Maha Besar, yaitu Allah yang Maha Tunggal. 

Jadi, sekarang kita bisa mengerti, kenapa arah bacaan Kitab Suci (Al-Quran) adalah dari kanan ke kiri, juga arah Thawaf yang mengelilingi Ka'bah harus berlawanan dengan arah putar jarum jam. Jawabannya tentu ingin menyelaraskan dengan pergerakan (sebagai bentuk ibadah) komponen-komponen atau anggota-anggota sistem di alam semesta ini, yang tunduk dan patuh atas perintah Sang Penguasa Jagad Raya, Tuhan yang Maha Esa.

Top Ten: Geothermal Energy Locations



1. The United States
3,086 MW Installed Capacity, 0.3% National Energy Production

As of 2010, the United States tops the world in geothermal energy production, with 3,100 MW of installed capacity. 77 geothermal power plants and growing generate 15 billion kilowatt hours of electricity per year. The majority of the United States’ geothermal energy comes from the western states, and if tapped to their full capacity, geothermal reserves beneath just nine of the United States’ 50 states could provide upward of 20 percent of the nation’s electricity needs.

The largest known dry steam field in the world is just north of San Francisco, California. “The Geysers” geothermal hotspot has over 1,500 MW of installed capacity. Calpine Corporation currently taps 15 of the 18 power plants operating in the Geysers, making it the largest geothermal energy producer in the United States. Northern California Power Agency, Santa Clara Municipal Electric Utility and US Renewables Group own and operate the remaining three facilities in the Geysers and a nineteenth plant is soon to be opened by Ram Power.


2.  The Philippines
1,904 MW Installed Capacity, 27% National Energy Production

The Philippines has been using geothermal energy to power the multi-island nation since 1977, when the country’s first geothermal power plant was built on the island of Leyte. Chevron—the largest geothermal producer in the world—has invested over $2 billion into Philippine geothermal energy installations, escalating the Philippines to number two in our top ten.
    

3.  Indonesia
1,197 MW Installed Capacity, 3.7% National Energy Production

Indonesia holds 40 percent of the world’s geothermal potential beneath its thousand of volcanic islands, accounting for an estimated 28,000 MW of potential energy. Indonesia is on track to develop 44 new geothermal power plants by 2014, raising capacity to 4,000 MW, and the country plans to produce 9000 MW from geothermal by 2025.


4.  Mexico
958 MW Installed Capacity, 3% National Energy Production

Mexico is home to the largest geothermal power plant in the world.  The Cerro Prieto Geothermal Power Station has a 720 MW installed capacity, and plans are in place for expansion to 820 MW by 2012.  CerroPrieto is located on the border of the Mexican states of Sonora and Baja California Norte, just south of California USA.


5.  Italy

843 MW Installed Capacity, 10% National Energy Production

Italy was where the very first geothermal power plant was built at the Larderello dry steam field in Tuscany.  Larderello is where the first modern geothermal plants were constructed as well.  Destroyed in World War II, the plants have since been rebuilt.  Ancient Romans used the geothermal heat in the region to warm their water and run heat vents to keep buildings warm.


6.  New Zealand
700 MW Installed Capacity, 10% National Energy Production

New Zealand is the second country after Italy to apply geothermal energy at a national scale.  With unpredictable weather patterns, New Zealand’s geothermal installations have provided consistent energy generation over all other renewable energy sources in the country.


7.  Iceland
575 MW Installed Capacity, 30% National Energy Production

Iceland’s five major geothermal power plants not only generate electricity for nearly one-third of the country, but also provide nearly 90 percent of the heating needed for water and buildings.  Iceland’s geothermal potential is so great that it actually heats city streets near geothermal fields throughout the winter.


8.  Japan
536 MW Installed Capacity, .3% National Energy Production

Due to its close proximity to the Izu-Bonin-Mariana Arc, a convergent boundary of four tectonic plates in the Pacific “Ring of Fire,” Japan is ideally located for geothermal activity.  Mitsubishi Materials Corp. and J-Power currently head Japan’s geothermal business efforts.


9. El Salvador
204 MW Installed Capacity, 14% National Energy Production

El Salvador’s Ahuachapán geothermal field has provided energy to the country since 1975.  Only two geothermal facilities exist in the small Central American country, the second being the Berlin power plant.


10.  Kenya
167 MW Installed Capacity, 11.2% National Energy Production

Kenya was the first country in Africa to exploit geothermal energy commercially.  Kenya is ideally positioned in Africa’s Great Rift Valley, a divergent plate boundary with excessive geothermal potential.  Kenya [plans to increase geothermal capacity by an additional 576 MW by 2017, reducing foreign oil dependency and covering 25 percent of the country’s electricity needs.

Tektonik Lempeng Dalam Al Qur'an



QS. An-Nahl 16:15
“Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk.”

QS. An-Naml 27:88
“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Anggapan lama pernah ada pada abad-abad yang lampau bahwa bumi adalah sesuatu yang rigid atau kaku sementara benua-benua berada pada kedudukannya yang tetap tidak berpindah-pindah. Setelah ditemukannya benua Amerika dan dilakukan pemetaan pantai di Amerika dan Eropa ternyata terdapat kesesuaian morfologi dari pantai-pantai yang dipisahkan oleh Samudera Atlantik. Hal ini menjadi titik tolak dari konsep-konsep yang menerangkan bahwa benua-benua tidak tetap akan tetapi selalu bergerak. 

Konsep-konsep ini dibagi menjadi tiga menurut perkembangannya (Van Krevelen, 1993) :

1. Konsep yang menerangkan bahwa terpisahnya benua disebabkan oleh peristiwa yang katastrofik dalam sejarah bumi. Konsep ini dikemukakan oleh Owen dan Snider pada tahun 1857.

2. Konsep apungan benua atau continental drift yang mengemukakan bahwa benua-benua bergerak secara lambat melalui dasar samudera, dikemukakan oleh Alfred Wegener (1912). Akan tetapi teori ini tidak bisa menerangkan adanya dua sabuk gunung api di bumi.

3. Konsep paling mutakhir yang dianut oleh para ilmuwan sekarang yaitu Teori Tektonik Lempeng. Teori ini lahir pada pertengahan tahun enampuluhan. Teori ini terutama didukung oleh adanya Pemekaran Tengah Samudera (Sea Floor Spreading) dan bermula di Pematang Tengah Samudera (Mid Oceanic Ridge : MOR) yang diajukan oleh Hess (1962).

Pada awalnya ada dua benua besar di bumi ini yaitu Laurasia dan Gondwana kemudian kedua benua ini bersatu sehingga hanya ada satu benua besar (supercontinent) yang disebut Pangaea dan satu samudera luas atau yang disebut Panthalassa (270 juta tahun yang lalu). Dari supercontinent ini kemudian terpecah lagi menjadi Gondwana dan Laurasia (150 juta tahun yang lalu) dan akhirnya terbagi-bagi menjadi lima benua seperti yang dikenal dan ditempati oleh manusia sekarang.

Terpecah-pecahnya benua ini menghasilkan dua sabuk gunung api yaitu Sirkum Pasifik dan Sirkum Mediteranean yang keduanya melewati Indonesia. Mekanisme penyebab terpecahnya benua ini bisa diterangkan oleh Teori Tektonik Lempeng sebagai berikut :

1. Penyebab dari pergerakan benua-benua dimulai oleh adanya arus konveksi (convection current) dari mantle (lapisan di bawah kulit bumi yang berupa lelehan). Arah arus ini tidak teratur, bisa dibayangkan seperti pergerakan udara/awan atau pergerakan dari air yang direbus. Terjadinya arus konveksi terutama disebabkan oleh aktivitas radioaktif yang menimbulkan panas.

2. Dalam kondisi tertentu dua arah arus yang saling bertemu bisa menghasilkan arus interferensi yang arahnya ke atas. Arus interferensi ini akan menembus kulit bumi yang berada di atasnya. Magma yang menembus ke atas karena adanya arus konveksi ini akan membentuk gugusan pegunungan yang sangat panjang dan bercabang-cabang di bawah permukaan laut yang dapat diikuti sepanjang samudera-samudera yang saling berhubungan di muka bumi. Lajur pegunungan yang berbentuk linear ini disebut dengan MOR (Pematang Tengah Samudera) dan merupakan tempat keluarnya material dari mantle ke dasar samudera. MOR mempunyai ketinggian melebihi 3000 m dan lebarnya lebih dari 2000 km, atau melebihi ukuran Pegunungan Alpen dan Himalaya yang letaknya di daerah benua. MOR Atlantik (misalnya) membentang dengan arah utara-selatan dari lautan Arktik melalui poros tengah samudera Atlantik ke sebelah barat Benua Afrika dan melingkari benua itu di selatannya menerus ke arah timur ke Samudera Hindia lalu di selatan Benua Australia dan sampai di Samudera Pasifik. Jadi keberadaan MOR mengelilingi seluruh dunia.

3. Kerak (kulit) samudera yang baru, terbentuk di pematang-pematang ini karena aliran material dari mantle. Batuan dasar samudera yang baru terbentuk itu lalu menyebar ke arah kedua sisi dari MOR karena desakan dari magma mantle yang terus-menerus dan juga tarikan dari gaya gesek arus mantle yang horisontal terhadap material di atasnya. Lambat laun kerak samudera yang terbentuk di pematang itu akan bergerak terus menjauh dari daerah poros pematang dan ‘mengarungi’ samudera. Gejala ini disebut dengan Pemekaran Lantai Samudera (Sea Floor Spreading).

4. Keberadaan busur kepulauan dan juga busur gunung api serta palung Samudera yang memanjang di tepi-tepi benua merupakan fenomena yang dapat dijelaskan oleh Teori Tektonik Lempeng yaitu dengan adanya proses penunjaman (subduksi). Oleh karena peristiwa Sea Floor Spreading maka suatu saat kerak samudera akan bertemu dengan kerak benua sehingga kerak samudera yang mempunyai densitas lebih besar akan menunjam ke arah bawah kerak benua. Dengan adanya zona penunjaman ini maka akan terbentuk palung pada sepanjang tepi paparan benua, dan juga akan terbentuk kepulauan sepanjang paparan benua oleh karena proses pengangkatan. Kerak samudera yang menunjam ke bawah ini akan kembali ke mantle atau jika bertemu dengan batuan benua yang mempunyai densitas sama atau lebih besar maka akan terjadi mixing antara material kerak samudera dengan benua membentuk larutan silikat pijar atau magma. (Proses mixing terjadi pada kerak benua sehingga tidak akan lebih dalam dari 30 km di bawah permukaan bumi). Karena sea floor spreading terus berlangsung maka magma hasil mixing yang terbentuk akan semakin besar sehingga akan menerobos batuan-batuan di atasnya sampai akhirnya muncul ke permukaan bumi membentuk deretan gunung api.

Kondisi Geologi Dinamis Indonesia

Kepulauan Indonesia terbentuk karena proses pengangkatan sebagai akibat dari penunjaman (subduksi). Lempeng (kerak) yang saling berinteraksi adalah Kerak Samudera Pasifik dan Hindia yang bergerak sekitar 2-5 cm per tahun terhadap Kerak Benua Eurasia. Jadi Indonesia merupakan tempat pertemuan 3 lempeng besar sehingga Indonesia merupakan salah satu daerah yang memiliki aktivitas kegempaan yang tertinggi di dunia. Terdapat dua sabuk gunung api yang melewati Indonesia yaitu Sirkum Mediteranean sebagai akibat penunjaman Kerak Samudera Hindia ke dalam Kerak Benua Eurasia, dan Sirkum Pasifik sebagai akibat penunjaman Kerak Samudera Pasifik ke dalam Kerak Benua Eurasia.

Dari uraian di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai pelajaran bagi kita:

1. Gunung api selalu bergerak (dalam skala waktu geologi) mengikuti pergerakan benua-benua karena adanya dinamisme mantle bumi (arus konveksi). Fenomena ini sebagaimana yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an, “Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. 27:88)

2. Gunung api muncul karena tekanan yang tinggi pada magma hasil mixing sehingga akan menerobos ke atas. Andaikan saja magma ini tidak bisa menerobos ke atas membentuk gunung-gunung api maka tentulah akan tersimpan tekanan pada dapur magma yang sangat besar dan akan terus bertambah karena penunjaman masih terus berlangsung. Dengan demikian pada kondisi seperti itu apabila batuan sekitar yang menampung magma tersebut terlampaui batas elastisitasnya maka akan terjadi bencana gempa bumi yang teramat sangat hebatnya. Fenomena ini pun telah tersurat dalam Al-Qur’an, “Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk
“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. 55:13)

Maha Benar Allah atas segala firman-Nya.