"Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan haram. Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar."
Sistem penanggalan Lunar (Komariyah)
"Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan haram. Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar."
Pembagian Hati
يَوْمَ لا يَنْفَعُ مَالٌ وَلا بَنُونَ إِلا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“(Yaitu) di hari harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan qalbun salim.” (Asy-Syu’araa’: 88-89)
1. HATI SEHAT
Salim artinya sehat. As-Salimul Qalbi adalah hati yang memiliki kesehatan sebagai sifat baku. Salim adalah antonim (lawan kata) dari maridh, saqim dan ‘alil yang berarti sakit.
Manusia menggunakan ungkapan yang berbeda-beda dalam menggambarkan hakikat hati yang sehat ini. Titik temunya adalah bahwa HATI YANG SEHAT adalah YANG TERBEBAS DARI SYAHWAT YANG KONTRADIKTIF DENGAN PERINTAH DAN LARANGAN ALLAH atau yang terbebas dari SYUBHAT.
Ia terbebas dari peribadatan kepada selain Allah dan dari pengambilan keputusan hukum kepada selain Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ia mencintai Allah dengan tulus dan mengikuti ketentuan Rasul-Nya dalam takut, harap, tawakal, dan ketundukan kepada Allah, MENGUTAMAKAN RIDHA-NYA DALAM SETIAP KEADAAN, dan MENJAUHI KEMURKAAN-NYA DENGAN SEGALA CARA. Inilah hakikat ‘ubudiyah yang hanya boleh diberikan kepada Allah.
Hati yang sehat tidak menyekutukan Allah dengan apapun dalam bentuk apapun.
‘Ubudiyahnya murni ditujukan kepada Allah Ta’ala, baik yang berupa kehendak, cinta, tawakal, ikhbat (ketundukan), khauf (takut), dan roja’ (harap).
Ia mengikhlaskan amal untuk Allah. Bila mencintai, ia mencintai karena Allah; bila membenci, ia membenci karena Allah; dan bila memberi, ia memberi karena Allah; dan bila tidak memberi, ia tidak memberi karena Allah.
Baik secara garis besar maupun rinci, YANG MENJADI PANUTAN adalah ajaran yang dibawa oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia tidak mendahului beliau dalam berkeyakinan, berbicara, maupun beramal. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Hujuraat: 1)
Maksudnya:
“Jangan berkata (berpendapat) sebelum beliau berkata dan jangan berbuat sebelum beliau memerintahkan (jangan melakukan amal ibadah kecuali yang diperintahkan).”
Seorang salaf berkata:
“Setiap perbuatan, sekecil apapun, pasti akan ditanya dengan dua pertanyaan, yaitu: MENGAPA dan BAGAIMANA. Yakni, mengapa kamu berbuat dan bagaimana kamu berbuat?”
Pertanyaan pertama berkenaan dengan sebab, motivasi dan latar belakang perbuatan; apakah bertitik-tolak dari kepentingan dan ambisi si pelaku di dunia seperti kesenangan dipuji orang, ketakutan terhadap celaan mereka, keinginan untuk memperoleh sesuatu yang disukai, upaya menghindari sesuatu yang dibenci di dunia; atau perbuatan itu timbul dengan motivasi untuk menunaikan kewajiban beribadah, meraih cinta Allah, mendekatkan diri kepada-Nya, dan mencari jalan menuju ridha-Nya?
Sasaran pertanyaan ini adalah: Anda melakukan perbuatan ini untuk Rabb anda ataukah untuk kepentingan dan hawa nafsu anda sendiri?
Adapun pertanyaan kedua adalah berkenaan dengan mutaba’ah (peneladanan) kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam ibadah tersebut. Artinya, perbuatan tersebut telah disyari’atkan-Nya kepadamu melalui lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam ataukah tidak diperintahkan-Nya sehingga tidak diridhai-Nya?
Yang pertama adalah pertanyaan mengenai ikhlas sedangkan yang kedua adalah pertanyaan mengenai mutaba’ah (teladan dan tuntunan yang diikuti). Sebab, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menerima amal kecuali dengan keduanya (ikhlas dan sesuai tuntutan).
Antisipasi terhadap pertanyaan pertama adalah dengan memurnikan keikhlasan, sedangkan terhadap pertanyaan kedua adalah dengan merealisasikan mutaba’ah dengan sebenar-benarnya. Hati harus bersih dari keinginan yang kontradiktif dengan keikhlasan dan dari nafsu yang kontradiktif dengan mutaba’ah. Inilah hakikat kesehatan bagi hati yang dijamin selamat dan bahagia.”
2. HATI MATI
Ini kebalikan dari yang pertama. Ini adalah hati yang mati, tanpa kehidupan sama sekali. Ia tidak mengenal Rabb serta tidak beribadah kepada-Nya dengan melaksanakan apa yang diperintahkan, dicintai, dan dridhai-Nya.
Sebaliknya, ia SENANTIASA MENGIKUTI HAWA NAFSU sekalipun dimurkai dan dibenci Rabb-nya.
Ia TIDAK PEDULI apakah dengan mengikuti hawa nafsu, Rabb-nya ridha atau murka kepadanya. Ia menghambakan dirinya kepada selain Allah dalam kecintaan, ketakutan, pengharapan, keridhaan, kemurkaan, pengagungan, dan ketundukan.
Bila mencintai, ia mencintai karena nafsu; bila membenci, ia membenci karena nafsu; bila memberi, ia memberi karena nafsu; dan bila menolak, ia menolak karena nafsu juga. Jadi, hawa nafsu lebih diutamakan dan dicintainya daripada ridha Rabb-nya.
Hawa nafsu adalah imamnya, syahwat adalah komandannya, kebodohan adalah pengendalinya, dan kelalaian adalah kendaraannya. Ia senantiasa sibuk berpikir untuk memperoleh ambisi-ambisi duniawi serta DIMABUK OLEH HAWA NAFSU dan CINTA DUNIA.
DARI JAUH, IA DIPANGGIL UNTUK KEMBALI KEPADA ALLAH dan MENGUTAMAKAN KEBAHAGIAAN AKHIRAT, akan tetapi IA ENGGAN MENYAMBUT PANGGILAN SANG PEMBERI NASIHAT, bahkan mengikuti bujukan setan yang durhaka. Murka dan ridhanya tergantung oleh dunia. Hawa nafsu telah menulikan dan membutakannya.
“Setiap umatku akan masuk surga, kecuali orang-orang yang enggan untuk memasukinya. Ada seseorang yang bertanya, siapakah orang yang enggan tersebut wahai Rasulullah ? Beliau bersabda, “Barangsiapa mentaatiku akan masuk surga, barangsiapa tidak taat kepadaku sungguh dia orang yang enggan masuk surga “ (HR. Bukhari)
Bergaul dengan orang yang berhati seperti ini adalah PENYAKIT dan RACUN. Bersahabat dengannya adalah KEBINASAAN.
3. HATI SAKIT
Hati jenis ini adalah hati yang mempunyai kehidupan, tetapi berpenyakit. Kadang-kadanag kehidupan tampak padanya, tetapi kadang-kadang yang tampak penyakitnya, tergantung yang mana di antara keduanya yang sedang dominan.
Dalam hati yang ini, terdapat kecintaan, keimanan, keikhlasan, dan tawakal kepada Allah, yang semua ini merupakan bahan baku kehidupannya. Tetapi di dalamnya juga terdapat kecintaan kepada hawa nafsu, pengutamaan terhadapnya dan ambisi untuk memperolehnya, kedengkian, kesombongan, dan kebanggaan terhadap diri sendiri.
Ia dipengaruhi oleh dua penyeru; yang satu mengajaknya kepada Allah, Rasul-Nya dan negeri akhirat, sedangkan yang lain mengajaknya kepada dunia. Ia mengikuti salah satu dari kedua penyeru itu, (mana) yang pintu dan jaraknya lebih dekat kepadanya.
Hati jenis pertama (Hati Sehat) adalah hati yang khusyu’, lembut dan sehat.
Hati jenis kedua (Hati Mati) adalah hati yang kering dan mati.
Sedangkan hati yang yang sakit, yang bisa jadi lebih dekat kepada kesehatan atau sebaliknya lebih dekat kepada kematian (hati). Allah Ta’ala telah menyebutkan ketiga jenis hati ini dalm firman-Nya:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ وَلا نَبِيٍّ إِلا إِذَا تَمَنَّى أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ فَيَنْسَخُ اللَّهُ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ ثُمَّ يُحْكِمُ اللَّهُ آيَاتِهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ لِيَجْعَلَ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ فِتْنَةً لِلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَفِي شِقَاقٍ بَعِيدٍ وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَيُؤْمِنُوا بِهِ فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ وَإِنَّ اللَّهَ لَهَادِ الَّذِينَ آمَنُوا إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, setan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh setan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh setan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya. Dan sesungguhnya orang-orang yang lalim itu, benar-benar dalam permusuhan yang sangat, dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Qur’an itulah yang hak dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya, dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.” (Al-Hajj: 52-54)
Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala membagi hati menjadi tiga: dua di antaranya terkena fitnah dan hanya satu yang selamat. Dua jenis hati yang terkena fitnah adalah hati yang berpenyakit dan hati yang keras (mati). Sedangkan yang selamat adalah hati orang mukmin yang tunduk dan patuh kepada Rabb-nya. Diharapkan, hati dan anggota badan lain dalam keadaan sehat tanpa penyakit apapun, sehingga bisa berfungsi sebagaimana mestinya.
Hati yang terkena fitnah, senantiasa dalam keraguan disebabkan oleh bisikan setan, tetapi hati yang sehat tidak akan terkena mudharat darinya.
Hudzaifah ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Fitnah-fitnah dibentangkan dan dilekatkan di hati, sebagaimana dibentangkannya serat-serat tikar satu persatu. Hati mana pun yang dirasukinya, niscaya padanya membekas sebuah noda hitam, sedang hati mana pun yang menolaknya, niscaya padanya membekas sebuah titik putih, sehingga seluruh hati akan terbagi menjadi dua: ada hati yang hitam berbintik putih dan seperti kendi yang terbalik, ia tidak mengenal yang ma’ruf dan tidak menolak yang munkar, yang diketahuinya hanyalah hawa nafsu yang dirasukkan kepadanya. Ada pula hati yang putih, ia tidak terkena mudharat fitnah selama ada langit dan bumi.” (HR. Muslim dan Ahmad)
Beliau menyerupakan pembentangan dan pelekatan fitnah di hati seperti serat-serat tikar yang dibentangkan dan dilekatkan satu persatu.
Beliau juga membagi hati pada saat pembentangan fitnah tersebut, menjadi dua yaitu: Ada hati yang ketika fitnah dibentangkan, terasuki olenya sebagaimana bunga karang yang diresapi air. Pada hati tersebut akan timbul sebuah titik hitam. Setiap fitnah yang dibentangkan akan terus meresap padanya, sehingga warnanya menjadi hitam dan posisinya terbalik. Inilah sabda beliau “seperti kendi yang terbalik”. Apabila hati menjadi hitam dan terbalik, maka ia terancam oleh dua penyakit yang berbahaya yang akan mencampakkannya ke dalam kebinasaan, yaitu:
1. Ia akan kabur dalam melihat yang ma’ruf dan yang munkar. Ia tidak mengenal yang ma’ruf dan tidak menolak yang munkar. Bisa jadi penyakit ini semakin parah sehingga ia meyakini yang ma’ruf sebagai kemunkaran dan yang munkar sebagai yang ma’ruf; yang sunnah sebagi bid’ah dan yang bid’ah sebagai sunnah; serta kebenaran sebagai kebatilan dan kebatilan sebagai kebenaran.
2. Ia lebih mengutamakan hawa nafsu daripada ajaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia tunduk dan mengikuti hawa nafsunya.
Ada pula hati yang putih. Cahaya dan pelita-pelita iman memancar dan menyala di dalamnya. Apabila fitnah dibentangkan kepadanya, ia menolak, sehingga cahaya, pancaran dan kekuatannya semakin bertambah.
Fitnah-fitnah yang dibentangkan pada hati merupakan penyebab sakitnya. Itulah fitnah syahwat dan syubhat, atau fitnah al-ghayy (penyimpangan) dan adh-dhalal (kesesatan), atau fitnah maksiat dan bid’ah, atau fitnah kezhaliman dan kebodohan.
Fitnah pertama (fitnah syahwat) mengakibatkan rusaknya maksud dan kehendak. Sedangkan fitnah kedua (fitnah syubhat) mengakibatkan rusaknya lmu dan keyakinan.
Hudzaifah ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Hati itu ada empat: ada hati yang bersih, di dalamnya terdapat pelita yang menyala, itulah hati orang mukmin. Ada hati yang tertutup, itulah hati orang kafir. Ada hati yang terbalik, itulah hati orang munafik, yang telah mengetahui tetapi kemudian menolak dan telah melihat tetapi kemudian buta. Ada pula hati yang terdiri dari dua unsur, yaitu unsur keimanan dan kemunafikan. Keadaannya tergantung kepada salah satu dari kedua unsur tersebut yang paling dominan.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dan Abdullah bin Imam Ahmad. Syaikh Al-Albani berkata: “Hadits ini mauquf shahih.”)
Perkataan beliau “hati yang bersih”, maksudnya adalah hati yang bersih dari selain Allah dan Rasul-Nya. Jadi, hati tersebut bersih dari selain kebenaran.
Adapun hati yang tertutup, adalah hati orang kafir, karena hati tersebut masuk di dalam tutupnya, sehingga cahaya ilmu dan iman tidak bisa mencapainya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَقَالُوا قُلُوبُنَا غُلْفٌ بَلْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَقَلِيلا مَا يُؤْمِنُونَ
“Dan mereka berkata: “Hati kami tertutup”. Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka; maka sedikit sekali mereka yang beriman.” (Al-Baqarah: 88)
Penutup di sini adalah yang dipasang oleh Allah di hati mereka sebagai hukuman atas penolakan mereka terhadap kebenaan dan kesombongan mereka untuk menerimanya.
وَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ جَعَلْنَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِالآخِرَةِ حِجَابًا مَسْتُورًا وَجَعَلْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَنْ يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا وَإِذَا ذَكَرْتَ رَبَّكَ فِي الْقُرْآنِ وَحْدَهُ وَلَّوْا عَلَى أَدْبَارِهِمْ نُفُورًا
“Dan apabila kamu membaca Al Qur’an niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup. Dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan apabila kamu menyebut Tuhanmu saja dalam Al Qur’an, niscaya mereka berpaling ke belakang karena bencinya.” (Al-Israa’: 45-46)
Apabila hati semacam ini diingatkan untuk memurnikan tauhid dan mutaba’ah, para pemiliknya akan berpaling menjauh.
Beliau juga menyebutkan hati yang terbalik sebagai isyarat bagi hati orang munafik. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
فَمَا لَكُمْ فِي الْمُنَافِقِينَ فِئَتَيْنِ وَاللَّهُ أَرْكَسَهُمْ بِمَا كَسَبُوا أَتُرِيدُونَ أَنْ تَهْدُوا مَنْ أَضَلَّ اللَّهُ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ سَبِيلا
“Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri? Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah? Barang siapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya.” (An-Nisaa’: 88)
Artinya, Allah telah membalikkan dan mengembalikan mereka kepada kebatilan mereka semula, DISEBABKAN OLEH USAHA dan PERBUATAN MEREKA YANG BATHIL. Ini adalah hati yang paling buruk. IA MEYAKINI KEBATILAN SEBAGAI KEBENARAN dan MENCINTAI PELAKU KEBATILAN, sebaliknya MENGANGGAP KEBENARAN SEBAGAI KEBATILAN dan MEMUSUHI PARA PELAKU KEBENARAN. Hanya Allah tempat memohon pertolongan.
Sedangkan yang dimaksud beliau dengan hati yang memiliki dua unsur, adalah hati yang di dalamnya terdapat keimanan, akan tetapi pelita keimanan tersebut tidak menyala di dalamnya. Kebenaran yang ada di dalamnya, yang dengannya Allah mengutus Rasul-Nya, tidak murni. Di dalamnya terdapat unsur tersebut dan unsur kebalikannya. Kadang-kadang ia lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan, tetapi kadang-kadang lebih dekat kepada keimanan daripada kekafiran. Yang menentukan adalah unsur yang sedang dominan. Ke situlah ia kembali.
Wallahu a'lam.
Dikutip dari kitab Menyelamatkan Hati dari Tipu Daya Setan (Ighatsatul Lahfan min Mashayidisy Syaithan), karya Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Damaskus, 1292-1349 Masehi
Inilah Universitas Pertama dalam Sejarah Islam
Orang Mukminpun Bisa Terkena Adzab
Aku bertanya, "Ya Rasulullah, bagaimana bisa mereka dibinasakan semuanya, dari orang yang berada di barisan terdepan sampai yang paling belakang, padahal di tengah-tengah mereka terdapat pasar-pasar mereka, dan orang-orang yang bukan dari golongan mereka?”
Beliau menjawab “Mereka dibinasakan semua, yang berada di baris terdepan sampai yang paling belakang, kemudian nanti mereka akan dibangkitkan sesuai dengan niat masing-masing dari mereka.”
Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari (IV/338-Fath) dan Imam Muslim (2884).
Kandungan Hadits :
Pelajaran untuk menjauhi orang-orang yang berbuat kezhaliman, sekaligus peringatan agar tidak bergaul dengan mereka atau bergabung dengan orang-orang jahat dan semisalnya, agar tidak mendapatkan siksaan yang ditimpakan kepada mereka.
Barangsiapa bergabung dengan suatu kaum dengan sukarela dalam kemaksiatan, maka dosa dan siksaan akan ditimpakan pula kepadanya, dan perbuatan itu dihitung berdasarkan niat pelaku.
Pemberitahuan yang disampaikan Rasulullah tentang berbagai hal ghaib yang diperlihatkan Allah kepada beliau. Dan itu termasuk masalah keimanan yang harus diyakini, dan itu tidak dapat dirancukan hanya karena disebutkan melalui khabar al-walid ash-shahiih. Karena ia merupakan hujjah bagi kita dalam masalah ‘aqidah dan hukum-hukum syari’ah, dan tidak ada perbedaan antara keduanya.
Ummul Mukminin ‘Aisyah menanyakan bagaimana suatu azab ditimpakan terhadap orang yang tidak mempunyai keinginan melakukan kerusakan. Ada yang berpendapat bahwa siksaan itu ditimpakan secara umum karena sudah saatnya ajal mereka, kemudian mereka dibangkitkan kembali berdasarkan niat mereka masing-masing. Tetapi ada juga pendapat lain.
Yang tampak jelas adalah bahwa siksaan itu ditimpakan kepada mereka secara umum, sekalipun di antara mereka terdapat orang-orang yang benci, orang-orang yang akan berbelanja, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Sebab, mereka tidak merasa takut terhadap fitnah yang tidak ditimpakan hanya kepada orang-orang zhalim secara khusus, tetapi mereka juga terseret oleh kezhaliman orang-orang tersebut, meskipun mereka sama sekali tidak menginginkannya. Oleh karena itu, mereka dipadukan dengan orang-orang zhalim.
Hal itu telah ditunjukkan oleh beberapa ayat A-Qur’an dan juga al-Hadits, bahwa siksaan itu jika ditimpakan, maka akan mencakup orang-orang shalih yang mereka tidak marah karena Allah (ketika melihat satu kemungkaran), tetapi orang yang selamat adalah mereka yang membuat perbaikan.
Ada banyak hal yang patut kita cermati dari berbagai ujian, bencana dan malapetaka yang menimpa umat di seluruh dunia saat ini. Dalam Al-Qur’an, sesungguhnya Allah Ta’ala telah mengingatkan kepada kita bahwa adzab dan siksa Allah tidak khusus hanya menimpa orang-orang zhalim di antara kita. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
"Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah Amat keras siksaan-Nya"
Ayat diatas menjelaskan siksaan yang datang dari Allah terhadap orang dzalim tidak dikhususkan kepada mereka saja, akan tetapi ketika azab sudah ditimpakan kepada orang-orang dzalim maka orang-orang mukminpun akan terkena imbasnya.
Imam Ahmad bin Hambal meriwayatkan hadits dari Ummu Salamah, ia berkata bahwa Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:
“Jika timbul maksiat pada umatku, maka Allah akan menyebarkan adzab (siksa) kepada mereka."
Aku berkata: “Wahai Rasulullah, apakah tidak ada pada waktu itu orang-orang shalih?”
Beliau menjawab: ”Ada”.
Aku bertanya lagi: “Apa yang akan Allah perbuat kepada mereka?”
Jawab beliau: “Allah akan menimpakan kepada mereka adzab sebagaimana yang ditimpakan kepada orang-orang yang melakukan maksiat, kemudian mereka akan mendapat ampunan dan keridhoan dari Robbnya.” (HR. Imam Ahmad)
Apabila suatu kaum sudah bermaksiat dan menentang perintah-perintah Allah serta mengkufuri nikmat-nikmatNya, maka sungguh Allah akan menurunkan kehinaan dan kebinasaan kepada mereka baik kehinaan di dunia maupun kehinaan di akhirat. Lalu bagaimanakah dengan mereka yang hidup di negeri yang banyak dijumpai di dalamnya kemaksiatan, kemungkaran dan penyelewengan-penyelewengan moral maupun penyelewengan material.
Firman Allah SWT (QS An Nahl : 12):
"Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat."
Firman Allah SWT (QS:Al 'Ankabuut: 40)
"Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri."
Bintang Kembar Sirius (Syi’ra)
maka jadilah dia dekat dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). (QS. An Najm, 53: 9)
Sejarah Masuknya Islam di Benua Amerika
Klaim sejarah Barat yang menyatakan Columbus sebagai penemu benua Amerika akhirnya terpatahkan. Sederet sejarawan menemukan fakta bahwa para penjelajah Muslim telah menginjakkan kaki dan menyebarkan Islam di benua itu lebih dari setengah milenium sebelum Columbus. "Tak perlu diragukan lagi, secara historis kaum Muslimin telah memberi pengaruh dalam evolusi masyarakat Amerika beberapa abad sebelum Christopher Columbus menemukannya," tutur Fareed H Numan dalam American Muslim History A Chronological Observation.
Sejarah mencatat Muslim dari Afrika telah menjalin hubungan dengan penduduk asli benua Amerika, jauh sebelum Columbus tiba. Sejarawan Ivan Van Sertima dalam karyanya They Came Before Columbus membuktikan adanya kontak antara Muslim Afrika dengan orang Amerika asli. Dalam karyanya yang lain, African Presence in Early America, Van Sertima menemukan fakta bahwa para pedagang Muslim dari Arab juga sangat aktif berniaga dengan masyarakat yang tinggal di Amerika.
Van Sertima juga menuturkan, saat menginjakkan kaki di benua Amerika, Columbus pun mengungkapkan kekagumannya kepada orang Karibian yang sudah beragama Islam. "Columbus juga tahun bahwa Muslim dari pantai Barat Afrika telah tinggal lebih dulu di Karibia, Amerika Tengah, Selatan, dan Utara," papar Van Sertima. Umat Islam yang awalnya berdagang telah membangun komunitas di wilayah itu dengan menikahi penduduk asli. Menurut Van Sertima, Columbus pun mengaku melihat sebuah masjid saat berlayar melalui Gibara di Pantai Kuba. Selain itu, penjelajah berkebangsaan Spanyol itu juga telah menyaksikan bangunan masjid berdiri megah di Kuba, Meksiko, Texas, serta Nevada.
Itulah bukti nyata bahwa Islam telah menyemai peradabannya di benua Amerika jauh sebelum Barat tiba. Fakta lainnya tentang kehadiran Islam di Amerika jauh sebelum Columbus datang juga diungkapkan Dr Barry Fell, seorang arkeolog dan ahli bahasa dari Universitas Harvard. Dalam karyanya berjudul Saga America, Fell menyebutkan bahwa umat Islam tak hanya tiba sebelum Columbus di Amerika. Namun, umat Islam juga telah membangun sebuah peradaban di benua itu. Arkeolog dan ahli bahasa itu juga menemukan teks, diagram, serta peta yang dipahat di batu yang digunakan untuk kepentingan sekolah. Temuan itu bertarikh antara tahun 700 hingga 800 M. Teks serta diagram itu berisi mata pelajaran matematika, sejarah, geografi, astronomi, dan navigasi laut. Bahasa pengajaran yang ditemukan itu menggunakan tulisan Arab Kufi dari Afrika Utara.
Sejarawan seni berkebangsaan Jerman, Alexander Von Wuthenau, juga menemukan bukti dan fakta keberadaan Islam di Amerika pada tahun 800 M hingga 900 M. Wuthenau menemukan ukiran kepala yang menggambarkan seperti bangsa Moor. Itu berarti, Islam telah bersemi di Amerika sekitar separuh milenium sebelum Columbus lahir. Dia juga menemukan ukiran serupa bertarik 900 M hingga 1500 M. Artifak yang ditemukan itu mirip foto orang tua yang biasa ditemui di Mesir.
Tahun 999 M: Sejarawan Muslim Abu Bakar Ibnu Umar Al-Guttiya mengisahkan pada masa kekuasaan Khalifah Muslm Spanyol bernama Hisham II (976 M -1009 M), seorang navigator Muslim bernama Ibnu Farrukh telah berlayar dari Kadesh pada bulan Februari 999 M menuju Atlantik. Dia berlabuh di Gando atau Kepulauan Canary Raya. Ibnu Farrukh mengunjungi Raja Guanariga. Sang penjelajah Muslim itu memberi nama dua pulau yakni Capraria dan Pluitana. Ibnu Farrukh kembali ke Spanyol pada Mei 999 M.
Tahun 1178 M: Sebuah dokumen Cina yang bernama Dokumen Sung mencatat perjalanan pelaut Muslim ke sebuah wilayah bernama Mu-Lan-Pi (Amerika).
Tahun 1310 M: Abu Bakari seorang raja Muslim dari Kerajaan Mali melakukan serangkaian perjalanan ke negara baru.Tahun 1312 M: Seorang Muslim dari Afrika (Mandiga) tiba di Teluk Meksiko untuk mengeksplorasi Amerika menggunakan Sungai Mississipi sebagai jalur utama perjalanannya.
Tahun 1530 M: Budak dari Afrika tiba di Amerika. Selama masa perbudakan lebih dari 10 juta orang Afrika dijual ke Amerika. Kebanyakan budak itu berasal dari Fulas, Fula Jallon, Fula Toro, dan Massiona - kawasan Asia Barat. 30 persen dari jumlah budak dari Afrika itu beragama Islam.
Tahun 1539 M: Estevanico of Azamor, seorang Muslim dari Maroko, mendarat di tanah Florida. Tak kurang dari dua negara bagian yakni Arizona dan New Mexico berutang pada Muslim dari Maroko ini.
Tahun 1732 M: Ayyub bin Sulaiman Jallon, seorang budak Muslim di Maryland, dibebaskan oleh James Oglethorpe, pendiri Georgia. Tahun 1790 M: Bangsa Moor dari Spanyol dilaporkan sudah tinggal di South Carolina dan Florida.
Pendidikan Islam di Amerika Serikat
Dimulai dengan dibukanya jalur sutra dan berkembangnya keinginan bangsa berkuasa di Eropa untuk mencari daerah baru dan memperluas wilayah jajahan, munculah nama penjelajah terkenal seperti Ibnu Batutah, Marco Polo, Zheng He (Cheng Ho), Columbus yang mengitari dunia luas ini. Dari fakta diatas, Dr Barry Fell seorang ahli bahasa dari Harvard University mengungkapkan ternyata Islam telah berkembang di Amerika sebelum nama benua Amerika untuk pertama kali disebutkan. Dirinya mendapatkan adanya sekolah sekolah Islam di Valley of Fire, Allan Spring Logomorismo dan Indiana sekitar tahun tahun 700-800 masehi.
Pada tahun 1178 masehi, sebuah dokumen Cina bernama Sung mencatat perjalanan pelaut Muslim ke sebuah wilayah bernama Amerika atau dalam bahasa Cina pada dokumen tersebut disebut Mu-Lan-Pi. Kemudian pendapat ini juga disetujui oleh Gavin Menzies, seorang bekas pelaut yang mengemukakan hasil penelusurannya bahwa dirinya telah menemukan bekas peninggalan seorang laksamana muslim bernama Cheng Ho di Amerika pada tahun 1421, 71 tahun lebih awal dari kedatangan Columbus di Benua itu.
Setelah sebuah penemuan benua baru yang kontroversial oleh Columbus pada tanggal 21 Oktober 1492, perdagangan budak mulai marak terjadi di Amerika dan dunia barat lain. Tahun 1530 masehi, para budak dari Afrika Barat pertama datang ke Amerika. Selama masa perbudakan yang berlangsung hingga 300 tahun itu, sekitar 10 juta orang Afrika dijual ke Amerika, dan sekitar 30% adalah beragama Muslim dan merekalah yang menjadi cikal bakal kaum Muslim yang sekarang berada di Amerika. Kemudian pada tahun 1732 masehi, Ayyub bin Sulaiman Jalloh, seorang budak Muslim di Marylan dibebaskan oleh pendiri Georgia (kota kelahiran Martin Luther King) bernama James Oglethorpe. Perkembangan Islam di Amerika Serikat sekarang mengalami kemajuan pesat. Berbagai kawasan muslim kini tumbuh sedikitnya di sepuluh negara bagian AS, seperti di California, New York, Illinois, New Jersey, Indiana, Michigan, Virginia, Texas, Ohio, dan Maryland. Jumlah Muslim di AS saat ini sudah mengalahkan Episkopalian, Lutheran, Presbyterian, United Church of Christ, dan agama lainnya.
MENGAPA PARA ILMUAN BANYAK YANG ATHEIS ATAU SEKULER?
Ustadz Muhammad Choirul Anam
Semakin dalam seseorang mengkaji ilmu pengetahuan dan alam ini, maka akan semakin dalam keimanannya kepada Allah swt, sebab mereka melihat dengan “mata kepala” sendiri keselarasan dan ketepatan semua proses yang terjadi di alam ini. Dan semua itu mustahil terjadi dengan sendirinya sebagai peristiwa kebetulan, sebab sebuah keteraturan pastilah ada yang mengaturnya. Sebuah proses kebetulan hanya mungkin terjadi sesekali pada proses sederhana, tetapi keteraturan pada proses yang sangat kompleks secara kontinyu hanya terjadi pada proses yang diatur atau dikendalikan atau terencana dengan sangat baik. Pengendali dan perencana alam yang sangat menakjubkan ini pastilah sesuatu yang Maha Cerdas dan Maha Sempurna. Dialah kausa prima, ujung dari segala ujung pencarian, sumber dari segala sumber energi, asal dari segala eksistensi, Dialah Pencipta alam semesta, Allah swt.
Dengan pernyataan tersebut, mestinya para ilmuan itu merupakan orang-orang dengan keimanan yang menghunjam, tetapi mengapa realitasnya justru banyak ilmuan yang atheis atau minimal tidak menganggap penting agama? Apa yang sebenarnya terjadi pada dunia ilmu pengetahuan sekarang?
*****
Kebanyakan orang sering menjawab bahwa mereka atheis atau sekuler karena belum mendapat hidayah. Meskipun jawaban ini mungkin cukup memuaskan bagi sebagian orang, tetapi bagi sebagian orang lain belum cukup memuaskan. Sebab, hidayah merupakan proses kompleks yang hanya diketahui hasil akhirnya. Sebagian orang terkadang ingin tahu prosesnya dan alasan yang lebih rasional di balik suatu fenomena, termasuk fenomena banyaknya ilmuan yang atheis atau minimal menganggap bahwa agama bukan sesuatu yang penting.
Dr. Salim Frederick dalam bukunya yang bejudul “Political and Cultural Invasion” menganalisis bahwa fenomena banyaknya ilmuan yang atheis atau tidak menganggap penting agama sangat erat hubugannya dengan paradigma ilmu yang mereka yakini dan ini merupakan bagian integral dari filsafat ilmu saat ini. Salah satunya, ilmu pengetahuan telah direduksi hanya untuk menjawab pertanyaan “how (bagaimana)”, tetapi dianggap tabu untuk menjawab “why (mengapa)”. Bahkan seandainya, pertanyaan “why” diajukan, itu pun hanya sekedar untuk membantu menjawab pertanyaan “how”. Pertanyaan tentang “how” inilah yang dikejar dan diteliti dengan sangat mendalam oleh para ilmuan. How did things happen? How will things happen? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang selalu berkecamuk pada pikiran para ilmuan.
Beberapa Fisikawan mungkin memiliki pertanyaan yang sangat mengagetkan, misalnya: Bagaimana alam semesta diciptakan? Terus terang pertanyaan ini merupakan sesuatu yang luar biasa, pertanyaan yang teramat sangat rumit. Perlu diketahui bahwa pertanyaan tersebut bukan untuk sekedar gaya-gayaan para Fisikawan, tetapi mereka benar-benar mencurahkan segala pikiran, tenaga, dana dan semua potensinya untuk menjawab pertanyaan tersebut. Yang sangat menarik, berkat kerja keras mereka, setiap saat mereka mendapatkan serpihan-serpihan jawaban, lalu serpihan-serpihan jawaban itu mereka rangkai secara terus-menerus tanpa kenal lelah, untuk menjawab pertanyaan: Bagaimana alam semesta diciptakan? Meski demikian, mereka tak pernah ingin menjawab pertanyaan lanjutannya: Mengapa alam semesta diciptakan?
Para Fisikawan dengan bidang penelitian yang lain, para Ahli Kimia, para Ahli Biologi, dan semua ilmuan juga sama. Mereka sangat serius dan mencurahkan segala potensi yang dimilikinya untuk menjawab pertanyaan mereka masing-masing tentang “how”, tetapi tidak tentang “why”.
Dari pertanyaan “how” memang telah menghasilkan perkembangan sains yang sangat mengagumkan. Einstein telah memberikan penjelasan yang mengagumkan tentang ruang-waktu, Hubble telah menjelaskan dengan sangat mencengangkan tentang Big-Bang dan pengembangan alam semesta dari pergeseran merah frekuensi radiasi bintang-bintang, Crick dan Watson telah menjelaskan tentang sangat menakjubkan tentang kompleksitas pewarisan sifat dan perkembangan makhluk hidup dengan bentuk spiral molekul DNA, dan beribu-ribu fenomena lain yang sangat menakjubkan. Bukan hanya sains, tetapi dengan menjawab pertanyaan “how” juga telah menghasilkan teknologi-teknologi canggih yang tak terlintas dalam pikiran generasi sebelumnya. Kini telah terdapat teknologi yang memungkinkan kita untuk mengobrol dengan teman dan keluarga yang berada di benua yang berbeda, tercipta “dunia maya” dengan media sosial, pesawat-pesawat ruang angkasa, berbagai organ tubuh tiruan, dan teknologi tinggi lainnya.
Namun demikian, pertanyaan dengan “why” tidak terjawab dengan memadai. Memang, para ilmua juga menjawab pertanyaan tentang “why”, tetapi hanya “why” yang berhubungan langsung dengan “how”. Misalnya pertanyaan: Mengapa apel jatuh? Dijawab oleh Newton, karena gravitasi bumi. Mengapa ada gravitasi bumi, dijawab Eisntein karena kehadiran massa benda yang mendistorsi ruang (space). Mengapa kehadiran massa suatu benda mendistorsi ruang? Belum terjawab hingga saat ini. Meskipun jawaban Newton dan Einstein tampak sebagai jawaban tentang “why”, tetapi sebenarnya masih jawaban tentang “how” atau bagaimana alama ini bekerja.
Pertanyaan tentang “why” yang sebenarnya belum terjawab, seperti pertanyaan: Mengapa alam semesta ini ada? Mengapa dunia ini ada? Mengapa ada gravitasi? Mengapa ada ruang dan waktu? Mengapa manusia hidup? Mengapa manusia dilahirkan dan akhirnya mati? Mengapa fenomena alam harus mengikuti hukum tertentu?
Semua pertanyaan “mengapa” ini memang dibiarkan tidak dijawab oleh para ilmuan. Ini pun memunculkan pertanyaan: Mengapa mereka tidak mau menjawabnya?
*****
Mengapa mereka tidak mau menjawab pertanyaan “mengapa”? Sebab mereka meyakini bahwa dalam filsafat ilmu, ilmu itu telah diklasifikasi menjadi berbagai cabang ilmu dan seorang ilmuan harus fokus dengan spesialisasi ilmu tertentu.
Seorang ilmuan fokus pada satu cabang ilmu. Mereka, setiap hari bahkan setiap saat, bergulat dan bergelut dengan spesialisasi ilmunya. Dengan demikian mereka menjadi pakar (expert) di bidang-nya masing-masing. Karena sangat fokus ini mereka mampu menemukan hal-hal baru pada bidangnya yang sangat mengagumkan. Seorang ilmuan ahli cacing misalnya, tiap hari ia bergulat dengan cacing, hingga “mengetahui” dengan detil tentang cacing, ibaratnya dari “ujung kuku hingga ujung rambutnya”. Tapi jangan pernah tanya mereka tentang semut. Dia akan menjawab dengan datar: “saya bukan ahli semut”. Demikian juga sikap pakar-pakar pada bidang yang lain. Sikap ini memang sangat positif, sehingga hanya hanya orang yang ahli di bidangnya yang akan bicara memberi penjelasan. Sementara orang yang tidak ahli di bidangnya, ia akan diam mendengarkan, tidak akan banyak bicara, apalagi “memberi fatwa” tanpa bekal ilmu yang cukup.
Para ilmuan, mereka sangat ahli tentang fenomena fisis pada bidangnya masing-masing.
Kembali ke pertanyaan “mengapa”, menurut mereka adalah pertanyaan metafisika, bukan pertanyaan fisika (fisis). Oleh karena itu, pertanyaan tentang “mengapa”, jawabannya bukan di ilmu pengetahuan, tetapi di agama. Jadi, sekulerisme memang menjadi paradigma ilmu. Jika selama ini kita mengetahui sekulerisme itu ada dalam politik-ekonomi-hukum, maka sekuler juga mejadi paradigma ilmu. Sains-teknologi dan agama itu dua hal yang berbeda. Sains dan teknologi itu berurusan dengan fenomena fisis, sementara fenomena meta-fisis itu hanya berhubungan dengan agama. Agama dan sains-teknologi tidak ada hubungannya sama sekali.
Terdapat banyak fenomena dimana jawaban agama dan sains-teknologi bahkan bertolak belakang terhadap suatu fenomena. Oleh karena itu mereka harus menerima “takdir” bahwa sains-teknologi dan agama memang dua hal yang berbeda, yang tidak berhubungan sama sekali. Keduanya terpisah sama sekali.
Sekedar contoh menurut doktrin “agama” (yang ada di Barat), bumi adalah pusat tata surya (geosentris), sebab manusia adalah makluk utama, dan makhluk utama pastilah ada di tempat utama, dan tempat utama pastilah sebagai pusat dan dikelilingi yang lain, bukan mengelilingi yang lain. Karena itu, bumi yang dihuni makhluk utama haruslah dikelilingi bulan, matahari, dan planet-planet yang lain. Sementara itu, sains yang dasarnya adalah observasi dan penarikan kongklusi secara logis menjelaskan bahwa bulan memang mengitari bumi, tetapi matahari tidak mengelilingi bumi. Bumi dan planet-planet yang lain justru berputar matahari (helio-sentris).
Contoh yang lain, menurut doktrin “agama” (yang ada di Barat) dikenal konsep trinitas, dan salah satunya adalah tuhan anak, yang lahir sekitar 2000 tahun yang lalu. Sementara menurut sains berdasarkan pengamatan teropong Hubble bahwa alam muncul melalui fenomena Big-Bang yang terjadi milyaran tahun yang lalu. Jika tuhan anak baru lahir 2000 tatun atau anggap saja jauh lebih lama sekitar 20.000 tahun, lalu siapa yang memunculkan alam semesta dan megaturnya dengan keteraturan yang menakjubkan dalam segala aspeknya sejak milyaran tahun lalu.
Inilah misalnya yang dikatakan dengan jujur oleh Fisikawan terkenal Lipson terkait dengan asal-usul alam semesta: “Satu-satunya penjelasan yang dapat diterima adalah PENCIPTAAN. Saya mengetahui bahwa hal ini adalah SANGAT HARAM dan TABU bagi ahli Fisika, bahkan bagi saya sekalipun, tetapi kita tidak bisa menolak sebuah teori yang tidak kita sukai jika bukti-bukti eksperimental benar-benar mendukungnya”. Mereka percaya pencipta, tetapi pencipta alam yang sebenarnya, bukan pencipta versi “agama” yang dinilainya irasional dan hanya kumpulan doktrin.
Dalam konstruksi paradigma Barat, “agama” dan sains memang dua hal yang berbeda dengan doktrin-doktrin dan filosofi yang berbeda. Orang harus memilih apakah percaya “agama” atau percaya sains. Orang tidak bisa percaya keduanya, karena keduanya memiliki doktrin yang saling kontradiktif. Bisa ditebak meski orang awam lebih percaya “agama”, tetapi para ilmuan tentu lebih percaya sains dan teknologi yang diperoleh dari hasil pengamatannya sendiri dan kolega-koleganya yang memiiki paradiga yang sama. Itulah mengapa para ilmuan tampak sebagai orang-orang “atheis” dan “sekuler” yang cenderung tak peduli dengan agama.
Karena itu, para ilmuan berusaha menghindari untuk menjawab pertanyaan tentang “why”, sebab itu pertanyaan tentang metafisika. Itu pertanyaanya “agama”, dan sangat tabu ilmuan bicara “agama”. Dengan bahasa “halus” mereka menjawab bahwa para ilmuan tidak fokus tentang urusan metafisika dan agama. Namun, sebagian ilmuan yang berani berterus terang, mereka menganggap agama hanyalah kumpulan pengabdi mitos, kumpulan orang-orang tak rasional, dan kumpulan orang-orang dengan pemikiran jumud.
Begitulah kira-kira gambaran paradigma ilmu pengetahuan saat ini. Paradigma tersebut tersebut telah mengkerangkeng ilmu dan para ilmuan pada zona sempit yang bersifat sangat teknis. Meskipun menghasilkan ledakan sains dan teknologi yang luar biasa, paradigma tersebut telah memenjara para ilmuan pada khususnya dan manusia pada umumnya untuk tidak berani menerobosnya pada pertanyaan yang membebaskan, yaitu: Mengapa dunia ini ada? Mengapa manusia hidup? Dan untuk apa hidup ini?
Konsekuensinya di Barat dan di dunia yang menjadikan Barat sebagai kiblat, terciptalah masyarakat atheis dan sekuler secara masif. Ini bukan fenomena yang terjadi secara kebetulan, tetapi terjadi secara sistematis oleh paradigma ilmu yang mereka gunakan.
*****
Tentu saja di mana pun selalu ada orang-orang yang berpikir out of the box, keluar dari zona aman dan nyaman, untuk kemudian menembus batas-batas yang dipagari oleh paradigma ilmu dan dianggap tabu oleh komunitas dan masyarakatnya.
Dr. Maurice Bucaille, misalnya. Dia berani dianggap tabu dan menembus batas pagar paradigma ilmu. Beliau beusaha meneliti secara obyektif, kebenaran sains dan kitab-kitab suci agama-agama. Peneliian dan penelusuran itu beliau tulis dalam bukunya yang terkenal “ La Bible le Coran et la Science”.
Dalam penelitiannya, Ia menempatkan Perjanjian Lama, Perjanjian Baru, dan Al-Qur’an yang dianggap sebagai kumpulan kitab agama-agama samawi. Menurut dia, alam adalah ciptaan Sang Pencipta dan kitab suci adalah firman Sang Pencipta. Oleh karena itu keduanya pasti menghasilkan kesimpulan yang sama pada fenomena yang sama. Tentu saja, sains adalah sesuatu yang progresif yang terus berkembang, demikian pula penafsiran kitab suci. Namun, ada suatu titik dimana hal-hal fundamental dianggap proven dan tidak mengalami perkembangan lagi kecuali pada hal-hal yang bersifat permukaan. Pada titik itulah, ia membandingkannya. Ia membandingkan bukan hanya satu fenomena alam, tetapi banyak fenomena alam yang dianggap proven dan sampai pada titik yang diyakini kebenarannya.
Dari penelitian tersebut, Ia memeperoleh kesimpulan bahwa terdapat keselarasan yang mengagumkan antara sains modern dengan al-qur’an, sebaliknya ia mendapat banyak fenomena yang kontradiktif antara sains modern dengan kitab suci yang lain. Dengan demikian, al-qur’an memang kitab suci yang berasal dari Sang Pencipta. Sedangkan selainnya, mungkin berasal dari Sang Pencipta, tapi mungkin mengalami perubahan-perubahan secara historis oleh pihak-pihak tertentu.
Terdapat ribuan ayat al-quran yang menantang manusia untuk mengkaji alam secara seksama dan mengkritisi kebenaran al-qur’an. “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi. Silih bergantinya malam dan siang. Berlayarnya bahtera di laut yang membawa apa yang berguna bagi manusia. Dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Ia hidupkan bumi sesudah matinya (kering). Dan Ia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan. Dan pengaturan angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi. Sesungguhnya (semua itu) terdapat tanda-tanda (Keesaan dan Kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan” (TQS. Al-Baqarah [2]: 164). “Katakanlah: (‘Kalau benar apa yang kamu katakan), maka cobalah datangkan sebuah surat yang menyerupainya (al-qur’an)” (TQS. Yunus [10]: 38).
Oleh karena, menganggap semua agama bertentangan dengan sains modern, merupakan cara pandang sempit yang dikungkung oleh opini sempit dan paradigma yang perlu dikoreksi. Agama itu tidak hanya satu, yaitu yang dominan di Barat. Di luar itu ada agama yang berbeda dengan agama yang dominan di Barat, yaitu Islam.
Namun, apakah para ilmuan menerima Islam begitu saja? Meski banyak yang akhirnya menemukan kebenaran di dalam Islam, tetapi banyak yang justru menganggap Islam lebih hina dibanding agama yang eksis di Barat. Jika di Barat, agama yang eksis hanya dianggap bertentangan dengan Sains, Islam lebih parah lagi sudahlah dianggap kontradiksi dengan Sains, Islam juga mengajarkan terorisme, pembunuhan, konflik, peperangan dan segala atribut negatif lainnya.
Inilah salah satu medan dakwah fikriyah yang juga harus dipikirkan oleh umat Islam. Atheisme dan sekulerisme tidak bisa diluruskan hanya dengan marah dan gebar-gembor. Atheisme, sosialisme, dan sekulerisme ini merupakan suatu paham tentang kehidupan yang bersemanyam dengan kuat di hati dan pikiran para pengikutnya. Pemikiran tersebut memiliki bangunan dan pondasi yang menopangnya. Meskipun kritik pada sebagian aplikasi praktisnya terkadang berdampak, tetapi selama paradigma dan fondasinya tidak berubah, maka secara keseluruhan tidak akan ada perubahan apa-apa.
Satu-satunya cara untuk mencabut dan membongkar paham tersebut hanya dengan menghadirkan pemahaman ideologi Islam dengan bahasa yang dapat dipahami mereka. Pada titik ini, battle for minds and hearts adalah battle yang sebenarnya. Inilah sebenarnya esensi dari dakwah fikriyah wa siyasiyah.
Wallahu a’lam.
Hikmah Tidak Dianugerahi Anak
Tatkala Allah 'Azza wa jalla menganugerahkan seorang anak kepada salah satu pasutri, artinya Dia 'Azza wa jalla hendak menambah aktivitas pasutri tersebut sebagai ujian. Demikian juga tatkala Allah 'Azza wa jalla mencegah hadirnya seorang anak dari salah satu pasutri, pun agar Dia 'Azza wa jalla melihat aktivitas mereka yang juga merupakan ujian.
Seandainya seseorang dalam usahanya tidak memperoleh hasil, tentu tidak mesti merupakan keburukan. Mungkin memang buruk menurut kita, namun semuanya tentu mengandung hikmah yang baik pula. Sebab, kebaikan dan keburukan, termasuk punya anak maupun tidak, merupakan fitnah, ujian dari-Nya.
وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. al-Anbiya' [21]: 35)
Bahwa dianugerahi anak ataukah tidak sama saja berarti diberi ujian oleh Allah 'Azza wa jalla. Semuanya agar manusia beramal yang paling baik menurut Allah dengan masing-masing ujian serta cobaannya.
Jadi, tidak punya anak pun menunjukkan bahwa di balik apa yang Allah kehendaki dari kita seluruhnya mengandung hikmah dan kebaikan.
لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثاً وَيَهَبُ لِمَن يَشَاءُ الذُّكُورَ. أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَاناً وَإِنَاثاً وَيَجْعَلُ مَن يَشَاءُ عَقِيماً إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ
“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia ciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha mengetahui lagi Maha kuasa.” (QS. asy-Syura [42]: 49-50)
Ibnu Katsir rahimahullah saat menafsirkan ayat tersebut, "Jadi, Allah 'Azza wa jalla menjadikan manusia itu empat golongan, ada yang diberi anak-anak perempuan, ada yang diberi anak-anak lelaki, ada yang diberi dua jenis anak-anak lelaki dan perempuan, dan ada yang Dia cegah (anak-anak) darinya yang laki-laki maupun yang perempuan. Sehingga Allah jadikan ia mandul, tidak punya keturunan dan tidak diturunkan anak buatnya. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui, yaitu terhadap siapa yang berhak mendapatkan masing-masing bagiannya dari keempat bagian tersebut. Maha Kuasa, yaitu atas apa yang Dia kehendaki berupa (menjadikan) manusia berbeda-beda seperti tersebut."
Beberapa Hikmah Tidak Punya Anak
Berikut ini beberapa hikmah di balik kehendak Allah 'Azza wa jalla tidak memberi anak kepada sebagian manusia:
1. Sebagai tanda kekuasaan Allah 'Azza wa jalla. Sebagaimana Dia kuasa menciptakan manusia dengan keempat golongannya tersebut.
Ketika Allah 'Azza wa jalla menciptakan Nabi Isa 'Alaihissalam dari seorang ibu tanpa ayah Allah 'Azza wa jalla sebutkan hikmahnya agar menjadi tanda dan sebagai rahmat. (QS. Maryam: 21)
Pun dalam hal tidak memberi anak, Allah 'Azza wa jalla hendak menunjukan kekuasaan-Nya yang mutlak atas seluruh makhluk, agar makhluk meyakini dan bertambah iman dengan mengetahui hikmah ini. Sebab, di antara hal yang menambah iman ialah mentadabburi tanda-tanda kekuasaan Allah atas makhluk-Nya. Tentu bertambahnya iman merupakan kebaikan yang diharapkan layaknya seorang anak yang diidamkan.
2. Agar Allah 'Azza wa jalla memberikan pahala yang lebih baik.
Tidak dipungkiri bahwa anak merupakan kebaikan. Namun tidak tentu kehadiran anak akan membuahkan pahala yang lebih baik. Bisa jadi tidak dianugerahi anak justru membuahkan pahala yang lebih baik dan lebih banyak lagi, hal ini sebagaimana yang tersirat dalam QS. al-Anfal [8]: 28).
Mengenai QS. al-Anfal: 28 Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan adalah sebagai berikut, "Yaitu, pahala-Nya, pemberian-Nya serta surga-Nya jauh lebih baik bagi kalian daripada harta maupun anak-anak. Sebab, terkadang ada anak-anak yang justru menjadi musuh, sedangkan kebanyakannya tidak memberi kecukupan bagimu sedikit pun (dari adzab-Nya). Sementara Allah 'Azza wa jalla, Dialah yang Maha mengatur, Maha merajai dan Pemilik dunia serta akhirat, juga dari-Nya ada pahala yang sangat besar, kelak di hari kiamat."
3. Menguatkan semangat beramal baik.
Ketika seorang mukmin mengetahui bahwa seluruh aktivitas kehidupannya merupakan ujian dan cobaan dari Allah, agar diketahui siapa yang paling baik amalannya, maka bagi yang tidak memiliki anak akan semakin semangat beramal kebaikan. Sebab, saat ia melihat saudaranya yang diberi anugerah anak oleh Allah 'Azza wa jalla, dia tahu bahwa itu ibarat medan amal bagi saudaranya. Medan untuk menambah amal shalih dengan memenuhi hak-hak anaknya. Sementara dia diberi medan amal yang berbeda. Dengan mengetahui hal ini seseorang akan terpupuk semangatnya untuk tidak mau kalah beramal meski ia tidak memiliki medan amal shalih seperti milik saudaranya.
4. Agar Allah mengingatkan kelemahan hamba-Nya sehingga tidak takabur lagi sombong.
Tatkala seseorang mengetahui saudaranya memiliki anak, dengan husnuzhan kepada Allah dan kepada saudaranya berarti ia mengetahui bahwa saudaranya itulah yang lebih layak mengasuh anak, mendidiknya serta mencukupi hak-haknya sehingga dianugerahi anak, bukan dirinya. Dengan begitu ia tidak akan sombong, namun tawadhu' di hadapan saudaranya semata-mata karena Allah, dan lebih dari itu ia semakin merendahkan diri di hadapan Allah 'Azza wa jalla.
5. Agar hamba-Nya memperbanyak memohon ampunan-Nya.
Tatkala seorang tahu bahwa dirinya banyak kelemahan dan kekurangan, ia akan memperbanyak istighfar. Memperbanyak istighfar merupakan sebab dianugerahkannya anak, selain merupakan kebaikan di atas kebaikan anak. Sehingga Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:
طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا
"Berbahagialah orang yang kelak mendapati lembaran catatan amalnya terdapat istighfar yang banyak. " (HR. Ibnu Majah: 3818, dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahihul Jami': 3930)
6. Agar Allah menunaikan hak-hak anak-anak yatim dan fakir miskin.
Bagi rumah tangga yang tidak dikaruniai anak akan mencari obat rindunya terhadap kehadiran anak dengan berbagai cara yang dibenarkan syariat. Di antara yang bisa jadi pilihan adalah menyantuni anak-anak yatim dan terlantar lantaran miskin. Sehingga dengannya Allah 'Azza wa jalla memenuhi hak-hak mereka untuk disantuni.
7. Agar Allah 'Azza wa jalla melihat siapa yang berusaha mendapatkan anugerah anak dengan cara yang diridhai-Nya dari siapa yang bermaksiat kepada-Nya.
Syaikh Abu Bakar al-Jazairi mengatakan, "Dan tidak mengapa melakukan terapi penyembuhan dengan cara yang disyariatkan tatkala dirasa ada kemandulan. Adapun apa yang sekarang mulai bermunculan berupa bank-bank mani, atau mengusahakan kehamilan dengan cara menuangkan ovum (orang lain) yang telah dibuahi air mani orang lain (bukan suaminya) ke dalam farji perempuan mandul dan semisalnya maka itu semua merupakan perbuatan orang-orang ateis yang tidak beragama untuk Allah dengan ketaatan dan berserah diri terhadap qadha'-Nya, meski pelakunya puasa, shalat dan mengaku beriman. Sebab, tiada lagi rasa malu bagi mereka, dan tidak ada iman bagi orang yang tidak punya malu. Cukuplah keburukan perilaku kaum ini tatkala mereka membuka aurat-aurat tidak untuk menyelamatkan kehidupan dan bukan atas keridhaan Allah Rabb langit dan bumi."
8. Agar Allah tetapkan halalnya poligami dan haramnya zina.
Sebab poligami merupakan alternatif yang baik untuk usaha memiliki anak. Poligami dihalalkan, adapun selingkuh, berzina dan semisalnya adalah haram.
9. Menguatkan kualitas kesabaran seorang hamba.
Tatkala tidak punya anak dinilai sebuah keburukan, maka ia merupakan cambuk yang menggiatkan hamba agar meningkatkan kesabarannya. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Katsir rahimahullah tatkala menafsirkan surat al-Anbiya' ayat 35, "Yaitu Kami uji kalian terkadang dengan berbagai musibah dan terkadang dengan berbagai kenikmatan, agar Kami melihat siapa yang bersyukur dari yang kufur dan siapa yang bersabar dari yang berputus asa."
Inilah sebagian hikmah dari rumah tangga yang belum memiliki anak. Tentunya masih terlalu banyak hikmah yang hanya Allah 'Azza wa jalla saja yang mengetahuinya sehingga hanya berserah diri kepada qadha'-Nya dengan berharap seluruh kebaikan yang harus kita upayakan.
وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئاً وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. al-Baqarah: 216)
Wallahul muwaffiq.
[Disalin dari Majalah al-Mawaddah Vol.48_1433H/2012M]




