Teladan Ibrahim ‘Alaihissalam Dalam Mendidik Anak


Ibrahim ‘alaihissalam telah mengajarkan kepada kita pelajaran-pelajaran praktis yang tidak terhitung jumlahnya dalam mendidik anak-anak, disana terdapat obat dan solusi bagi permasalahan-permasalahan yang ada di rumah kita pada hari ini Berikut beberapa pelajaran tersebut :

Pelajaran Pertama : Memperbaiki Hati Sendiri Sebelum Anak

Sebelum Anda melangkah dan memulai mendidik anak Anda, bahkan sebelum anak Anda dilahirkan hendaknya Anda memulai dengan memperbaiki niat dan hati Anda. Nabi Ibrahim adalah teladan yang baik buat kita tentang hal ini, dimana beliau memulai pertama kali dengan memperbaiki hatinya sampai bersih sebagaimana diceritakan oleh Allah dalam firmannya :
(Ingatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci. “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh.” (QS. As-Shaffaat:84)

Do’a seperti ini tidak akan keluar dan terucap kecuali dari hati yang bersih.

Pelajaran Ke Dua : Berbuat baiklah kepada orang tua Anda niscaya anak-anak Anda akan berbuat baik kepada Anda

Coba kita lihat kembali akhlak nabi Ibrahim dan kelembutannya, beliau mendoakan ayahnya yang musyrik
“Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaitan”. (QS. Maryam:43-45)

Meskipun ayahnya bersikap keras dan mengancam akan membunuhnya
“Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam.” (QS. Maryam:46)

akan tetapi pada saat itu nabi ibrahim sangat santun dan berbakti kepada ayahnya
Berkata Ibrahim: “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Tuhanku.” (QS. Maryam:47)

Karena kebaikan dan kesantunan kepada orang tuanya itulah sehingga Ibarahim layak mendapatkan anak yang baik dan santun pula
“Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.” (QS. As-Shaffaat:101)

Pelajaran Ke Tiga : Ajaklah Anak Anda Dialog

Perhatikanlah sebuah dialog yang luar biasa ini, yaitu dialog tentang salah satu perintah Allah yang berkaitan dengan perintah yang sulit pada dirinya, akan tetapi Nabi Ibrahim menjalaninya dengan sebuah dialog yang bijaksana.
Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” (QS. As-Shaffaat:102)

Sungguh Nabi Ibrahim telah menyertakan anaknya dalam pengambilan sebuah keputusan yang sulit dan tidak mewajibkan serta memaksakan kehendak sebagaimana yang dilakukan kebanyakan orang tua saat ini pada anaknya, lalu mereka mengeluh akan rusaknya akhlaq anak-anak mereka dan begitu durhakanya anak-anak tersebut terhadap orang tuanya.

Ketika nabi ibrahim mengajak dialog dan menyertakan anak tersebut dalam pengambilan keputusan penting akhirnya sang anak pun kemudian menjawab : 
Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (QS. As-Shaffaat:102)

Pelajaran Ke Empat : Selalu Mendoakan Anak

Rasakan dengan hati Anda betapa kuat keinginan nabi ibrahim agar keturunannya menjadi anak-anak yang shalih melalui doa beliau yang terus menerus dipanjatkan tanpa henti.
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. (QS. Al-Baqarah:124)

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah do`aku.” (QS. Ibrahim:40)

Nabi ibrahim tidak mendapatkan sarana yang lebih baik melainkan melalui doa agar keturunannya kelak menjadi orang-orang yang beriman, dan buah dari kegigihan doa beliau itulah yang akhirnya kemudian Allah menjadikan beliau sebagai abul anbiya, bapaknya para nabi. Oleh karena itu kita harus belajar dari beliau dan selalu berdoa untuk anak-anak kita khususnya pada waktu sholat dan waktu-waktu dikabulkannya doa.

Pelajaran Ke Lima : Pembinaan Dan Kontrol Yang Berkelanjutan Terhadap Anak-Anak

Mekipun pada saat itu Nabi Ibrahim tinggal di Palestina dan anaknya Ismail tinggal di Makkah, akan tetapi hal itu tidak menjadikan Ibrahim kemudian lupa dan tidak lagi memantau keadaan anaknya. Nabi Ibrahim masih mengunjungi anaknya dan memantau keadaan anaknya tersebut, termasuk lingkungan yang ditempati Ismail.

Pelajaran Ke Enam : Sertakan Anak Anda Dalam Melaksanakan Ketaatan

Hal ini terbukti ketika Ibrahim berkata kepada anaknya Isma’il : Sesungguhnya Allah memerintahkanku agar membangun rumah disini, Apakah kamu mau membantuku? Isma’il pun menjawab : Akan aku kerjakan insya Allah.

Anak akan tumbuh sebagaimana kebiasaan kedua orang tuanya dan tarbiyah keluarganya, oleh karena itu biasakanlah meminta bantuan kepada anak Anda ketika mengerjakan kebaikan dan sertakan dia bersama Anda ketika melaksanakan amal-amal ketaatan seperti shalat dan pintu-pintu kebaikan lainnya.

Pelajaran Ke Tujuh : Tanamkanlah Keikhlasan Di Hati Anak Anda

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdo`a): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. QS. Al-Baqarah:127

Nabi Ibrahim telah mengajarkan kepada kita ketika melaksanakan ketaatan agar kita menisbatkan segala keutamaan hanya kepada Allah saja dan melepaskan daya serta kekuatan kita lalu berdoa kepada Allah agar menerima amal kita. Dengan begitu kita telah menanamkan nilai-nilai keikhlasan pada hati dan jiwa anak-anak kita dan menjauhkan mereka dari sifat sombong dan ujub.

Mudah-mudahan Allah SWT. memberkahi kita pada anak-anak dan keturunan kita, menjadikan mereka Qurrota ‘Ain buat kita di dunia dan akhirat. Amin.

Ust. Aminuddin Muhammad Khoilul, Lc.
Pengajar Pusat Studi Islam Al-Manar


No comments:

Post a Comment