MENGAPA PARA ILMUAN BANYAK YANG ATHEIS ATAU SEKULER?


Ustadz Muhammad Choirul Anam

Semakin dalam seseorang mengkaji ilmu pengetahuan dan alam ini, maka akan semakin dalam keimanannya kepada Allah swt, sebab mereka melihat dengan “mata kepala” sendiri keselarasan dan ketepatan semua proses yang terjadi di alam ini. Dan semua itu mustahil terjadi dengan sendirinya sebagai peristiwa kebetulan, sebab sebuah keteraturan pastilah ada yang mengaturnya. Sebuah proses kebetulan hanya mungkin terjadi sesekali pada proses sederhana, tetapi keteraturan pada proses yang sangat kompleks secara kontinyu hanya terjadi pada proses yang diatur atau dikendalikan atau terencana dengan sangat baik. Pengendali dan perencana alam yang sangat menakjubkan ini pastilah sesuatu yang Maha Cerdas dan Maha Sempurna. Dialah kausa prima, ujung dari segala ujung pencarian, sumber dari segala sumber energi, asal dari segala eksistensi, Dialah Pencipta alam semesta, Allah swt.

Dengan pernyataan tersebut, mestinya para ilmuan itu merupakan orang-orang dengan keimanan yang menghunjam, tetapi mengapa realitasnya justru banyak ilmuan yang atheis atau minimal tidak menganggap penting agama? Apa yang sebenarnya terjadi pada dunia ilmu pengetahuan sekarang?

*****
Kebanyakan orang sering menjawab bahwa mereka atheis atau sekuler karena belum mendapat hidayah. Meskipun jawaban ini mungkin cukup memuaskan bagi sebagian orang, tetapi bagi sebagian orang lain belum cukup memuaskan. Sebab, hidayah merupakan proses kompleks yang hanya diketahui hasil akhirnya. Sebagian orang terkadang ingin tahu prosesnya dan alasan yang lebih rasional di balik suatu fenomena, termasuk fenomena banyaknya ilmuan yang atheis atau minimal menganggap bahwa agama bukan sesuatu yang penting.

Dr. Salim Frederick dalam bukunya yang bejudul “Political and Cultural Invasion” menganalisis bahwa fenomena banyaknya ilmuan yang atheis atau tidak menganggap penting agama sangat erat hubugannya dengan paradigma ilmu yang mereka yakini dan ini merupakan bagian integral dari filsafat ilmu saat ini. Salah satunya, ilmu pengetahuan telah direduksi hanya untuk menjawab pertanyaan “how (bagaimana)”, tetapi dianggap tabu untuk menjawab “why (mengapa)”. Bahkan seandainya, pertanyaan “why” diajukan, itu pun hanya sekedar untuk membantu menjawab pertanyaan “how”. Pertanyaan tentang “how” inilah yang dikejar dan diteliti dengan sangat mendalam oleh para ilmuan. How did things happen? How will things happen? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang selalu berkecamuk pada pikiran para ilmuan.

Beberapa Fisikawan mungkin memiliki pertanyaan yang sangat mengagetkan, misalnya: Bagaimana alam semesta diciptakan? Terus terang pertanyaan ini merupakan sesuatu yang luar biasa, pertanyaan yang teramat sangat rumit. Perlu diketahui bahwa pertanyaan tersebut bukan untuk sekedar gaya-gayaan para Fisikawan, tetapi mereka benar-benar mencurahkan segala pikiran, tenaga, dana dan semua potensinya untuk menjawab pertanyaan tersebut. Yang sangat menarik, berkat kerja keras mereka, setiap saat mereka mendapatkan serpihan-serpihan jawaban, lalu serpihan-serpihan jawaban itu mereka rangkai secara terus-menerus tanpa kenal lelah, untuk menjawab pertanyaan: Bagaimana alam semesta diciptakan? Meski demikian, mereka tak pernah ingin menjawab pertanyaan lanjutannya: Mengapa alam semesta diciptakan?

Para Fisikawan dengan bidang penelitian yang lain, para Ahli Kimia, para Ahli Biologi, dan semua ilmuan juga sama. Mereka sangat serius dan mencurahkan segala potensi yang dimilikinya untuk menjawab pertanyaan mereka masing-masing tentang “how”, tetapi tidak tentang “why”.

Dari pertanyaan “how” memang telah menghasilkan perkembangan sains yang sangat mengagumkan. Einstein telah memberikan penjelasan yang mengagumkan tentang ruang-waktu, Hubble telah menjelaskan dengan sangat mencengangkan tentang Big-Bang dan pengembangan alam semesta dari pergeseran merah frekuensi radiasi bintang-bintang, Crick dan Watson telah menjelaskan tentang sangat menakjubkan tentang kompleksitas pewarisan sifat dan perkembangan makhluk hidup dengan bentuk spiral molekul DNA, dan beribu-ribu fenomena lain yang sangat menakjubkan. Bukan hanya sains, tetapi dengan menjawab pertanyaan “how” juga telah menghasilkan teknologi-teknologi canggih yang tak terlintas dalam pikiran generasi sebelumnya. Kini telah terdapat teknologi yang memungkinkan kita untuk mengobrol dengan teman dan keluarga yang berada di benua yang berbeda, tercipta “dunia maya” dengan media sosial, pesawat-pesawat ruang angkasa, berbagai organ tubuh tiruan, dan teknologi tinggi lainnya.

Namun demikian, pertanyaan dengan “why” tidak terjawab dengan memadai. Memang, para ilmua juga menjawab pertanyaan tentang “why”, tetapi hanya “why” yang berhubungan langsung dengan “how”. Misalnya pertanyaan: Mengapa apel jatuh? Dijawab oleh Newton, karena gravitasi bumi. Mengapa ada gravitasi bumi, dijawab Eisntein karena kehadiran massa benda yang mendistorsi ruang (space). Mengapa kehadiran massa suatu benda mendistorsi ruang? Belum terjawab hingga saat ini. Meskipun jawaban Newton dan Einstein tampak sebagai jawaban tentang “why”, tetapi sebenarnya masih jawaban tentang “how” atau bagaimana alama ini bekerja.

Pertanyaan tentang “why” yang sebenarnya belum terjawab, seperti pertanyaan: Mengapa alam semesta ini ada? Mengapa dunia ini ada? Mengapa  ada gravitasi? Mengapa ada ruang dan waktu? Mengapa manusia hidup? Mengapa manusia dilahirkan dan akhirnya mati? Mengapa fenomena alam harus mengikuti hukum tertentu?

Semua pertanyaan “mengapa” ini memang dibiarkan tidak dijawab oleh para ilmuan. Ini pun memunculkan pertanyaan: Mengapa mereka tidak mau menjawabnya?

*****
Mengapa mereka tidak mau menjawab pertanyaan “mengapa”? Sebab mereka meyakini bahwa dalam filsafat ilmu, ilmu itu telah diklasifikasi menjadi berbagai cabang ilmu dan seorang ilmuan harus fokus dengan spesialisasi ilmu tertentu.

Seorang ilmuan fokus pada satu cabang ilmu. Mereka, setiap hari bahkan setiap saat, bergulat dan bergelut dengan spesialisasi ilmunya. Dengan demikian mereka menjadi pakar (expert) di bidang-nya masing-masing. Karena sangat fokus ini mereka mampu menemukan hal-hal baru pada bidangnya yang sangat mengagumkan. Seorang ilmuan ahli cacing misalnya, tiap hari ia bergulat dengan cacing, hingga “mengetahui” dengan detil tentang cacing, ibaratnya dari “ujung kuku hingga ujung rambutnya”. Tapi jangan pernah tanya mereka tentang semut. Dia akan menjawab dengan datar: “saya bukan ahli semut”. Demikian juga sikap pakar-pakar pada bidang yang lain. Sikap ini memang sangat positif, sehingga hanya hanya orang yang ahli di bidangnya yang akan bicara memberi penjelasan. Sementara orang yang tidak ahli di bidangnya, ia akan diam mendengarkan, tidak akan banyak bicara, apalagi “memberi fatwa” tanpa bekal ilmu yang cukup.

Para ilmuan, mereka sangat ahli tentang fenomena fisis pada bidangnya masing-masing.

Kembali ke pertanyaan “mengapa”, menurut mereka adalah pertanyaan metafisika, bukan pertanyaan fisika (fisis). Oleh karena itu, pertanyaan tentang “mengapa”, jawabannya bukan di ilmu pengetahuan, tetapi di agama. Jadi, sekulerisme memang menjadi paradigma ilmu. Jika selama ini kita mengetahui sekulerisme itu ada dalam politik-ekonomi-hukum, maka sekuler juga mejadi paradigma ilmu. Sains-teknologi dan agama itu dua hal yang berbeda. Sains dan teknologi itu berurusan dengan fenomena fisis, sementara fenomena meta-fisis itu hanya berhubungan dengan agama. Agama dan sains-teknologi tidak ada hubungannya sama sekali.

Terdapat banyak fenomena dimana jawaban agama dan sains-teknologi bahkan bertolak belakang terhadap suatu fenomena. Oleh karena itu mereka harus menerima “takdir” bahwa sains-teknologi dan agama memang dua hal yang berbeda, yang tidak berhubungan sama sekali. Keduanya terpisah sama sekali.

Sekedar contoh menurut doktrin “agama” (yang ada di Barat), bumi adalah pusat tata surya (geosentris), sebab manusia adalah makluk utama, dan makhluk utama pastilah ada di tempat utama, dan tempat utama pastilah sebagai pusat dan dikelilingi yang lain, bukan mengelilingi yang lain. Karena itu, bumi yang dihuni makhluk utama haruslah dikelilingi bulan, matahari, dan planet-planet yang lain. Sementara itu, sains yang dasarnya adalah observasi dan penarikan kongklusi secara logis menjelaskan bahwa bulan memang mengitari bumi, tetapi matahari tidak mengelilingi bumi. Bumi dan planet-planet yang lain justru berputar  matahari (helio-sentris).

Contoh yang lain, menurut doktrin “agama” (yang ada di Barat) dikenal konsep trinitas, dan salah satunya adalah tuhan anak, yang lahir sekitar 2000 tahun yang lalu. Sementara menurut sains berdasarkan pengamatan teropong Hubble bahwa alam muncul melalui fenomena Big-Bang yang terjadi milyaran tahun yang lalu. Jika tuhan anak baru lahir 2000 tatun atau anggap saja jauh lebih lama sekitar 20.000 tahun, lalu siapa yang memunculkan alam semesta dan megaturnya dengan keteraturan yang menakjubkan dalam segala aspeknya sejak milyaran tahun lalu.

Inilah misalnya yang dikatakan dengan jujur oleh Fisikawan terkenal Lipson terkait dengan asal-usul alam semesta: “Satu-satunya penjelasan yang dapat diterima adalah PENCIPTAAN. Saya mengetahui bahwa hal ini adalah SANGAT HARAM dan TABU bagi ahli Fisika, bahkan bagi saya sekalipun, tetapi kita tidak bisa menolak sebuah teori yang tidak kita sukai jika bukti-bukti eksperimental benar-benar mendukungnya”. Mereka percaya pencipta, tetapi pencipta alam yang sebenarnya, bukan pencipta versi “agama” yang dinilainya irasional dan hanya kumpulan doktrin.

Dalam konstruksi paradigma Barat, “agama” dan sains memang dua hal yang berbeda dengan doktrin-doktrin dan filosofi yang berbeda. Orang harus memilih apakah percaya “agama” atau percaya sains. Orang tidak bisa percaya keduanya, karena keduanya memiliki doktrin yang saling kontradiktif. Bisa ditebak meski orang awam lebih percaya “agama”, tetapi para ilmuan tentu lebih percaya sains dan teknologi yang diperoleh dari hasil pengamatannya sendiri dan kolega-koleganya yang memiiki paradiga yang sama. Itulah mengapa para ilmuan tampak sebagai orang-orang “atheis” dan “sekuler” yang cenderung tak peduli dengan agama.

Karena itu, para ilmuan berusaha menghindari untuk menjawab pertanyaan tentang “why”, sebab itu pertanyaan tentang metafisika. Itu pertanyaanya “agama”, dan sangat tabu ilmuan bicara “agama”. Dengan bahasa “halus” mereka menjawab bahwa para ilmuan tidak fokus tentang urusan metafisika dan agama. Namun, sebagian ilmuan yang berani berterus terang, mereka menganggap agama hanyalah kumpulan pengabdi mitos, kumpulan orang-orang tak rasional, dan kumpulan orang-orang dengan pemikiran jumud.

Begitulah kira-kira gambaran paradigma ilmu pengetahuan saat ini. Paradigma tersebut tersebut telah mengkerangkeng ilmu dan para ilmuan pada zona sempit yang bersifat sangat teknis. Meskipun menghasilkan ledakan sains dan teknologi yang luar biasa, paradigma tersebut telah memenjara para ilmuan pada khususnya dan manusia pada umumnya untuk tidak berani menerobosnya pada pertanyaan yang membebaskan, yaitu: Mengapa dunia ini ada? Mengapa manusia hidup? Dan untuk apa hidup ini?

Konsekuensinya di Barat dan di dunia yang menjadikan Barat sebagai kiblat, terciptalah masyarakat atheis dan sekuler secara masif. Ini bukan fenomena yang terjadi secara kebetulan, tetapi terjadi secara sistematis oleh paradigma ilmu yang mereka gunakan.

*****
Tentu saja di mana pun selalu ada orang-orang yang berpikir out of the box, keluar dari zona aman dan nyaman, untuk kemudian menembus batas-batas yang dipagari oleh paradigma ilmu dan dianggap tabu oleh komunitas dan masyarakatnya.

Dr. Maurice Bucaille, misalnya. Dia berani dianggap tabu dan menembus batas pagar paradigma ilmu. Beliau beusaha meneliti secara obyektif, kebenaran sains dan kitab-kitab suci agama-agama. Peneliian dan penelusuran itu beliau tulis dalam bukunya yang terkenal “ La Bible le Coran et la Science”.

Dalam penelitiannya, Ia menempatkan Perjanjian Lama, Perjanjian Baru, dan Al-Qur’an yang dianggap sebagai kumpulan kitab agama-agama samawi. Menurut dia, alam adalah ciptaan Sang Pencipta dan kitab suci adalah firman Sang Pencipta. Oleh karena itu keduanya pasti menghasilkan kesimpulan yang sama pada fenomena yang sama. Tentu saja, sains adalah sesuatu yang progresif yang terus berkembang, demikian pula penafsiran kitab suci. Namun, ada suatu titik dimana hal-hal fundamental dianggap proven dan tidak mengalami perkembangan lagi kecuali pada hal-hal yang bersifat permukaan. Pada titik itulah, ia membandingkannya. Ia membandingkan bukan hanya satu fenomena alam, tetapi banyak fenomena alam yang dianggap proven dan sampai pada titik yang diyakini kebenarannya.

Dari penelitian tersebut, Ia memeperoleh kesimpulan bahwa terdapat keselarasan yang mengagumkan antara sains modern dengan al-qur’an, sebaliknya ia mendapat banyak fenomena yang kontradiktif antara sains modern dengan kitab suci yang lain. Dengan demikian, al-qur’an memang kitab suci yang berasal dari Sang Pencipta. Sedangkan selainnya, mungkin berasal dari Sang Pencipta, tapi mungkin mengalami perubahan-perubahan secara historis oleh pihak-pihak tertentu.

Terdapat ribuan ayat al-quran yang menantang manusia untuk mengkaji alam secara seksama dan mengkritisi kebenaran al-qur’an. “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi. Silih bergantinya malam dan siang. Berlayarnya bahtera di laut yang membawa apa yang berguna bagi manusia. Dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Ia hidupkan bumi sesudah matinya (kering). Dan Ia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan. Dan pengaturan angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi. Sesungguhnya (semua itu) terdapat tanda-tanda (Keesaan dan Kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan” (TQS. Al-Baqarah [2]: 164). “Katakanlah: (‘Kalau benar apa yang kamu katakan), maka cobalah datangkan sebuah surat yang menyerupainya (al-qur’an)” (TQS. Yunus [10]: 38).

Oleh karena, menganggap semua agama bertentangan dengan sains modern, merupakan cara pandang sempit yang dikungkung oleh opini sempit dan paradigma yang perlu dikoreksi. Agama itu tidak hanya satu, yaitu yang dominan di Barat. Di luar itu ada agama yang berbeda dengan agama yang dominan di Barat, yaitu Islam.

Namun, apakah para ilmuan menerima Islam begitu saja? Meski banyak yang akhirnya menemukan kebenaran di dalam Islam, tetapi banyak yang justru menganggap Islam lebih hina dibanding agama yang eksis di Barat. Jika di Barat, agama yang eksis hanya dianggap bertentangan dengan Sains, Islam lebih parah lagi sudahlah dianggap kontradiksi dengan Sains, Islam juga mengajarkan terorisme, pembunuhan, konflik, peperangan dan segala atribut negatif lainnya.

Inilah salah satu medan dakwah fikriyah yang juga harus dipikirkan oleh umat Islam. Atheisme dan sekulerisme tidak bisa diluruskan hanya dengan marah dan gebar-gembor. Atheisme, sosialisme, dan sekulerisme ini merupakan suatu paham tentang kehidupan yang bersemanyam dengan kuat di hati dan pikiran para pengikutnya. Pemikiran tersebut memiliki bangunan dan pondasi yang menopangnya. Meskipun kritik pada sebagian aplikasi praktisnya terkadang berdampak, tetapi selama paradigma dan fondasinya tidak berubah, maka secara keseluruhan tidak akan ada perubahan apa-apa.

Satu-satunya cara untuk mencabut dan membongkar paham tersebut hanya dengan menghadirkan pemahaman ideologi Islam dengan bahasa yang dapat dipahami mereka. Pada titik ini, battle for minds and hearts adalah battle yang sebenarnya. Inilah sebenarnya esensi dari dakwah fikriyah wa siyasiyah.

Wallahu a’lam.

Hikmah Tidak Dianugerahi Anak

Tatkala Allah 'Azza wa jalla menganugerahkan seorang anak kepada salah satu pasutri, artinya Dia 'Azza wa jalla hendak menambah aktivitas pasutri tersebut sebagai ujian. Demikian juga tatkala Allah 'Azza wa jalla mencegah hadirnya seorang anak dari salah satu pasutri, pun agar Dia 'Azza wa jalla melihat aktivitas mereka yang juga merupakan ujian.

Seandainya seseorang dalam usahanya tidak memperoleh hasil, tentu tidak mesti merupakan keburukan. Mungkin memang buruk menurut kita, namun semuanya tentu mengandung hikmah yang baik pula. Sebab, kebaikan dan keburukan, termasuk punya anak maupun tidak, merupakan fitnah, ujian dari-Nya. 

وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. al-Anbiya' [21]: 35)

Bahwa dianugerahi anak ataukah tidak sama saja berarti diberi ujian oleh Allah 'Azza wa jalla. Semuanya agar manusia beramal yang paling baik menurut Allah dengan masing-masing ujian serta cobaannya.

Jadi, tidak punya anak pun menunjukkan bahwa di balik apa yang Allah kehendaki dari kita seluruhnya mengandung hikmah dan kebaikan.

لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثاً وَيَهَبُ لِمَن يَشَاءُ الذُّكُورَ. أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَاناً وَإِنَاثاً وَيَجْعَلُ مَن يَشَاءُ عَقِيماً إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ

“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia ciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha mengetahui lagi Maha kuasa.” (QS. asy-Syura [42]: 49-50)

Ibnu Katsir rahimahullah saat menafsirkan ayat tersebut, "Jadi, Allah 'Azza wa jalla menjadikan manusia itu empat golongan, ada yang diberi anak-anak perempuan, ada yang diberi anak-anak lelaki, ada yang diberi dua jenis anak-anak lelaki dan perempuan, dan ada yang Dia cegah (anak-anak) darinya yang laki-laki maupun yang perempuan. Sehingga Allah jadikan ia mandul, tidak punya keturunan dan tidak diturunkan anak buatnya. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui, yaitu terhadap siapa yang berhak mendapatkan masing-masing bagiannya dari keempat bagian tersebut. Maha Kuasa, yaitu atas apa yang Dia kehendaki berupa (menjadikan) manusia berbeda-beda seperti tersebut."

Beberapa Hikmah Tidak Punya Anak 

Berikut ini beberapa hikmah di balik kehendak Allah 'Azza wa jalla tidak memberi anak kepada sebagian manusia:

1. Sebagai tanda kekuasaan Allah 'Azza wa jalla. Sebagaimana Dia kuasa menciptakan manusia dengan keempat golongannya tersebut.

Ketika Allah 'Azza wa jalla menciptakan Nabi Isa 'Alaihissalam dari seorang ibu tanpa ayah Allah 'Azza wa jalla sebutkan hikmahnya agar menjadi tanda dan sebagai rahmat. (QS. Maryam: 21)

Pun dalam hal tidak memberi anak, Allah 'Azza wa jalla hendak menunjukan kekuasaan-Nya yang mutlak atas seluruh makhluk, agar makhluk meyakini dan bertambah iman dengan mengetahui hikmah ini. Sebab, di antara hal yang menambah iman ialah mentadabburi tanda-tanda kekuasaan Allah atas makhluk-Nya. Tentu bertambahnya iman merupakan kebaikan yang diharapkan layaknya seorang anak yang diidamkan.

2. Agar Allah 'Azza wa jalla memberikan pahala yang lebih baik.

Tidak dipungkiri bahwa anak merupakan kebaikan. Namun tidak tentu kehadiran anak akan membuahkan pahala yang lebih baik. Bisa jadi tidak dianugerahi anak justru membuahkan pahala yang lebih baik dan lebih banyak lagi, hal ini sebagaimana yang tersirat dalam QS. al-Anfal [8]: 28).

Mengenai QS. al-Anfal: 28 Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan adalah sebagai berikut, "Yaitu, pahala-Nya, pemberian-Nya serta surga-Nya jauh lebih baik bagi kalian daripada harta maupun anak-anak. Sebab, terkadang ada anak-anak yang justru menjadi musuh, sedangkan kebanyakannya tidak memberi kecukupan bagimu sedikit pun (dari adzab-Nya). Sementara Allah 'Azza wa jalla, Dialah yang Maha mengatur, Maha merajai dan Pemilik dunia serta akhirat, juga dari-Nya ada pahala yang sangat besar, kelak di hari kiamat."

3. Menguatkan semangat beramal baik.

Ketika seorang mukmin mengetahui bahwa seluruh aktivitas kehidupannya merupakan ujian dan cobaan dari Allah, agar diketahui siapa yang paling baik amalannya, maka bagi yang tidak memiliki anak akan semakin semangat beramal kebaikan. Sebab, saat ia melihat saudaranya yang diberi anugerah anak oleh Allah 'Azza wa jalla, dia tahu bahwa itu ibarat medan amal bagi saudaranya. Medan untuk menambah amal shalih dengan memenuhi hak-hak anaknya. Sementara dia diberi medan amal yang berbeda. Dengan mengetahui hal ini seseorang akan terpupuk semangatnya untuk tidak mau kalah beramal meski ia tidak memiliki medan amal shalih seperti milik saudaranya.

4. Agar Allah mengingatkan kelemahan hamba-Nya sehingga tidak takabur lagi sombong.

Tatkala seseorang mengetahui saudaranya memiliki anak, dengan husnuzhan kepada Allah dan kepada saudaranya berarti ia mengetahui bahwa saudaranya itulah yang lebih layak mengasuh anak, mendidiknya serta mencukupi hak-haknya sehingga dianugerahi anak, bukan dirinya. Dengan begitu ia tidak akan sombong, namun tawadhu' di hadapan saudaranya semata-mata karena Allah, dan lebih dari itu ia semakin merendahkan diri di hadapan Allah 'Azza wa jalla.

5. Agar hamba-Nya memperbanyak memohon ampunan-Nya.

Tatkala seorang tahu bahwa dirinya banyak kelemahan dan kekurangan, ia akan memperbanyak istighfar. Memperbanyak istighfar merupakan sebab dianugerahkannya anak, selain merupakan kebaikan di atas kebaikan anak. Sehingga Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:

طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا

"Berbahagialah orang yang kelak mendapati lembaran catatan amalnya terdapat istighfar yang banyak. " (HR. Ibnu Majah: 3818, dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahihul Jami': 3930)

6. Agar Allah menunaikan hak-hak anak-anak yatim dan fakir miskin.

Bagi rumah tangga yang tidak dikaruniai anak akan mencari obat rindunya terhadap kehadiran anak dengan berbagai cara yang dibenarkan syariat. Di antara yang bisa jadi pilihan adalah menyantuni anak-anak yatim dan terlantar lantaran miskin. Sehingga dengannya Allah 'Azza wa jalla memenuhi hak-hak mereka untuk disantuni.

7. Agar Allah 'Azza wa jalla melihat siapa yang berusaha mendapatkan anugerah anak dengan cara yang diridhai-Nya dari siapa yang bermaksiat kepada-Nya.

Syaikh Abu Bakar al-Jazairi mengatakan, "Dan tidak mengapa melakukan terapi penyembuhan dengan cara yang disyariatkan tatkala dirasa ada kemandulan. Adapun apa yang sekarang mulai bermunculan berupa bank-bank mani, atau mengusahakan kehamilan dengan cara menuangkan ovum (orang lain) yang telah dibuahi air mani orang lain (bukan suaminya) ke dalam farji perempuan mandul dan semisalnya maka itu semua merupakan perbuatan orang-orang ateis yang tidak beragama untuk Allah dengan ketaatan dan berserah diri terhadap qadha'-Nya, meski pelakunya puasa, shalat dan mengaku beriman. Sebab, tiada lagi rasa malu bagi mereka, dan tidak ada iman bagi orang yang tidak punya malu. Cukuplah keburukan perilaku kaum ini tatkala mereka membuka aurat-aurat tidak untuk menyelamatkan kehidupan dan bukan atas keridhaan Allah Rabb langit dan bumi."

8. Agar Allah tetapkan halalnya poligami dan haramnya zina.

Sebab poligami merupakan alternatif yang baik untuk usaha memiliki anak. Poligami dihalalkan, adapun selingkuh, berzina dan semisalnya adalah haram.

9. Menguatkan kualitas kesabaran seorang hamba.

Tatkala tidak punya anak dinilai sebuah keburukan, maka ia merupakan cambuk yang menggiatkan hamba agar meningkatkan kesabarannya. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Katsir rahimahullah tatkala menafsirkan surat al-Anbiya' ayat 35, "Yaitu Kami uji kalian terkadang dengan berbagai musibah dan terkadang dengan berbagai kenikmatan, agar Kami melihat siapa yang bersyukur dari yang kufur dan siapa yang bersabar dari yang berputus asa."

Inilah sebagian hikmah dari rumah tangga yang belum memiliki anak. Tentunya masih terlalu banyak hikmah yang hanya Allah 'Azza wa jalla saja yang mengetahuinya sehingga hanya berserah diri kepada qadha'-Nya dengan berharap seluruh kebaikan yang harus kita upayakan.

وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئاً وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. al-Baqarah: 216)

Wallahul muwaffiq.

[Disalin dari Majalah al-Mawaddah Vol.48_1433H/2012M]

Sepuluh Tesis Anti Kebencian Terhadap Islam

Seorang politikus dari partai CDU (Kristen-Demokrat) yang pernah 18 tahun duduk di parlemen Jerman, Jürgen Todenhöfer, telah membaca Quran.

Setelah membaca, mengamati dan berpikir, Todenhöfer menulis. Hasilnya: sebuah buku “Feinbild Islam – Zehn Thesen Gegen Hass” (Potret Buruk Islam – Sepuluh Tesis Anti Kebencian), yang terbit di akhir tahun 2011. Berikut ringkasannya:

1. Barat Lebih “Brutal“ dari Dunia Islam

Todenhöfer, dalam tesis pertama, mengingatkan fakta sejarah yang sering terlupa di dua abad terakhir. Barat jauh lebih brutal daripada dunia Muslim. Jutaan warga sipil Arab tewas sejak kolonialisme dimulai. Atas nama kolonialisasi, Prancis pernah membunuh lebih dari dua juta penduduk sipil di Aljazair, dalam kurun waktu 130 tahun. Atas nama kolonialisasi, Italia pernah menggunakan phosphor dan gas mustard untuk menghabisi penduduk sipil di Libya. Atas nama kolonialisasi, Spanyol juga pernah menggunakan senajata kimia di Marokko.

Tidak berbeda di era setelah perang dunia kedua. Dalam invansi perang Teluk kedua, semenjak tahun 2003, UNICEF menyebutkan, 1,5 juta penduduk sipil Irak terbunuh. Sepertiganya anak-anak. Tidak sedikit dari korban terkontaminasi amunisi uranium. Di Baghdad, hampir setiap rumah kehilangan satu anggota keluarganya.

Sebaliknya, di dua abad terakhir, tidak satu pun negara islam menyerang, mengintervensi, mengkolonialisasi Barat. Perbandingan jumlah korban mati (dunia Islam: dunia Barat) adalah 10:1. Problema besar dunia, di dua abad belakangan ini, bukan kebrutalan Islam, tapi kebrutalan beberapa negara-negara Barat.

2. Mempromosikan Anti-Terorisme, Melahirkan Terorisme

Terorisme jelas tidak dibenarkan. Menilik secara objektiv, terorisme justru lahir dari politik anti-terorisme Barat yang keliru.

“Seorang pemuda muslim,” tulis Todenhöfer, “yang secara rutin memantau berita di televisi, hari demi hari, tahun demi tahun, akan situasi di Irak, Afghanistan, Pakistan, Palestina dan di tempat lain, di mana perempuan, anak-anak dan penduduk sipil, dihabisi oleh Barat dengan brutal, justru diprovokasi untuk menjadi seorang teroris.”

Beruntung saja, sebagian besar pemuda islam tidak terpancing. Mereka memilih jalan yang berbeda. Di Tunisia, Mesir, Libya, Marokko, dan negara-negara muslim lainnya, mereka menjawab ketidak-adilan yang menimpa mereka melalui jalan demokrasi dan teriakan kebebasan, bukan teror dan kekerasan.

3. Terorisme: Fenomena Dunia, Bukan Fenomena Islam

Pemeo favorit di setiap diskursi bertemakan terorisme: “Tidak setiap muslim teroris, tapi seluruh teroris adalah muslim.” Selain jauh dari benar, dengan data dan fakta, propaganda ini mudah dipatahkan.

Data resmi Badan Kepolisian Eropa, Europol, menyebutkan: Dari 249 aksi teror di tahun 2010, hanya tiga yang pelakunya berlatar belakang Islam. Bukan 200, bukan 100 – tapi tiga! Data di tahun-tahun sebelumnya, juga tidak kalah mengejutkan: Dari 294 aksi terror di tahun 2009, hanya satu yang berlatar belakang Islam. Hanya satu dari 515 aksi teror di tahun 2008. Hanya empat dari 583 di tahun 2007.

4. Hukum Internasional untuk Semua

Di hadapan hukum internasional, dunia Barat selalu mentematisir, dan merekam dengan baik, 3500 korban terorisme yang jatuh atas nama “teror-Islam“ semenjak pertengahan 1990-an (termasuk korban WTC, pada 11/9). Tapi mengapa ratusan-ribu warga sipil yang terbunuh dalam intervensi di Irak tidak pernah ditematisir?

Lebih jauh, Todenhöfer bertanya kritis: “mengapa elite Barat, tidak pernah sekalipun menimbang; membawa George W. Bush dan Tony Blair ke hadapan mahkamah internasional, atas serangan sepihaknya ke Irak? Apakah hukum internasional hanya berlaku untuk orang-orang non-Barat?“.

Perang, bukan jawaban untuk aksi-aksi terorisme. Perang, hanya manis untuk mereka yang tidak mengenalnya. Teroris yang membunuh orang-orang tidak berdosa, bukanlah pejuang kebebasan, bukan pahlawan, bukan pula syuhada. Mereka mengkhianati agama mereka. Mereka adalah pembunuh.

5. Muslim, Toleransi dan “Perang Suci“

Bukan Muslim, yang atas nama kolonialisasi membunuh 50 juta nyawa di seantero Afrika dan Asia. Bukan Muslim, yang atas nama perang dunia pertama dan kedua menghabiskan 70 juta nyawa. Bukan pula Muslim, yang menggencarkan genosida terhadap 6 juta orang-orang Yahudi.

Islam tidak mengenal kata suci dalam kaitannya dengan perang. Jihad bermakna sungguh-sungguh di jalan Tuhan. Tidak ada satu tempat pun di Quran yang memaknakan jihad dengan perang suci. Karena perang tidak pernah suci, dan kesucian hanya ada di jalan perdamaian.

6. Kontekstual Quran dan Islam-Teroris

Permasalahan besar dalam perdebatan Quran di dunia Barat, adalah setiap orang bernafsu membicarakannya, sangat-sangat sedikit yang pernah membacanya.

Sebagian besar mereka tidak lagi rasional dan ilmiah. Hanya mengutip beberapa tekstual yang mengesankan islam pro “perang” tanpa pernah mau tahu konteksnya. Padahal pesan-pesan Quran yang dikesankan seperti itu, spesifik diterima Muhammad, dalam konteks perlawanan antara penduduk Mekkah dan Madinah, waktu itu.

Seperti Musa dan Isa, Muhammad tidak dilahirkan pada situasi dunia yang sedang vakum, apalagi damai. Mereka hadir pada saat moralitas dunia bobrok, penuh perang, perjuangan dan perlawanan. Adalah sangat lumrah beberapa tekstual yang terkesan pro “perang” itu bisa ditemukan di Quran, semudah bisa ditemukan di kitab Perjanjian Lama dan kitab Perjanjian Baru.

Secara semantis, diksi “islam-teroris”, “kristen-teroris” atau “yahudi-teroris” adalah sebuah penyesatan bahasa. Terorisme, menurut Todenhöfer, berdiri di atas instrumen setan, tidak boleh dikaitkan dengan kesucian Tuhan dan keagamaan. Memang benar, di dalam Islam, Kristen, atau Yahudi ada ideologi teror – tapi bukan ajaran agamanya. Ideologi ini tidak mengantarkan mereka ke surga, tapi ke neraka.

7. Fakta atau fake?

Kalimat andalan kritikus anti-Islam di barat: “siapa yang menginginkan panggilan azan terdengar di kota-kota kami, harus membiarkan juga lonceng gereja berbunyi di kota-kota mereka!”

Barat mengidentifikasi jilbab sebagai simbol pengekangan dan ketertindasan. Dari survey resmi, wanita-wanita pemakai jilbab, yang begitu dipedulikan barat itu, justru berkata bukan (atas kesadaran pribadi). Sinisme jilbab, sebagian besar justru datang dari mereka yang tidak berjilbab dan anti-jilbab. Memaksa seseorang berjilbab, jelas menyalahi hak asasi. Tidak jauh berbeda, dari prosesi pemaksaan untuk melepasnya.

Barat menuduh perempuan-perempuan islam tidak berpendidikan. Fakta dari dunia islam menjawab lain. Secara statistis, perempuan di negara-negara mayoritas islam, justru lebih berpendidikan dibanding Barat: 30% Profesor di Mesir perempuan, padahal di Jerman jumlahnya hanya sekitar 20%. Lebih dari 60% mahasiswa di Iran adalah perempuan. Di Uni Emirat Arab, sudah semenjak tahun 2007, mahasiswa perempuan menginjak angka yang sulit dipercaya: 77%.

8. Seorang Muslim = Seorang Yahudi = Seorang Kristen

Tidak ada seorang bayi pun terlahir sebagai seorang teroris. Barat harus memperlakukan seorang Muslim, persis seperti seperti mereka memperlakukan seorang Kristen atau Yahudi.

Tidak jarang kita dengar politikus dan aktivis Barat, demonstratif, mengumbar kalimat penuh kebencian terhadap Islam. Frank Graham, penasehat George W. Bush, menyebut Islam sebagai “agama iblis dan sihir”. Politikus kanan Belanda, Geert Wilders, menyebut Islam sebagai “agama fasis”. Thilo Sarrazin, politikus Jerman memberikan thesis: “secara genetis, anak-anak dari keluarga Islam, dilahirkan di bawah tingkat kecerdasan rata-rata.”

Bayangkan sejenak, jika Frank Graham, Greet Wilders, dan Thilo Sarrazin mengganti objek tesis-nya bukan kepada “Islam”, tetapi menjadi “Yahudi” atau “Kristen”. Tidakkah ucapan seperti itu akan menjadi badai kemarahan yang dahsyat? Mengapa Barat boleh mengatakan hal-hal penuh fasistik dan rassist terhadap Islam, yang justru di kalangan orang-orang Kristen dan Yahudi sesuatu yang tabu? Barat harus mengakhiri demonisasi Islam dan Muslim.

9. Muslim Melawan Teror

Di tesis kesembilan, Todenhöfer mengajak umat Islam, melalui sebuah reformasi sosial, menjejak Nabi Muhammad yang berjuang untuk sebuah Islam yang beradab dan toleran. Untuk tatanan ekonomi dan politik yang dinamis, bukan statis – sambil mempertahankan identitas keagamaannya. Untuk persamaan yang penuh, pria dan wanita. Untuk kebebasan beragama yang nyata.

Tidak seperti politikus umumnya, Muhammad, bukan seorang reaksioner. Dia adalah seorang revolusioner, berani berpikir dan berani mematahkan belenggu tradisi. Islam di masa Muhammad bukanlah agama stagnan, apalagi regresif, tetapi pembaruan dan perubahan. Muhammad berjuang untuk perubahan sosial, ia pahlawan orang miskin dan orang lemah. Dia mengangkat hak-hak kaum perempuan, yang di periode sebelumnya nyaris tidak ada.

Muhammad bukan seorang fanatik atau seorang ekstrimis. Dia hanya ingin membawa orang-orang Arab, yang kala itu terjebak pada belenggu politeistik, untuk kembali ke sumber aslinya yang murni, agama Ibrahim, persis seperti yang disuarakan Musa dan Isa.

Terorisme, yang berada di sekelumit dunia Islam pada hari ini adalah distorsi ajaran Muhammad. Ini adalah kejahatan melawan Islam. Dunia Islam tidak boleh membiarkan citra baik Islam, yang dibangun Muhammad 14 abad yang lalu, dihancurkan seketika oleh ideologi kriminal ini. Dunia Islam perlu memerangi ideologi terorisme ini, persis seperti Muhammad memerangi berhala-berhala dari periode pra-Islam.

10. Politik Bukan Perang

Kalimat bijak pernah mengajarkan: “ketika kamu tidak bisa menaklukan musuhmu, peluk dia!”

Masalah kompleks di Timur tengah, hanya bisa diselesaikan dengan jalur politik, bukan dengan perang. Barat harus membuka pintu diskusi yang lebih lebar untuk dunia Islam. Barat harus membuka ruang bilateral dan unilateral lebih besar untuk negara-negara Arab. Kesatuan dan stabilitas yang perah terjadi di Uni Eropa, nyatanya, tidak berdiri di atas invansi senjata, tapi di atas politik diplomatisasi yang penuh visi.

Sebuah visi akan sebuah dunia, yang setiap negara di dalamnya dihargai. Sebuah penghargaan yang tanpa diskriminasi. Politik anti-diskriminasi yang dibangun di atas keadilan dan kebebasan, bukan perang, apalagi penindasan.

Yudi Nurul Ihsan
Mahasiswa Indonesia S3 di Jerman

Jika Perang Badar Terjadi Saat Ini

BREAKING NEWS

Ramadhan 2 H / Maret 624 M

Serangan Teroris di Badar, 70 Tentara Quraisy Tewas

Sebuah serangan teroris brutal berlangsung di barat daya Madinah kemarin. Sekitar 70 tentara Quraisy tewas pada pertempuran termasuk beberapa tokoh penting Quraisy. Serangan ini telah dilakukan oleh Negara Islam, yang baru dibentuk oleh Muhammad bin Abdullah yang berbasis di Madinah. Negara Islam ini telah berkembang sebagai ancaman dunia internasional.

Insiden itu terjadi setelah para teroris berusaha menyerang konvoi perniagaan yang dipimpin oleh Abu Sufyan yg bergerak dari Syria ke Makkah. Teroris berencana menjarah konvoi, namun Abu Sufyan mampu menyelamatkan rombongan dengan memutar arah setelah mendapat laporan intelijen.
 
Berdasarkan laporan intelijen pula, pemerintah Quraisy yang berpusat di Makkah segera mengirim sekitar seribu personil tentara bersenjata lengkap untuk menyerbu para teroris yang berjumlah sekitar tiga ratus orang itu.

Aksi penyerbuan ini ternyata berakhir dengan kekalahan telak tentara Makkah yg dikomandani oleh jendral Abu Jahal. Pihak Quraisy mengalami kerugian besar dalam perang di Badar ini, dimana sekitar 70 tentara tewas dan 70 lainnya tertawan. Sedangkan teroris Islam yang tewas hanya sekitar 14 orang.

Pemimpin Quraisy, Abu Sufyan mengatakan kepada media bahwa mereka akan menumpas sesegera mungkin para teroris yang dipimpin oleh Muhammad bin Abdullah ini. Ia berjanji akan menggalang kekuatan koalisi internasional untuk mengakhiri pemerintahan teroris Islam yang berpusat di Madinah itu.

***
Demikianlah jika Perang Badar diberitakan saat ini dengan propaganda media. Dan masihkah kita mempercayai? Dan masihkah kita akan menjadikan mereka sebagai referensi?
 

Disaat Barat Menganggap Bumi Datar

Ilmuwan Muslim Sudah Ciptakan Bola Bumi

Palermo, Sicilia 1138 M. Sebuah pertemuan istimewa antara seorang raja Kristen dengan seorang ilmuwan Muslim berlangsung di istana kerajaan Sicilia. Dalam suasana penuh keakraban, Raja Roger II - penguasa Sicilia secara khusus menyambut kedatangan tamu Muslim kehormatannya itu dengan 'karpet merah'.

Sang ilmuwan Muslim itu pun dipersilakan untuk duduk di tempat kehormatan. Keduanya lalu berbincang dalam sebuah pertemuan yang boleh dibilang tak lazim itu. Betapa tidak, di saat umat Islam berjihad melawan tentara Perang Salib di Yerusalem, dua peradaban yang berseberangan justru duduk berdampingan dengan penuh keharmonisan di Sicilia bekas wilayah kekuasaan Islam. 

Ilmuwan Muslim yang mendapat undangan kehormatan dari Raja Roger II itu bernama Al-Idrisi. Dia adalah geografer dan kartografer (pembuat peta) termasyhur di abad ke-12 M. Kepopuleran Al-Idrisi dalam dua bidang ilmu sosial itu telah membuat sang raja yang beragama Nasrani itu kepincut. Apalagi, Raja Roger II sangat tertarik dengan studi geografi.

Raja Roger II mengundang Al-Idrisi ke istananya yang megah agar dibuatkan peta oleh sang ilmuwan Muslim. Pada era itu, belum ada ahli geografi dan kartografi Kristen Eropa yang mumpuni untuk membuat sebuah peta dunia secara akurat. "Saat itu, para ahli geografi dan kartografi Barat masih menggunakan pendekatan simbolis dan fantasi," ungkap Frances Carney Gie dalam tulisannya berjudul Al-Idrisi And Roger’s Book.

Alih-alih menggunakan pendekatan ilmiah seperti yang dilakukan para ilmuwan Muslim, para sarjana Barat ternyata masih bertumpu pada hal-hal mistis dan tradisional dalam membuat peta. Sehingga, tak ada jalan lain bagi Raja Roger II untuk memenuhi ambisinya membuat sebuah peta dunia yang akurat. Ia pun harus berbesar hati meminta bantuan kepada ilmuwan Islam.

Dalam pertemuan bersejarah itu, Raja Roger II dan Al-Idrisi pun bersepakat untuk membuat peta dunia pertama yang akurat. Proyek besar itu pun dirancang. Al-Idrisi dan Raja Roger II bersepakat proyek pembuatan peta dunia itu akan diselesaikan dalam tempo 15 tahun. Guna mewujud kan ambisinya, didirikanlah akademi geografer yang dipimpin Raja Roger II dan Al-Idrisi.

Megaproyek pembuatan peta dunia itu melibatkan 12 sarjana, sebanyak 10 orang di antaranya adalah ilmuwan Muslim. Adalah berkah tersendiri bagi Al-Idrisi bisa mengerjakan pembuatan peta itu di kota Palermo. Sebab, di kota itulah para navigator dari berbagai wilayah seperti Mediterania, Atlantik dan perairan utara kerap bertemu. Al-Idrisi menggali informasi dari setiap navigator yang tengah beristirahat di Palermo.

Ia bersama timnya mewawancarai dan menggali pengalaman para navigator. Penjelasan dari seorang navigator akan dikonfrontir kepada navigator lainnya. Hasil kajiannya itu lalu dirumuskan. Selama bertahun-tahun, Al-Idrisi menyaring fakta-fakta yang berhasil dikumpulkannya. Ia hanya menggunakan keterangan dan penjelasan yang paling jelas sebagai acuan membuat peta. Menjelang tenggat waktu yang ditetapkan, peta yang diinginkan Raja Roger II pun akhirnya selesai dibuat, tepat pada tahun 1154 M.

"Saat raja tak lagi ambil bagian secara aktif, saya selesaikan peta ini," papar Al- Idrisi dalam pengantar kitab Nuzhat Al- Mustaq fi Ikhtirak Al-Afaq yang ditulisnya. Sebagai seorang geografer yang meyakini bahwa bumi itu berbentuk bulat, Al-Idrisi secara gemilang membuat peta bola bumi alias globe dari perak. Bola bumi yang diciptakannya itu memiliki berat sekitar 400 kilogram.
Dalam globe itu, Al-Idrisi menggambarkan enam benua dengan dilengkapi jalur perdagangan, danau, sungai, kota-kota utama, daratan serta gunung-gunung. Tak cuma itu, globe yang dibuatnya itu juga sudah memuat informasi mengenai jarak, panjang dan tinggi secara tepat. Guna melengkapi bola bumi yang dirancangnya, Al-Idrisi pun menulis buku berjudul Al- Kitab al- Rujari atau Buku Roger yang didedikasikan untuk sang raja.

Selain menulis Buku Roger, Al-Idrisi pun sempat merampungkan penulisan kitab Nuzhat al-Mushtaq fi Ikhtiraq al- Afaq. Ini adalah ensiklopedia geografi yang berisi peta serta informasi mengenai negara-negara di Eropa, Afrika dan Asia secara rinci. Setelah itu, dia juga menyusun sebuah ensiklopedia yang lebih komprehensif bertajuk: Rawd-Unnas wa- Nuzhat al-Nafs.

Selama mendedikasikan dirinya di Sicilia - sebuah provinsi otonom yang berada di Selatan Italia - Al-Idrisi telah membuat hampir 70 peta daerah yang sebelumnya tak tercatat dalam peta. Al-Idrisi terbilang amat fenomenal. Dua abad sebelum Marco Polo menjelajahi samudera, dia sudah memasukkan seluruh benua seperti Eropa, Asia, Afrika, dan utara Equa dor ke dalam peta yang diciptakannya.

Lalu siapa Al-Idrisi sebenarnya? Sejatinya, ilmuwan kesohor itu bernama lengkap Abu Abdullah Muhammad Ibnu Al-Idrisi Ash- Sharif, kelahiran Ceuta, Maroko, Afrika Utara pada tahun 1100 M. Dia dikenal juga dengan nama singkat Al-Sharif Al-Idrisi Al-Qurtubi. Orang Barat memanggilnya dengan sebutan Edrisi atau Dreses.

Al-Idrisi merupakan ilmuwan Muslim yang mendapatkan pendidikan di kota Cordoba, Spanyol. Sejak muda, dia sudah tertarik dengan studi geografi. Laiknya geografer kebanyakan, Al-Idrisi juga sempat menjelajahi banyak tempat yang jaraknya terbilang jauh meliputi Eropa dan Afrika Utara. Dia sembat mengembara ke Prancis, Spanyol, Portugal, Inggris dan negeri lainnya di belahan benua Eropa.

Dia melakukan pengembaraan untuk mengumpulkan data-data tentang geografi. Pada masa itu, para geografer Muslim sudah mampu mengukur permukaan bumi serta akurat serta peta seluruh dunia. Sebagai ilmuwan yang cerdas, Al-Idrisi, mengkombinasikan pengetahuan yang diperolehnya dengan hasil penemuannya. Itulah yang membuat pengetahuannya terhadap seluruh bagian dunia sangat komprehensif.

Pengetahuannya yang luas tentang geografi dan kartografi membuatnya dikenal dunia. Para navigator laut dan ahli strategi militer pun begitu tertarik dan menaruh perhatian terhadap pemikiran Al-Idrisi. Dibandingkan geografer Muslim lainnya, figur dan hasil karya Al-Idrisi lebih kesohor di benua Eropa. Al- Idrisi meninggal pada tahun 1160 M di Sicilia.

Al-Idrisi dan Zoologi
Selain dikenal sebagai geografer dan kartografer, Al-Idrisi juga turut memberi sumbangan bagi pengembangan studi zoologi dan botani. Kontribusinya yang terbilang penting bagi pengembangan ilmu hayat itu dituliskannya dalam beberapa buku. Ia begitu intens mengkaji ilmu pengobatan dengan tumbuh- tumbuhan.

Tak heran, jika ilmu Botani berkembang pesat di Cordoba, Spanyol - tempat Al-Idrisi menimba ilmu. Salah satu buku botaninya yang paling terkenal berjudul Kitab al-Jami-li-Sifat Ashtat al-Nabatat. Dalam kitab itu, Al-Idrisi mengulas dan menggabungkan semua literatur dari berbagai topik tentang botani yang khusus mengkaji pengobatan tumbuh-tumbuhan.

Al-Idrisi pun mulai mengelompokkan nama-nama tanaman obat dalam beberapa bahasa termasuk Berber, Suriah, Persia, India, Yunani, dan Latin. Buku-buku yang ditulisnya begitu berpengaruh bagi para sarjana dan Ilmuwan di Eropa. Sicilia - tempat Al-Idrisi mendedikasikan diri untuk pengembangan ilmu pengetahuan diyakini sebagai gerbang transfer ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikuasai Islam kepada peradaban Barat.

Saat dia diundang Raja Roger II ke istana Palermo, minat dan keingintahuan Barat terhadap ilmu pengetahuan yang dikuasai peradaban Islam sedang membuncah. Seperti halnya umat Islam di abad ke-8 M yang melakukan transfer pengetahuan dari peradaban sebelumnya, sarjana Barat pun banyak yang menerjemahkan buku- buku Al-Idrisi.

Baik itu buku tentang geografi, kartografi, zoologi dan botani yang ditulisnya diterjemahkan para sarjana Barat ke dalam bahasa Latin. Malah, salah satu buku yang ditulisnya dialihbahasakan dan dipublikasikan di Roma pada tahun 1619 M. Sayangnya, ada sarjana Barat berupaya menutupi keberhasilan Al-Idrisi dengan cara tak mencantumkan namanya dalam buku yang diterjemahkan di Eropa.

Pengakuan Dunia pada Sang Ilmuwan
Sosok Al-Idrisi di benua Eropa memang tergolong sangat fenomenal. Selama berabad-abad, peta yang dibuatnya telah digunakan peradaban Barat. Maklum, pada masa itu belum ada sarjana Barat yang mampu membuat peta dunia yang akurat. Peta yang diciptakan Al-Idrisi itu pun digunakan para penjelajah Barat untuk berkeliling dunia.

Tanpa peta Al-Idrisi, boleh jadi Chistopher Columbus tak bisa menginjakkan kakinya di benua Amerika. Menurut Dr A Zahoor dalam tulisannya berjudul Al-Idrisi, saat melakukan ekspedisi mengelilingi dunia, Columbus menggunakan peta yang dibuat Al- Idrisi. Inilah salah salah satu fakta lainnya yang dapat mematahkan klaim Barat bahwa Columbus merupakan penemu benua Amerika yang pertama.

Ilmuwan Barat bernama Scott mengakui kehebatan dan kepiawaian Al-Idrisi dalam merancang dan membuat peta dunia yang begitu akurat. Menurut Scott, selama tiga abad lamanya peta yang dibuat Al-Idrisi dijiplak para geografer tanpa mengubahnya sedikit pun. Itu membuktikan betapa para geografer Barat begitu mengagumi dan mengakui kapasitas keilmuwan Al- Idrisi.

"Kompilasi yang disusun Al-Idrisi menandai sebuah era dalam sejarah sains. Tak hanya informasi historisnya saja yang sangat bernilai dan memikat, namun penjelasannya tentang beberapa bagian dunia masih berlaku," papar Scott mengakui karya yang telah disumbangkan Al-Idrisi. Atas pencapaiannya dalam membuat peta dunia yang begitu akurat, Al-Idrisi mendapat hadiah dari Raja Roger berupa ratusan ribu keping perak serta sebuah kapal yang penuh dengan barang cenderamata.

I AM MUSLIM AND I LOVE JESUS, Peace Be Upon Him

Miris rasanya banyak di antara kita yg serampangan dalam berdebat dengan umat Kristiani dengan mengejek Yesus Kristus. Padahal, Yesus Kristus adalah salah satu dari Nabi kita juga yg harus kita junjung beliau.

Semua ini disebabkan di antara kita masih ada yg menyangka bahwa Yesus Kristus bukanlah Nabi Isa as. Padahal, Yesus Kristus dan Isa Al Masih adalah nama personal yg sama, anaknya dari Ibunda Maryam.

Yg berbeda antara Islam dan Kristen bukan antara nama 'Isa' dan 'Yesus'-nya, melainkan pada 'cara pandang' kepada beliau.

Kristen :
Yesus/Isa adalah anak Tuhan, Tuhan yg berinkarnasi sebagai manusia, salah satu oknum dari 3 oknum Tuhan, mati disalib dan menebus dosa manusia.

Islam :
Yesus/Isa adalah Nabi dan Rasul terakhir bagi Bani Israil, hanyalah seorang manusia, ditugaskan memberi kabar gembira kepada manusia bahwa akan lahir Nabi akhir zaman, Muhammad shallallahu alaihi wasallam, dan beliau TIDAK DISALIB dan diangkat oleh Allah swt.

Jika Yesus dan Isa adalah 2 person yg berbeda, untuk apa ada ayat-ayat Al Quran yg menolak keyakinan Trinitas Nasrani (silakan dilihat Q.S. Annisa, 4:171 dan Q.S. Al Maidah, 5:73)? Tidak akan berguna jika personnya 2 orang yg berbeda.

Al Quran terjemah bahasa Inggris, Jerman, Spanyol dan lainnya pun menerjemahkan Isa menjadi Jesus (perlu diingat bahwa penterjemahan Al Quran pun dilakukan dan diawasi oleh para jumhur ulama dengan berbagai keahlian, kealiman dan keshalihan yg luar biasa).

Q.S. Ali Imran, 3 : 59

إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ ۖ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

"Indeed, the example of Jesus to Allah is like that of Adam. He created Him from dust; then He said to him, "Be," and he was." -english (1)

"Wahrlich, Jesus ist vor Allah gleich Adam; Er erschuf ihn aus Erde, als dann sprach Er zu ihm: Sei! und da war er." - Germany (2)

"Pour Allah, Jésus est comme Adam qu'Il créa de poussière, puis Il lui dit: «Sois»: et il fut." - French (2a)

"O exemplo de Jesus, ante Deus, é idêntico ao de Adão, que Ele criou do pó, então lhe disse: Seja! e foi." -Portuguese (2b)ُ

"In de oogen van God is Jezus gelijk aan Adam; hij schiep hem uit stof en zeide: Zij, en hij was." -Dutch (2c)ُ

"In verità, per Allah Gesù è simile ad Adamo, che Egli creò dalla polvere, poi disse: “Sii”, ed egli fu." -Italiano (2d)

"Ciertamente, para Dios, la naturaleza de Jesús es como la naturaleza de Adán, a quien Él creó de tierra y luego le dijo: "Sé" --y es." -Spanish (2e)

"Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia."

NAMA ASLI NABI ISA

Kita semua sepakat bukan? Bahwa Nabi Isa dan kitab Injil tidak berbahasa Arab, melainkan bahasa Aram/Suryani dengan Bahasa Ibrani sebagai Bahasa Sastra dan Peribadatan.

Bahasa Aram berkerabat dengan Bahasa Arab dan juga Bahasa Ibrani.

Nama Ibrani beliau adalah יְהוֹשֻׁעַ (Yehosua) artinya Tuhan Menyelamatkan.

Kemudian dalam bahasa Aram biasa disingkat menjadi (ישוע) Yesua. Dan disebabkan Bani Israel dan Bait Al Maqdis dan Palestina kala itu dijajah Kerajaan Romawi yang berbahasa Yunani maka semua nama orang Israel, diwajibkan di-yunani-kan atau disebut Helenisasi. Sehingga nama beliau menjadi ησοῦς (Iēsoûs) dan menjadi bahasa Latin Iesus dan menjadi bahasa Inggris Jesus dan ditulis Yesus dalam Bahasa Indonesia.

Sementara itu, nama beliau dikenal bangsa Arab dalam Bahasa Arab dialek Quraisy dengan lafal Isa (عيسى). Dan Al Quran berbahasa Arab dialek Quraisy, oleh karenanya Allah menggunakan Bahasa Arab dalam wahyunya.

Ini hanyalah masalah metamorfosis nama disebabkan perbedaan lidah dan bahasa.

Sementara "Kristus" adalah gelar yang berasal daribahasa Yunani Χριστός (Christós), yang berasal dari bahasa Ibrani מָשִׁיחַ (Ha-Meshiakh) attau dalam Bahasa Inggris 'Mesias'.

Dalam bahasa Arab, kata Ha-Meshiakh sepadan dengan Al Masih yg berarti yg mengusapi, mengusap, membelai, orang pilihan dst.

Q.S. An Nisaa' , 4 : 172

لَنْ يَسْتَنْكِفَ الْمَسِيحُ أَنْ يَكُونَ عَبْدًا لِلَّهِ وَلَا الْمَلَائِكَةُ الْمُقَرَّبُونَ ۚ وَمَنْ يَسْتَنْكِفْ عَنْ عِبَادَتِهِ وَيَسْتَكْبِرْ فَسَيَحْشُرُهُمْ إِلَيْهِ جَمِيعًا

"Al Masih sekali-kali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah, dan tidak (pula enggan) malaikat-malaikat yang terdekat (kepada Allah). Barangsiapa yang enggan dari menyembah-Nya, dan menyombongkan diri, nanti Allah akan mengumpulkan mereka semua kepada-Nya.َ"

"Never would the Messiah disdain to be a servant of Allah, nor would the angels near [to Him]. And whoever disdains His worship and is arrogant - He will gather them to Himself all together."

MENCINTAI SEMUA NABI, TERMASUK YESUS KRISTUS

Q.S. Al-Baqarah, 2 : 285

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ ۚ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

"Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat". (Mereka berdoa): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali".

MENCINTAINYA tentu dengan memberi salam tatkala disebut namanya, alaihissalam, dan menghargai beliau seperti Nabi Allah. Mencintai namun tidak berlebihan dengan MENUHANKANNYA.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

لاَ تُطْرُوْنِيْ كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، إِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ، فَقُوْلُوْا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُوْلُهُ.

"Janganlah kalian berlebih-lebihan memujiku, sebagaimana orang-orang Nasrani telah berlebih-lebihan memuji (Isa) putera Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah, 'Abdullah wa Rasuluh (hamba Allah dan RasulNya)'." (Muttafaq 'alaih).

Sementara itu, NATAL, adalah HARI RAYA KAUM KRISTEN yg menuhankannya. Yg bahkan tidak ada perintah dalam Alkitab, bahkan kaum generasi awal Gereja, tidak merayakannya bahkan membencinya sebab meniru budaya Pagan yg merayakan kelahiran, seperti Firaun dan Herodes.

KESIMPULAN

1. Yesus Kristus dan Isa Al Masih adalah 1 orang yg sama, hanya beda bahasa. Yesus bahasa Yunani, dan Isa bahasa Arab. Sementara Nama beliau dalam Bahasa Aram adalah Yesua.

2. Yg berbeda adalah cara pandang terhadap beliau dan kisah penyaliban beliau. Mereka (kaum Nasrani) dalam keraguan yang nyata tentang beliau. Dan Injil (menurut Islam) dipenuhi distorsi dalam sejarah perkembangan Kekristenan.

3. Umat Islam wajib mengimani dan mencintai beliau yg termasuk Nabi Ulul Azmi, dengan mencintai beliau selaku makhluk Allah dan Rasulullah, bukan Tuhan, Inkarnasi Tuhan atau anak Tuhan.

4. Mencintai beliau (Nabi Isa as) harus sesuai dengan tata cara yg diajarkan Nabi Muhammad saw. Baginda saw tidak pernah mengajarkan merayakan kelahiran. Bahkan Baginda saw tegas melarang memakai pakaian pendeta dan bahkan melarang menyerupai pakaian dan ciri khas kaum Nasrani.

5. Dalam perdebatan harus pakai ilmu dan adab. Dalam Islam bahkan kita dilarang menghina tuhan-tuhan lain yg disembah orang kafir, khawatir orang kafir akan menghina Allah tanpa ilmu.

Wallahu a'lam bish shawab.

***
Biasanya kalau panjang begini ada saja yg gagal paham. Sederhananya begini.

Tentunya umat Kristiani akan menggunakan cara pandang mereka sebagaimana saya sebutkan di atas. Ya silakan-silakan saja. Perdebatan panjang mengenai hal ini sudah berlangsung berabad-abad. Bahkan sejak Rasulullah Muhammad saw masih ada. Kita menghormatinya. Dan inilah toleransi.

Ada pun kita sebagai umat Islam, tentunya juga menggunakan cara pandang kita yg telah banyak disebutlan dalam Al Quran. Mereka pun mestinya menghormati cara pandang kita. Inilah namanya toleransi.
#AMI
#SelamatkanIndonesia
#LintasanPikiran

Negara Kaya Bernama Indonesia

Kepulauan Indonesia adalah salah satu wilayah yang memiliki kondisi geologi yang paling menarik di dunia. Menarik karena gugusan kepulauannya dibentuk oleh tumbukan lempeng-lempeng tektonik besar.

Indonesia diapit 3 lempeng tektonik besar, lempeng2 inilah yang menjadi segala sebab ilmiah kebencanaan Geologi di Indonesia, tapi 3 lempeng inilah yang menyebabkan alasan Indonesia disebut sebagai Negara Kaya akan sumber daya dan kesuburan.

Mereka adalah lempeng Indo-Australia yang bergerak cenderung mengarah ke utara dengan kecepatan rata-rata 6,8 cm per tahun hingga 7,5 cm per tahun; kemudian Lempeng Eurasia yang cenderung pasif (tidak bergerak); dan Lempeng samudera Pasifik yang cenderung bergerak kearah barat dengan kecepatan rata-rata 12 cm per tahun. Lajur tumbukan bagian selatan ini menyebabkan adanya deretan gunung api yang seperti berjajar berurutan rapi mulai dari gunung Agam di Aceh, Kerinci di Jambi, Krakatau di Selat Sunda, menyebrang ke pulau Jawa; gunung Gede Pangrango di Bogor, Merapi di Yogya, Semeru dan Raung di Jawa Timur, gunung Agung di Bali, terus hingga ke timur gunung Rinjani di Lombok, Tambora di Sumbawa.

Indonesia punya 127 gunung api aktif dengan 5 juta populasi yang tinggal di sekitarnya. Jumlah ini membuat Indonesia jadi negara terkaya potensi energi panas bumi. 40% potensi panas bumi dunia ada di Indonesia.

Kementerian ESDM (2013) memperkirakan kapasitas seluruh cadangan dan sumber daya energi panas bumi di Indonesia mencapai 28.994 MWe (megawatt listrik). Jumlah energi tersebut, jika menggunakan BBM, setara lebih dari 200 milyar barrel minyak.

Sayangnya dari potensi besar energi panas bumi di Indonesia, baru kurang dari 4 persen saja yang telah dimanfaatkan. Tidak banyak pembangkit listrik tenaga panas bumi yang telah beroperasi di Indonesia. Dari yang sedikit tersebut antara lain : PLTP Sibayak di Sumatera Utara, PLTP Salak (Jawa Barat), PLTP Dieng (Jawa Tengah), dan PLTP Lahendong (Sulawesi Utara).

Memang sungguh disayangkan jika potensi panas bumi yang sedemikian besarnya, belum dapat dimanfaatkan dengan maksimal oleh Indonesia. Indonesia masih memilih keukeuh  dengan sumber energi berbahan bakar fosil yang berdampak besar pada pemanasan global, itupun belum mencukupi kebutuhan energi nasional.

Renungan Bagi Yang Ulang Tahun

Rasulullah mengatakan bahwa umur rata-rata umatnya berkisar antara 60-70 tahun. Itu artinya, bila seseorang sudah berumur di sekitar 30-35 besar kemungkinan separuh umurnya sudah berlalu. Itu pun kalau dia diberi jatah umur sebanyak itu. Bila jatahnya kurang dari sekian tentu umur yang tersisa lebih sedikit dari yang sudah berlalu.

Dengan demikian, tidak sepantasnya lagi seseorang menghitung maju usianya bila angka 30 sudah terlewati. Seharusnya dia mulai menghitung mundur umurnya. Yang ada di dalam ingatannya adalah tinggal berapa lagi jatah yang tersisa?

Bila kita sadar hal ini, perayaan ulang tahun itu hanya indah bagi anak-anak yang belum mencapai usia baligh. Karena sampai saat itu Allah memberikan nikmat hidup kepadanya tanpa ada catatan dosa yang akan memberatkannya di akhirat.

Sedangkan bagi yang sudah lewat usia baligh, atas dasar apa dia berbahagia hingga harus merayakannya. Umur semakin berkurang, dosa semakin menumpuk, sementara bekal untuk kembali tidak seberapa.

Dari pada berbahagia dengan membakar lilin dan bernyanyi di saat bertambahnya usia, lebih baik bermandikan air mata mengenang dosa dan kesalahan, serta mengingat-ingat semakin dekatnya pertemuan dengan Malaikat Maut.

Agaknya lebih indah dan syahdu hari ulang tahun kita renungkan dengan mentadabburi ayat-ayat berikut ini:

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan." (QS. Ali Imran: 185)

"Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh." (QS. An Nisa': 78)

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan." (QS. Al Anbiya': 35)

"Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati." (QS. Al Mu'minun: 15)

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan." (QS. Al 'Ankabut: 57)

Katakanlah: "Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikanmu, kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan". (QS. As Sajdah 11)

Katakanlah: "Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja". (QS. Al Ahzab: 16)

"Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula)." (QS. Az Zumar: 30)

"Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya." (QS. Qaf: 19)

Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan". (QS. Al Jumu'ah: 8)

"Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan." (QS. Al Munafiqun: 11)

Seraya berdo'a dengan do'anya Nabi Isa:
"Dan salam kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali." (Maryam: 33)

Dan do'a Nabi Yusuf:
"(Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh." (QS. Yusuf: 101)

Wallahu a'lam.

Al Maidah 51, Mu'jizat Al Quran

Al Quran memiliki nama lain yaitu Al Furqon yang artinya Pembeda. Melalui kasus Al-Ma'idah ayat 51, Allah SWT benar-benar telah menunjukkan kepada umat Islam perbedaan jatidiri setiap orang; siapa yang termasuk Muslim yang benar, dan siapa yang termasuk golongan munafik.

Allah SWT berfirman:
"Kalau Kami menghendaki, niscaya Kami menunjukkan mereka (kaum munafik) kepada kamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dari tanda-tanda mereka dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka." [QS. Muhammad : 30]

Imam Al-Tabari dalam tafsirnya menjelaskan, "Sungguh kamu akan mengetahui mereka dari tanda-tanda Nifaq (sifat kemunafikan) yang tampak dari mereka dalam konteks ucapan dan perbuatan lahiriah mereka."

Terkait kasus ini, setelah larangan menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin dalam QS al-Maidah ayat 51, berikutnya Allah SWT menjelaskan bahwa sikap terhadap larangan itu akhirnya mengungkap jatidiri kaum munafik.

"Lalu kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hati mereka (kaum munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani) seraya berkata; 'Kami takut akan mendapat bencana.' Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka." [QS al-Maidah: 52]

Menurut Imam Al-Qurtubi, juga Ibn Katsir, yang dimaksud dengan penyakit dalam hati adalah keraguan, kebimbangan dan kemunafikan. Ayat ini menunjukkan bahwa sejak awal posisi orang munafik memang berada di pihak kaum kafir.

Allah SWT juga menegaskan sifat orang munafik ini:
"Kabarkanlah kepada kaum munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) kaum yang menjadikan kaum kafir sebagai teman-teman penolong dengan meninggalkan kaum Mukmin." [QS An-Nisa': 138-139]

Melalui kasus Al Maidah 51 ini, umat Islam harus mencatat dengan huruf tebal siapa saja orang, tokoh, cendekiawan, kelompok atau organisasi—melalui pendapat, sikap, perbuatan dan keberpihakan mereka—yang lebih rela membenarkan atau bahkan membela sang penista; termasuk siapa saja yang tidak merasa terusik sama sekali dengan penistaan oleh pihak tertentu; juga siapa saja yang melecehkan sikap umat Islam, nyinyir memberikan komentar negatif, rajin memberikan ragam cap negatif terhadap sikap dan gerakan umat Islam. Umat harus mencatat bahwa mereka itu—siapapun mereka—adalah kaum munafik yang telah memusuhi Islam dan kaum Muslimin.

Dengan peristiwa tersebut, mudah-mudahan Allah akan memenangkan umat Islam dan akan membongkar serta mempermalukan orang-orang munafik. Insya allah.

Fathul Makkah, Nasib Hindun dan Abu Sufyan

Fathul Makkah (penaklukan kota Mekah) merupakan peristiwa penting untuk kemajuan Islam. Peristiwa di mana kaum muslimin berhasil kembali ke kota pertama dakwah Islam dijalankan nabi Muhammad SAW. Dapat dibayangkan perasaan bahagia mendalam para sahabat Nabi. Belum lekang dari ingatan mereka suasana duka yang mendalam saat terpaksa harus keluar dari Mekah. Terusir, terpisah dengan sanak keluarga, menempuh gersangnya sahara, melangkah menjauh dari tempat mereka menghabiskan hari demi hari. Setiap jengkal kota Mekah teramat memberikan kenangan mendalam.

Apa yang dilakukan Nabi Muhammad sungguh jauh dari sangkaan. Tidak ada pertumpahan darah karena kesemena-menaan, tidak ada satu hatipun yang dipaksa untuk masuk Islam, justru sebaliknya keselamatan dan perlindungan yang mereka dapatkan. Satu hal yang sangat di luar sangkaan adalah penyataan Nabi bahwa barang siapa yang berhimpun di Abu Sofyan kala itu maka mereka termasuk yang “selamat”.

Hati kecil seolah-olah tak dapat menerima. Bukankah Abu Sofyan begitu memusuhi Islam! Bukankah Abu Sofyan telah memusuhi Nabi dengan hebatnya. Kenapa tak diperintahkan saja untuk membunuhnya? Lupakah Rasulullah ketika Hindun binti ’Utbah istri Abu Sufyan mengunyah-ngunyah jantung Hamzah paman yang teramat dicintainya setelah ditikam tombak seorang budak bayaran Hindun! Lupakah Rasulullah betapa pilunya peristiwa bukit Uhud itu.

Simaklah sekelumit peristiwa Fathul Makkah :

Abu Sufyan segera berlari menuju Makkah. Setibanya di sana, ia langsung berteriak sekuat tenaga, ”Wahai segenap kaum Quraisy, sesungguhnya Muhammad telah tiba di sini. Ia membawa pasukan yang tidak mungkin kalian lawan, maka menyerahlah. Dan, siapa yang masuk ke rumah Abu Sufyan, berarti dia selamat.”

Mendengar teriakan suaminya, Hindun segera mendekat dan memegang kumis suaminya, seraya berkata, ”Bunuh saja orang yang sama sekali tidak berguna ini. Engkau adalah seorang tokoh yang sungguh memalukan!”

Abu Sufyan membalas, ”Wahai segenap orang Quraisy, jangan termakan oleh ucapan wanita ini. Aku tidak main-main. Muhammad datang dengan pasukan yang tidak mungkin kalian lawan. Siapa yang masuk rumah Abu sufyan, maka dia selamat.”

Orang-orang Quraisy berkata, ”Celakalah engkau! Bagaimana mungkin rumahmu cukup menampung kami semua?”

Abu Sufyan berkata lagi, ”Siapa yang masuk ke dalam rumahnya masing-masing, maka dia selamat. Dan siapa yang masuk ke dalam masjid, maka dia selamat.”

Mendengar keterangan tersebut, orang-orang Quraisy segera berhamburan menuju rumah masing-masing dan masjid.

Di saat-saat seperti itulah, Islam masuk ke dalam hati Abu Sufyan. Ia menemui Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam dan berkata, ”Wahai Rasulullah, hancurlah sudah Quraisy. Besok, yang tersisa dari Quraisy tinggal namanya saja.”

Rasulullah berkata, ”Siapa yang masuk rumah Abu Sufyan, maka dia selamat. Siapa yang meletakkan senjata, maka dia selamat. Dan siapa yang masuk ke dalam rumahnya, maka dia selamat.”

Dan demikianlah, Rasulullah sudah memaafkan Abu Sufyan. Salah satu tokoh yang berperan besar dalam menyakiti kaum muslimin di permulaan dakwah Rasulullah. Dan bagaimanakah nasib Hindun. Bagaimanakah nasib perempuan yang telah mengunyah jantung Hamzah paman kesayangan Muhammad yang syahid ditombak budak hitam atas suruhan Hindun di perang Uhud. Berikut petikan peristiwa setelah fathul makkah :

Tak lama berselang setelah pasukan muslimin memasuki kota Makkah, Hindun mengutarakan keinginannya untuk memeluk Islam pada Abu Sufyan,

Abu Sufyan menjawab, ”Kemarin, aku melihat engkau sangat benci mengucapkan kata-kata seperti itu.”

Hindun berkata, ”Demi Allah, aku tidak pernah melihat pemandangan manusia menyembah Allah dengan sebenar-benarnya di dalam masjid, seperti yang kulihat tadi malam. Demi Allah, mereka datang ke sana, lalu menunaikan shalat; berdiri, ruku’, dan sujud.”

Setelah membai’at kaum laki-laki, Rasulullah membai'at kaum wanita. Di antara wanita-wanita yang berbai’at, terdapat Hindun binti ’Utbah. Ia datang memakai pakaian yang tertutup. Ia takut dikenali oleh Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam karena tindakannya terhadap Hamzah di masa lalu.

Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam berkata, ”Aku meminta kalian berjanji untuk tidak menyekutukan apapun dengan Allah (syirik).” Umar menyampaikan yang dikatakan Rasulullah kepada kaum wanita dan memastikan jawaban mereka.

Rasulullah melanjutkan, ”Dan tidak boleh mencuri.”

Tiba-tiba Hindun menyela, ”Sesungguhnya Abu Sufyan sangat kikir. Bagaimana jika aku mengambil sebagian hartanya tanpa dia ketahui?”

Abu Sufyan yang berada tidak jauh dari tempat tersebut menimpali, ”Semua yang engkau ambil telah kuhalalkan.”

Mendengar dialog tersebut, Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam tersenyum dan langsung mengenalinya. Beliau berkata, ”Engkau pasti Hindun?”

Hindun menjawab, ” Benar. Maafkanlah segala kesalahanku di masa lalu, wahai Nabi Allah. Semoga Allah mengampunimu.”

Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam melanjutkan, ”Dan tidak boleh berzina.”

Hindun menyela, ”Apakah wanita merdeka suka berzina?”

Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam berkata lagi, ”Dan tidak boleh membunuh anak-anak kalian.”

Hindun berkata, ”Kami telah bersusah payah membesarkannya, tapi setelah besar, kalian membunuhnya. Kalian dan mereka lebih mengetahui tentang hal ini.”

Mendengar pernyataan tersebut, Umar tertawa sampai berbaring, sedangkan Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam tersenyum.

Rasulullah berkata lagi, ”Dan tidak boleh membuat tuduhan palsu.”

Hindun berkata, ”Demi Allah, tuduhan palsu adalah perbuatan yang sangat jelek. Engkau menyuruh kami untuk melakukan perbuatan baik dan akhlak yang mulia.”

Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam melanjutkan, ”Dan tidak boleh mendurhakaiku dalam perkara yang baik.”

Hindun berkata, ”Demi Allah, saat kami datang di tempat ini, kami sama sekali tidak menyimpan niat untuk mendurhakaimu.”

Itulah sekelumit dari peristiwa fathul makkah, secara emosi sangat sulit kita menerima perlakuan Rasulullah terhadap Abu Sufyan dan Hindun. Tapi begitulah Rasulullah mengajarkan kita, bahwa emosi tidak boleh mengalahkan iman. Walaupun memang sangat sulit untuk kita lakukan. Dan lihatlah buah dari kebijakan Rasulullah terhadap Abu sufyan dan Hindun. Sejarah telah mencatat Abu Sufyan termasuk pejuang Islam dan perawi hadist yang diperhitungkan. Dan Simaklah sepenggal jejak Hindun pada perang Yarmuk:

Ibnu Jarir menyatakan, ”Pada hari itu, kaum muslimin bertempur habis-habisan. Mereka berhasil menewaskan pasukan Romawi dalam jumlah yang sangat besar. Sementara itu, kaum wanita menyemangati setiap tentara muslim yang terdesak dan mundur dari medan laga. Mereka berteriak, ’Kalian mau pergi ke mana? Apakah kalian akan membiarkan kami ditawan oleh pasukan Romawi?’ Siapa pun yang mendapat kecaman yang pedas seperti itu, pasti kembali menuju kancah pertempuran.”

Tentara muslim yang sebelumnya hampir melarikan diri, kemudian bertempur kembali membangkitkan semangat pasukan yang lain. Mereka benar-benar terbakar oleh kecaman pedas yang diteriakkan oleh kaum wanita, terutama Hindun binti ’Utbah. Dalam suasana seperti itu, Hindun menuju barisan tentara sambil membawa tongkat pemukul tabuh dengan diiringi oleh wanita-wanita Muhajirin. Hindun membaca bait-bait puisi yang pernah dibacanya dalam perang Uhud.

Tiba-tiba, pasukan berkuda yang berada di sayap kanan pasukan muslim berbalik arah, karena terdesak musuh. Melihat pemandangan tersebut, Hindun berteriak, ”Kalian mau lari ke mana? Kalian melarikan diri dari apa? Apakah dari Allah dan surga-Nya? Sungguh, Allah melihat yang kalian lakukan!” Hindun juga melihat suaminya, Abu Sufyan, yang berbalik arah dan melarikan diri. Hindun segera mengejar dan memukul muka kudanya dengan tongkat seraya berteriak, ”Engkau mau ke mana, wahai putra Shakhr? Ayo, kembali lagi ke medan perang! Berjuanglah habis-habisan agar engkau dapat membalas kesalahan masa lalumu, saat engkau menggalang kekuatan untuk menghancurkan Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam.”

Zubair bin Al-’Awwam yang melihat semua kejadian itu berkata, ”Ucapan Hindun kepada Abu Sufyan itu mengingatkanku kepada peristiwa Perang Uhud, saat kami berjuang di depan Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam.”

Zubair melanjutkan, ”Saat itu juga, Abu Sufyan membelokkan kudanya dan kembali menuju medan laga. Langkahnya segera diikuti oleh pasukan muslim lainnya. Aku juga melihat kaum wanita bergabung dengan mereka, bahkan bergerak lebih dulu. Aku terkejut ketika ada seorang wanita yang menyerang tentara Romawi yang perawakannya tinggi besar dan menunggang kuda. Wanita itu menarik tubuh tentara tersebut hingga berhasil menjatuhkannya, lalu ia membunuhnya sambil berteriak, ’Inilah bukti yang nyata pertolongan Allah kepada kaum muslimin’.”

Kita terkadang terlanjur memberikan cap si fulan buruk seperti ini. Si fulanah buruk seperti itu. Dan itu berlaku terus menerus. Seolah-olah si fulan takkan berubah. Dan si fulanah akan berlaku seperti itu selamanya.

Ya. Begitulah emosi terkadang dominan menguasai penilaian. Hingga kesalahan seseorang di masa lalu menjadi faktor dominan penilaian. Atau mungkin menjadi “faktor mati” dalam menilai. Sehingga seolah-olah orang itu takkan pernah berubah. Jika hitam, maka hitamlah selamanya. Jika buruk maka buruklah selamanya. Walaupun orang tersebut telah menyadari keburukannya, berupaya untuk memperbaiki dirinya sehingga mungkin dia lebih mulia dan lebih baik daripada kita dalam pandangan Allah dan Rasul-Nya.

Astaghfirullah, seharusnya kita bisa melihat apa yang ingin Rasulullah sampaikan lewat perlakuan dia terhadap Abu Sufyan dan Hindun.

Astaghfirullah hal adzhim, ampuni dosa hambaMu ya Allah untuk semua hilaf dan dengki dalam hati.

Astaghfirullah hal adzhim, untuk semua emosi yang kadang lebih dominan dari keimanan pada Mu ya Allah.

Aamiin...

Rasulullah Wafat

Sekitar tiga bulan sepulang menunaikan haji wada’, beliau shallallaahu ’alaihi wasallam menderita sakit yang cukup serius.[1]

Beliau pertama kali mengeluhkan sakitnya di rumah Ummul-Mukminin Maimunah radliyallaahu ’anhaa[2]. Beliau sakit selama 10 hari,[3] dan akhirnya wafat pada hari Senin tanggal 12 Rabi’ul-Awwal[4] pada usia 63 tahun.[5]

Dan telah shahih (satu riwayat yang menyatakan) bahwa sakit beliau tersebut telah dirasakan semenjak tahun ketujuh pasca penaklukan Khaibar, yaitu setelah beliau mencicipi sepotong daging panggang yang telah dibubuhi racun yang disuguhkan oleh istri Sallaam bin Masykam Al-Yahudiyyah. Walaupun beliau sudah memuntahkannya dan tidak sampai menelannya, namun pengaruh racun tersebut masih tersisa.[6]

Beliau shallallaahu ’alaihi wasallam meminta ijin kepada istri-istrinya agar diperbolehkan untuk dirawat di rumah ’Aisyah Ummul-Mukminiin.[7] Ia (’Aisyah) mengusap-usapkankan tangan beliau pada badan beliau sambil membacakan surat Al-Mu’awwidzatain (Al-Falaq dan An-Naas).[8].

Ketika beliau shallallaahu ’alaihi wasallam dalam keadaan kritis, beliau berkata kepada para shahabat :

هلموا أكتب لكم كتابًَا لا تضلوا بعده

”Kemarilah, aku ingin menulis untuk kalian yang dengan itu kalian tidak akan tersesat setelahnya”.

Terjadi perselisihan di antara mereka. Sebagian berkeinginan memberikan alat-alat tulis (sebagaimana permintaan beliau), sebagian yang lain tidak setuju karena khawatir hal itu justru akan memberatkan beliau. Belakangan menjadi jelas bahwa perintah untuk menghadirkan alat tulis itu bukan merupakan hal yang wajib, namun merupakan sebuah pilihan.

Ketika mendengar ’Umar bin Al-Khaththab radliyallaahu ’anhu mengatakan : (حسبنا كتاب الله) ”Kami telah cukup dengan Kitabullah”; maka beliau tidak mengulangi permintaannya tersebut. Seandainya hal itu merupakan satu kewajiban, tentu beliau akan menyampaikannya dalam bentuk pesan.

Sebagaimana pada saat itu beliau berpesan secara langsung kepada mereka agar mengeluarkan orang-orang musyrik dari Jazirah ’Arab dan agar memuliakan rombongan delegasi yang datang ke Madinah.[9]

Beliau shallallaahu ’alaihi wasallam memanggil Fathimah radliyallaahu ’anhaa yang kemudian membisikinya yang dengan itu kemudian Fathimah menangis. Beliau memanggil kembali dan membisikinya yang dengan itu kemudian Fathimah tersenyum.

Setelah wafat, Fathimah menjelaskan bahwa ia menangis karena dibisiki bahwa beliau akan wafat, dan ia tersenyum karena dibisiki bahwa ia merupakan anggota keluarganya yang pertama yang akan menyusul beliau.[10]

Dan salah satu tanda nubuwwah tersebut akhirnya terbukti.
Sakit yang beliau derita semakin bertambah berat sehingga beliau tidak sanggup keluar untuk shalat bersama para shahabat. Beliau shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda :

مروا أبا بكر فليصل بالناس

”Suruhlah Abu Bakr agar shalat mengimami manusia”.
’Aisyah berusaha agar beliau shallallaahu ’alaihi wasallam menunjuk orang lain saja karena khawatir orang-orang akan berprasangka yang bukan-bukan kepada ayahnya (Abu Bakr). ’Aisyah berkata :

إن أبا بكر رجل رقيق ضعيف الصوت كثير البكاء إذا قرأ القرآن

”Sesungguhnya Abu Bakr itu seorang laki-laki yang fisiknya lemah, suaranya pelan, mudah menangis ketika membaca Al-Qur’an”.[11]

Namun beliau tetap bersikeras dengan perintahnya tersebut. Akhirnya Abu Bakr maju menjadi imam shalat bagi para shahabat.[12] Pada satu hari, Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam keluar dengan dipapah oleh Ibnu ’Abbas dan ’Ali radliyallaahu ’anhuma untuk shalat bersama para shahabat, dan kemudian beliau berkhutbah. Beliau memuji-muji serta menjelaskan keutamaan Abu Bakr radliyallaahu ’anhu dalam khutbahnya tersebut dimana ia (Abu Bakr) disuruh memilih oleh Allah antara dunia dan kahirat, namun ia memilih akhirat.[13]

Khutbah terakhir yang beliau sampaikan tersebut adalah 5 hari sebelum wafat beliau. Beliau berkata di dalamnya :

إن عبدًا عرضت عليه الدنيا وزينتها فاختار الآخرة

”Sesungguhnya ada seorang hamba yang ditawari dunia dan perhiasannya, namun justru ia memilih akhirat”.

Abu Bakr paham bahwa yang dimaksud adalah dirinya. Ia pun menangis. Melihat hal tersebut, orang-orang merasa heran karena mereka tidak paham apa yang dirasakan oleh Abu Bakr.[14]

Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam membuka tabir kamar ’Aisyah pada waktu shalat Shubuh, hari dimana beliau wafat, dan kemudian beliau memandang kepada para shahabat yang sedang berada pada shaf-shaf shalat. Kemudian beliau tersenyum dan tertawa kecil seakan-akan sedang berpamitan kepada mereka.

Para shahabat merasa sangat gembira dengan keluar beliau tersebut. Abu Bakr pun mundur karena mengira bahwa Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam ingin shalat bersama mereka. Namun beliau memberikan isyarat kepada mereka dengan tangannya agar menyelesaikan shalat mereka.

Beliau kemudian kembali masuk kamar sambil menutup tabir.
Fathimah masuk menemui beliau shallallaahu ’alaihi wasallam dan berkata : ”Alangkah berat penderitaan ayah”. Maka beliau menjawab :
ليس على أبيك كرب بعد اليوم

”Setelah hari ini, tidak akan ada lagi penderitaan”.[15]

Usamah bin Zaid masuk, dan beliau memanggilnya dengan isyarat. Beliau sudah tidak sanggup lagi berbicara dikarenakan sakitnya yang semakin berat.[16]

Pada saat-saat menjelang ajal, beliau bersandar di dada ’Aisyah. ’Aisyah mengambil siwak pemberian dari saudaranya yang bernama ’Abdurrahman. Ia lalu menggigit siwak tersebut dengan giginya dan kemudian memberikannya kepada beliau shallallaahu ’alaihi wasallam. Beliaupun lantas bersiwak dengannya.[17]

Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam kemudian memasukkan tangannya ke dalam bejana yang berisi air dan membasuh mukanya. Beliau pun bersabda :

لا إله إلا الله إن للموت سكرات

”Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah. Sesungguhnya pada setiap kematian itu ada saat-saat sekarat”.[18]

Dan ’Aisyah samar-samar masih sempat mendengar sabda beliau :
مع الذين أنعم الله عليهم

”Bersama orang-orang yang dikaruniai nikmat oleh Allah”.[19]

Lalu beliau pun berdoa :
اللهم في الرفيق الأعلى

”Ya Allah, pertemukan aku dengan Ar-Rafiiqul-A’laa (Allah)”.
’Aisyah mengetahui bahwasannya beliau pada saat itu disuruh memilih, dan beliau pun memilih Ar-Rafiiqul-A’laa (Allah).[20]
__________________________________________________
Foot Note

[1] [Al-Bidaayah wan-Nihaayah, 5/101].
[2] [Fathul-Baariy, 8/129].
[3] [Fathul-Baariy, 8/129].
[4] [Fathul-Baariy, 8/130].
[5] Shahih Al-Bukhari (Fathul-Baariy, 8/150).
[6] Shahih Al-Bukhari (Fathul-Baariy, 8/131).
[7] Shahih Al-Bukhari (Fathul-Baariy, 8/141)
[8] Shahih Al-Bukhari (Fathul-Baariy, 8/131).
[9] Shahih Al-Bukhari (Fathul-Baariy, 8/132).
[10] Shahih Al-Bukhari (Fathul-Baariy, 1/208).
[11] Siirah Ibni Hisyaam, 4/330 dengan sanad shahih
[12] Lihat Al-Bidaayah wan-Nihaayah oleh Ibnu Katsir, 5/232-233.
[13] Shahih Al-Bukhari (Fathul-Baariy 8/141).
[14] Musnad Ahmad (Fathur-Rabbaaniy, 21/222)
[15] Shahih Al-Bukhari (Fathul-Baariy, 8/149).
[16] Sirah Ibni Hisyaam, 4/329 dengan sanad shahih.
[17] Shahih Al-Bukhari (Fathul-Baariy, 8/139).
[18] Shahih Al-Bukhari (Fathul-Baariy, 8/144).
[19] Shahih Al-Bukhari (Fathul-Baariy, 8/136).
[20] Shahih Al-Bukhari (Fathul-Baariy, 8/136); dan Siirah Ibni Hisyaam, 4/329 dengan sanad shahih.

#Sumber Abul-Jauzaa.blogspot.com
Yusuf Abdi Alfarabi

Hukuman yang Tidak Terasa

Hukuman yang Tidak Terasa

Seorang murid mengadu kepada gurunya:
"Ustadz, betapa banyak kita berdosa kepada Allah dan tidak menunaikan hak-Nya sebagaimana mestinya, tapi saya kok tidak melihat Allah menghukum kita?"

Sang Guru menjawab dengan tenang:
"Betapa sering Allah menghukummu tapi engkau tidak terasa"

"Sesungguhnya salah satu hukuman Allah yang terbesar yang bisa menimpamu wahai anakku, ialah: Sedikitnya taufiq (kemudahan) untuk mengamalkan ketaatan dan amal amal kebaikan."

Tidaklah seseorang diuji dengan musibah yang lebih besar dari "kekerasan hatinya dan kematian hatinya."

Sebagai contoh:
Sadarkah engkau, bahwa Allah telah mencabut darimu rasa bahagia dan senang dengan munajat kepadaNya, merendahkan diri kepadaNya, menyungkurkan diri di harapannya?

Sadarkah engkau tidak diberikan rasa khusyu' dalam shalat?

Sadarkah engkau, bahwa beberapa hari-harimu telah berlalu dari hidupmu, tanpa membaca Al-Qur'an, padahal engkau mengetahui firman Allah:
"Sekiranya Kami turunkan Al-Qur'an ini ke gunung, niscaya engkau melihatnya tunduk, retak, karena takut kepada Allah"

Tapi engkau tidak tersentuh dengan Ayat Ayat Al-Qur'an, seakan engkau tidak mendengarnya...

Sadarkah engkau, telah berlalu beberapa malam yang panjang sedang engkau tidak melakukan Qiyamullail di hadapan Allah, walaupun terkadang engkau begadang...

Sadarkah engkau, bahwa telah berlalu atasmu musim musim kebaikan seperti: Ramadhan.. Enam hari di bulan Syawwal.. Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, dst.. tapi engkau belum diberi taufiq untuk memanfaatkannya sebagaimana mestinya?

Hukuman apa lagi yang lebih berat dari itu?
Tidakkah engkau merasakan beratnya mengamalkan banyak ketaatan (amal ibadah)?

Tidakkah Allah menahan lidahmu untuk berdzikir, beristighfar dan berdo'a kepadanya?

Tidakkah terkadang engkau merasakan bahwa engkau lemah di hadapan hawa nafsu?

Hukuman apa lagi yang lebih berat dari semua itu?

Sadarkah engkau, yang mudah bagimu berghibah, mengadu domba, berdusta, memandang ke yang haram?

Sadarkah engkau, bahwa Allah membuatmu lupa kepada Akhirat, lalu Allah menjadikan dunia sebagai perhatian terbesarmu dan ilmu tertinggi?

Semua bentuk pembiaran ini dengan berbagai bentuknya ini, hanyalah beberapa bentuk hukuman Allah kepadamu, sedang engkau menyadarinya, atau tidak menyadarinya...

Waspadalah wahai sahabatku, agar engkau tidak terjatuh ke dalam dosa dosa dan meninggalkan kewajiban kewajiban.

Karena hukuman yang paling ringan dari Allah terhadap hambaNya ialah:
"Hukuman yang terasa" pada harta, atau anak, atau kesehatan.

Sesungguhnya hukuman terberat ialah: Hukuman yang tidak terasa ada kematian hati, lalu ia tidak merasakan nikmatnya ketaatan, dan tidak merasakan sakitnya dosa.

Karena itu wahai sahabat-sahabatku, perbanyaklah di sela sela harimu, amalan taubat dan istighfar, semoga Allah menghidupkan hatimu...

Sumber: Diterjemahkan dari Taushiyah Syaikh Abdullah Al-'Aidan di Masjidil Haram

Tertipu Waktu



Waktu berlalu begitu halus menipu. Tadi pagi belum sempat dzikir, tahu-tahu waktu sudah menjelang siang. Belum sempat sedekah pagi, matahari sudah meninggi.

Rencananya jam 9.00 mau sholat Dhuha, tiba-tiba adzan Dzuhur sudah terdengar. Inginnya setiap pagi membaca 1 juz Al-Qur'an, menambah hafalan satu hari satu ayat,  tapi ya itu, "keinginannya itu" sudah setahun yang lalu dan kebiasaan itu belum terlaksana.

Ada sebenarnya komitmen diri, tidaklah berlalu malam kecuali dengan tahajud dan witir, sekalipun hanya 3 rakaat singkat saja. Dan komitmen itu belum dilaksanakan sejak 2 tahun lewat.

Dulu juga pernah terpikir punya anak asuh, entah yatim apa miskin yang disantuni tiap bulannya. Ya karena kesibukan lupa merealisasikannya, dan itu sudah berlangsung sekitar 3 tahunan yang lalu.

Akan terus beginikah nasib "hidup" kita menghabis-habiskan umur?! Berhura-hura dengan usia?! Tiba-tiba masuklah usia di angka 30 sebentar kemudian 40 tahun. Tak lama terasa kemudian orang memanggil kita dengan sebutan "Kek... Nek..." pertanda kita sudah tua. 

Uban yang mulai menghias kepala, keriput yang menghias kulit, tenaga yang tidak lagi seberapa. Menunggu ajal tiba. Sejenak mengintip catatan amal yang pernah kita berbuat. 
Astaghfirullah, tak seberapa, sedekah dan wakaf juga sekedarnya.

Jika demikian, apakah ruh tidak melolong menjerit saat harus berpisah dari tubuh?! Tambahkan usiaku, ya Allah! Aku butuh waktu untuk beramal dan berbekal. Belum cukupkah menyia-nyiakan waktu selama 30, 40, 50 atau 60 tahun? Butuh berapa tahun lagi untuk mengulang pagi, sore, hari, minggu, bulan, dan tahun yang sama, tanpa pernah merasa kehilangan kesempatan untuk menghasilkan pahala di setiap detiknya. Tidak akan pernah cukup 1000 tahun bagi yang terlena.

Astaghfirullah...