Negara Pertama yang Akui Kemerdekaan RI
Negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia adalah Mesir.
Demikian tertulis dalam buku sejarah kemerdekaan Indonesia.
Tapi, buku-buku sejarah umumnya tak menjelaskan lebih lanjut, mengapa dan bagaimana Mesir mengakui kemerdekaan Indonesia.
Pengakuan dari negara lain, merupakan syarat penting berdirinya sebuah negara. Dan, untuk ini, bangsa ini pantas berterima kasih kepada tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin. Sebab, merekalah yang melobi agar penguasa Mesir mendukung kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945.
Ikhwanul Muslimin yang saat itu jaringannya telah tersebar, juga menggalang dukungan-dukungan negara Arab lainnya untuk mendukung kemerdekaan Indonesia. Dan, setelah Mesir, negara-negara Timur Tengah lain pun mendukung kemerdekaan Indonesia.
Mesir mengakui kedaulatan pemerintah RI atas wilayah Indonesia pada 22 Maret 1946. Dengan begitu Mesir tercatat sebagai negara pertama yang mengakui proklamasi kemerdekaan Indonesia. Setelah itu menyusul Syria, Iraq, Lebanon, Yaman, Saudi Arabia dan Afghanistan. Selain negara-negara tersebut, Liga Arab juga berperan penting dalam Pengakuan RI.
Para pemimpin Mesir dan negara-negara Arab saat itu, bahkan membentuk Panitia Pembela Indonesia. Mereka mendorong pembahasan soal isu Indonesia di berbagai lembaga internasional, seperti Perserikatan Bangsa Bangsa dan Liga Arab.
Bagaimana Bibel Bicara Tentang Perempuan
Dalam Bibel, Perjanjian Baru, Timotius 2 :14-15 dikatakan, “Lagipula bukan Adam yang tergoda, melainkan perempuan itulah yang
tergoda dan jatuh ke dalam dosa. Tetapi perempuan akan diselamatkan karena
melahirkan anak, asal ia bertekun dalam iman dan kasih dan pengudusan dengan
segala kesederhanaan”.
Dalam ayat Bibel di atas, wanita disalahkan sebagai biang
dosa yang menyebabkan Nabi Adam as turun ke bumi. Kisah tentang Hawa yang memberikan buah
terlarang pada Adam (Kejadian 3 :1-19), sehingga Hawa mendapatkan laknat abadi karena mewariskan dosa.
Ajaran-ajaran seperti itulah yang akhirnya menyebabkan
Kristen mengganggap perempuan sumber kejahatan dan tipu daya.
Lebih lanjut filosof Barat, Christome menjelaskan :
“Perempuan adalah keburukan yang pasti, tipu daya alam dan bencana yang tak
terelakkan, bahaya dalam rumah, fitnah yang merusak da ia jahat berlumur
darah”. (Well Doran : The History of Civilisation, jilid 16)
Bahkan ada pemikiran, Hawa bukanlah manusia. Dalam sebuah
buku, seorang pendeta pernah mengatakan demikian, ”Perempuan tidak ada ikatan
atau hubungan spesies manusia”. Wester Mark: The History of Marriage.
Hal senada juga disebutkan dalam sebuah Ensiklopedia,
kutipan sebuah hasil rapat dua konferensi kegerejaan mengenai perempuan yang
dilaksanakan di Roma tahun 582 M mengeluarkan komunike: ”Perempuan adalah
mahluk yang tidak mempunyai jiwa dan oleh sebab itu selamanya tidak akan
menikmati taman Firdaus dan tidak masuk kerajaan langit. Perempuan adalah
kekejian perbuatan setan, tidak ada hak bicara dan tertawa dan tidak boleh
memakan daging, bahkan setinggi-tingginya hak dia adalah menghabiskan semua
kesempatan untuk melayani laki-laki tuannya, atau menyembah Tuhan Allah”.
(Encyclopedie La Rousse, kata Femme)
Perempuan lebih rendah dari laki-laki, dan di bawah
kekuasaan laki-laki, dan boleh diceraikan kapan saja (Ulangan 24 : 1-4)
Seharusnyalah perempuan berdiam diri dan menerima ajaran
dengan patuh. Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak
mengizinkannya memerintah laki-laki; hendaklah ia berdiam diri. (I
Timotius 2 : 11-12)
Demikian buruknya pandangan gereja terhadap perempuan,
sehingga kondisi perempuan terus berjalan dari yang buruk kepada yang lebih
buruk hingga abad ke-17 M. Ketika itu perempuan berada pada level perbudakan
dan kehinaan yang paling rendah.
Di Inggris ada undang-undang yang memperbolehkan
laki-laki menjual istri-istrinya seharga 6 pounsterling. Sekitar tahun 1790,
harganya menjadi 2 sen. (Abbas Akkad : Al-mar’ah fil al-Qur’an, hal.192.)
Sehingga kemudian muncullah feminisme. Gerakan ini muncul
pada 1785 berawal dari perkumpulan terpelajar kalangan bangsawan di
Middleburg-Belanda. Dari Belanda gerakan ini menyebar ke seluruh Eropa dan
Amerika, dipelopori oleh Lady Mary Wortley Montagu & Marquis de Condorcet.
Sejatinya, gerakan feminisme muncul sebagai akibat
ketidakpuasan perempuan terhadap hukum-hukum Bibel, sebagai bentuk protes
terhadap norma-norma sosial saat itu, norma-norma yang didominasi oleh gereja
pada abad 18, yang menindas perempuan.
Ramadhan Hendak Kemana?
Aku lihat RAMADHAN dari kejauhan...
Lalu kusapa ia, "Hendak ke mana?"
Dengan lembut ia berkata, "Aku harus pergi, mungkin JAUH & sangat LAMA.
Tolong sampaikan pesanku untuk orang MUKMIN:
"Syawal akan tiba sebentar lagi, ajaklah SABAR untuk menemani hari-hari dukanya, peluklah ISTIQOMAH saat ia kelelahan dalam perjalanan TAQWA, bersandarlah pada TAWADHU saat kesombongan menyerang, mintalah nasehat QUR'AN & SUNNAH di setiap masalah yang dihadapi.
Sampaikan pula salam dan terima kasih untuknya karena telah menyambutku dengan suka cita dan melepas kepergianku dengan derai air mata:
Kelak akan kusambut ia di SURGA dari pintu AR RAYAN".
Selamat meraih pahala terbaik di detik-detik terakhir RAMADHAN...
Masih ada beberapa hari lagi untuk bercengkrama dengan RAMADHAN...
"Ya ALLAH, andai malam ini ada diantara hamba2-Mu yang Engkau angkat derajatnya, Engkau ampuni dosa2nya, Engkau lapangkan rizkinya, Engkau muliakan keturunannya, Engkau lepaskan dari semua kesulitannya, Engkau indahkan akhlaknya dan Engkau berkahi segala hartanya...
Maka Insya ALLAH jadikanlah saudaraku yang sedang membaca ini beserta Keluarganya se-baik2 hamba yang mendapatkannya.
The Gospel of Jesus's Wife Sebut Yesus Menikah
Dalam “The Gospel
of Jesus’s Wife” (Injil Istri Yesus) temuan Profesor Karen L King yang
diungkapkan di hadapan Congress of Coptic Studies X (Kongres Internasional
Studi Koptik ke-10) di Roma, disimpulkan bahwa orang-orang Kristen pada masa
awal percaya bahwa Yesus telah menikah.
Profesor Hollis of Divinity di Harvard Divinity School di
Cambridge, Massachusetts itu bukanlah satu-satunya ilmuwan yang menyimpulkan
Yesus adalah manusia yang menikah, beristri dan beranak pinak. Inilah para
ilmuwan yang mengungkapkan data pernikahan Yesus:
SIMCHA JACOBIVICI, mengungkapkan kabar pernikahan Yesus
dengan Maria Magdalena dalam “The Jesus Family Tomb” yang populer melalui The
Discovery Channel’s TV. Ia menampilkan beberapa bukti yang kuat mengenai
hubungan romantis antara Yesus dengan Maria Magdalena, yang berlanjut ke
jenjang pernikahan dan disinyalir memiliki anak yang diberi nama Yehuda
(Judah).
DAN BROWN, melalui sejumlah karyanya, antara lain: film
“The Last Temptation of Christ,” buku “Holy Blood, Holy Grail” dan buku “The
Davinci Code” juga memaparkan hubungan rahasia Yesus dengan Maria Magdalena. Ia
berargumen bahwa Yesus hidup di lingkungan Yahudi yang secara sosial, adat dan
pergaulan pada masa itu melarang seorang laki-laki Yahudi untuk tidak menikah.
Kebiasaan Yahudi pada masa itu mengutuk hidup pembujangan (selibat), sehingga
menjadi kewajiban bagi orang tua Yahudi untuk mencarikan istri yang sesuai bagi
anak laki-lakinya.
Jika benar bahwa Yesus tidak menikah, lanjut Brown, maka
seharusnya salah satu dari Injil kanonik menyebutkan fakta itu dan memberikan
beberapa penjelasan untuk keadaan yang tidak alami yang dimiliki Yesus karena
pembujangan itu.
MAGGY WHITEHOUSE mengungkap status pernikahan Yesus
dalam bukunya “The Marriage of Jesus: The Lost Wife of the Hidden Years.”
Teolog dan ahli metafisika Alkitab ini mengungkapkan
bahwa Yesus telah menikah pada usia sekitar 14 tahun. Penulis yang mendalami
Kabbalah (sistem mistik sebagai sumber pengetahuan mengenai tradisi lisan zaman
Yesus) ini mendasarkan argumennya kepada tradisi pada waktu itu.
Maggy menambahkan, seandainya Dan Brown, penulis buku “Da
Vinci Code” benar bahwa Maria Magdalena adalah istri Yesus, pastilah ia bukan
istri pertamanya. Jadi, siapakah istri Yesus ketika Dia berumur 14-32 tahun?
Tahun ini biasa disebut sebagai “tahun gelap” karena Injil tidak menceritakan kisah hidup Yesus
pada masa ini.
Maggy berkeyakinan, pada usia itulah Yesus menikahi wanita
dan membangun keluarga. Dengan keyakinan bahwa Yesus menikah dan berketurunan,
ia lantas bertanya, jika Yesus memang menikah dan dia diyakini sebagai Tuhan,
apakah anak keturunannya juga Tuhan?
Kepada pihak-pihak yang meyakini Yesus hidup selibat
(pantang menikah), Maggy menantang: “Tidak ada bukti Alkitabiah mana pun yang
mengatakan bahwa Yesus tidak menikah. Memang, di dalam Alkitab atau teks
historis tidak disebutkan adanya seorang istri Yesus, tetapi itu tak
membuktikan apapun.” ujarnya mengawali pembahasan pada halaman 2.
“Kebanyakan perempuan pada waktu itu (zaman Yesus) tidak
tampak dalam dokumen sejarah. Kita hanya tahu bahwa Simon Petrus mempunyai
istri sebab Yesus menyembuhkan ibu mertua Petrus. Injil tidak menyebutkan istri
para murid. Tetapi, itu bukanlah alasan untuk beranggapan bahwa (para murid)
tidak beristri,” tambahnya.
PROF DR BARBARA THIERING. Sejarawan dan pakar teologi
dari Sidney Australia yang mendalami Naskah Laut Mati (The Dead Sea Scrolls),
mengungkap pernikahan Yesus dalam bukunya
“Jesus The Man,” yang dikorelasikan dengan ayat-ayat Bible. Menurutnya,
Yesus bukan hanya menikah tapi bahkan berpoligami.
Ia berargumen, Injil Markus 14:3 dan Injil Lukas 7:37-38
dikisahkan bahwa Maria Magdalena membawa buli-buli pualam berisi minyak wangi.
Sambil menangis membasahi kaki Yesus dengan air matanya dan menyekanya dengan
rambutnya, kemudian ia mencium kaki Yesus dan meminyakinya dengan minyak wangi
itu. Bila diparalelkan dengan kitab Kidung Agung 1:2-3, maka prosesi yang
dilakukan Maria Magdalena itu adalah upacara Pernikahan Bangsawan Yahudi. Jika
Maria Magdalena bukan istri Yesus, bagaimana mungkin ia berani mencium kaki
Yesus?
Mengenai kehidupan rumah tangga Yesus, Barbara Thiering
mengungkapkan dalam bukunya “Jesus & the Riddle of the Dead sea Scroll,”
Harper San Francisco, New York 1992. dalam buku ini dijelaskan kronologi perkawinan
Yesus. Perkawinan yang pertama dengan Maria Magdalena adalah kawin gantung yang
diselenggarakan pada hari Jumat, tanggal 22 September 30 M, Jam 18.00,
bertempat di Ain Feshkah (Palestina). Kemudian perkawinan dengan Maria
Magdalena yang kedua kalinya dilangsungkan pada hari Kamis, 19 Maret 33 M, jam
24.00, di Ain Feshkah.
...Jadi, menurut Naskah Laut Mati tidak hanya menikah
tapi juga berpoligami....
Selanjutnya, pada malam Selasa pada tanggal 17 Maret 50 M
(17 tahun setelah resepsi perkawinan dengan Maria Magdalena), Yesus kawin lagi
dengan Lidya, istrinya yang Kedua. Jadi,
menurut Naskah Laut Mati tidak hanya menikah tapi juga berpoligami.
Menikah bukanlah dosa. Melakukan hubungan seks dalam pernikahan
pun bukan merupakan kejatuhan iman. Mengapa umat Kristen menolak keras berita
pernikahan Yesus dengan alasan tidak ada ayatnya dalam Bibel? Padahal dalam
kasus yang sama mereka totalitas menerima doktrin Trinitas yang juga tidak ada
ayatnya dalam Bibel?
Inkonsistensi dan Kontradiksi Isi Kitab Bible
Alkitab yang dijadikan bahan kajian disini adalah Alkitab
cetakan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) tahun 1999. Banyak terdapat inkonsistensi dan
pertentangan dari tiap2 ayat dalam Kitab Bible.
Mana yang lebih
dulu diciptakan, siang-malam atau matahari?
a. Hari pertama,
Tuhan menciptakan cahaya, lalu memisahkan terang dan gelap. DinamaiNya terang
itu siang dan gelap itu malam (Kejadian 1: 3-5)
b. Pada hari ke
empat, matahari baru diciptakan (Kejadian 1: 14-19)
Bagaimana mungkin terjadi siang dan malam
sementara matahari diciptakan belakangan.
Mana yang lebih
dulu diciptakan, pohon atau manusia?
a. Pohon diciptakan sebelum manusia diciptakan (Kejadian
1: 11-12, 26-27)
b. Manusia diciptakan sebelum pohon diciptakan (Kejadian
2: 4-9)
Mana yang lebih
dulu diciptakan, hewan atau manusia?
a. Burung diciptakan sebelum manusia diciptakan (Kejadian
1: 24-27)
b. Manusia diciptakan sebelum hewan diciptakan. (Kejadian
2: 7, 19)
Jika manusia
mempunyai keturunan, berdosa atau tidak?
a. Tuhan menyuruh manusia untuk berketurunan (Kejadian 1:
28)
b. Tuhan menganggap wanita yang melahirkan berdosa,
sehingga anak yang lahir harus disucikan (Imamat 12: 1-8)
Tuhan puas atau
tidak dengan ciptaanNya?
a. Puas (Kejadian 1: 31)
b. Kecewa (Kejadian 6: 5-6)
Tuhan dikenal
sebagai The Lord/Yahweh/Yehova pada era Musa atau sebelumnya?
a. Jauh sebelum era Musa (Kejadian 2: 4, 4: 26, 12: 8,
22: 14-16, 26: 25)
b. Tuhan baru menyatakan diriNya kepada Musa, dan
sebelumnya belum dikenal (Keluaran 6: 2-3)
Waktu Adam memakan
buah larangan, seharusnya pada hari itu Adam mati atau tidak?
a. Tuhan melarang Adam memakan buah larangan, jika
dilanggar maka Adam akan mati hari itu juga (Kejadian 2: 17)
b. Adam memakan buah larangan itu, dan tetap hidup selama
930 tahun (Kejadian 5: 5)
Tuhan selalu menunjukkan
keadilan atau tidak?
a. Tuhan menerima korban persembahan dari Habel, tapi
Tuhan menolak persembahan dari Kain tanpa sebab yang jelas (Kejadian 4: 4-5)
b. Tuhan selalu menunjukkan keadilan dan Dia tidak memandang
semua manusia dengan sepihak (II Korintus 19: 7, Kisah Para Rasul 10: 34, Roma
2: 11)
Tuhan maha melihat
atau tidak?
a. Tuhan mencari dan bertanya lokasi seseorang (Kejadian
3: 8-10, 4: 9)
b. Tuhan dapat melihat semuanya dan tidak ada yang tersembunyi
dari penglihatannya. (Amsal 15: 3, Yeremia 16: 17, 23: 24-25, Ibrani 4: 13)
Bisakah manusia sembunyi dari hadapan Tuhan?
a. Manusia dapat pergi dari hadapan Tuhan (Kejadian 3: 8,
4: 16)
b. Setiap orang tidak dapat sembunyi dari hadapan Tuhan.
Tuhan memenuhi langit dan bumi. (Yeremia 23: 23-24)
Berapa pasang
hewan yang harus dibawa ke atas bahtera Nuh?
a. Satu pasang dari segala hewan tanpa kecuali (Kejadian
6: 19-22, 7: 8-9, 7: 14-16)
b. Tujuh pasang dari segala hewan yang tidak haram dan
sepasang dari segala hewan yang haram (Kejadian 7: 2-5)
Tuhan menghendaki
kekacauan atau tidak?
a. Di Babel, Tuhan mengkacaubalaukan bahasa di seluruh
bumi (Kejadian 11: 9)
b. Paulus berkata bahwa Tuhan tidak menghendaki kekacauan
(I Korintus 14: 33)
Siapakah anak Daud
yang kedua?
a. Kileab (II Samuel 3: 2-3)
b. Daniel (I Tawarikh 3: 1)
Di Yerusalem, Daud
mengambil beberapa gundik atau tidak?
a. Ya (II Samuel 5: 13-16)
b. Tidak (I Tawarikh 14: 3-7)
Berapa anak-anak
Daud dari gundik di Yerusalem?
a. 11 orang yaitu Syamua, Sobab, Natan, Salomo, Yibhar,
Elisua, Nefeg, Yafia, Elisama, Elyada dan Elifelet(II Samuel 5: 13-16)
b. 13 orang yaitu Syamua, Sobab, Natan, Salomo, Yibhar,
Elisua, Elpelet, Nogah, Nefeg, Yafia, Elisama, Beelyada dan Elifelet (I Tawarikh
14: 3-7)
Di kota mana Daud
mengambil tembaga?
a. Betah dan Berotai (II Samuel 8: 8)
b. Tibhat dan dari Kun (I Tawarikh 18: 8)
Siapa anak Tou
yang diutus untuk mengucapkan selamat kepada Daud?
a. Yoram (II Samuel 8: 10)
b. Hadoram (I Tawarikh 18: 9-10)
Dari orang bangsa apa saja Daud mengambil perak dan emas untuk Tuhan?
a. Aram (II Samuel 8: 11-12)
b. Edom (I Tawarikh 18: 11-12)
Siapakah panitera
(sekretaris) Daud?
a. Seraya (II Samuel 8: 15-17)
b. Sausa (I Tawarikh 18: 14-16)
Berapakah tentara
berkuda tawanan Daud?
a. 1700 orang (II Samuel 8: 4)
b. 7000 orang (I Tawarikh 18: 4)
Berapa ekor kuda
kereta yang dibunuh Daud?
a. 700 ekor (II Samuel 10: 18)
b. 7000 ekor (I Tawarikh 19: 18)
Yang dibunuh Daud,
pasukan berkuda atau pasukan jalan kaki?
a. 40.000 pasukan berkuda (II Samuel 10: 18)
b. 40.000 pasukan berjalan kaki (I Tawarikh 19: 18)
Siapakah panglima
musuh yang tewas di tangan Daud?
a. Sobakh (11 Samuel 10: 18)
b. Sofakh (I Tawarikh 19: 18)
Daud memerangi
Israel atas hasutan Tuhan atau atas bujukan iblis?
a. Tuhan murka lalu menghasut Daud (II Samuel 24: 1)
b. Setan bangkit lalu membujuk Daud (I Tawarikh 21: 1)
Siapakah kepala
Triwira pengiring Daud?
a. Isybaal, orang Hakhmoni (II Samuel 23: 8)
b. Yasobam bin Hakhmoni (I Tawarikh 11: 11)
Kepala Triwira
Daud membunuh berapa orang?
a. 800 orang (II Samuel 23: 8)
b. 300 orang (I Tawarikh 11: 11)
Berapakah angkatan
perang Daud dari orang Israel?
a. 800 orang (II Samuel 24: 9)
b. 1.100.000 orang (I Tawarikh 21: 5)
Berapakah angkatan
perang Daud dari orang Yehuda?
a. 500.000 orang (II Samuel 24: 9)
b. 470.000 orang (I Tawarikh 21: 5)
Berapakah kandang
kuda milik Salomo (Sulaiman)?
a. 40.000 kandang (I Raja-raja 4: 26)
b. 4000 kandang (II Tawarikh 9: 25)
Berapa mandor
pengawas kerajaan Salomo (Sulaiman)?
a. 3300 mandor (I Raja-raja 5: 16)
b. 3600 mandor (II Tawarikh 2: 2)
Berapa bat air di
Bait Suci buatan Salomo?
a. 2000 bat air (I Raja-raja 7: 26)
b. 3000 bat air (II Tawarikh 4: 5)
Berapakah jumlah
keturunan Yakub seluruhnya?
a. 66 jiwa (Kejadian 46: 26)
b. 70 jiwa (Keluaran 1: 5)
Yang diharamkan,
kelinci ataukah kelinci hutan?
a. Kelinci (Imamat 11: 6)
b. Kelinci hutan (Ulangan 14: 7)
Yang diharamkan,
babi ataukah babi hutan?
a. Babi hutan (Ulangan 14: 8, Imamat 11: 7)
b. Babi (Yesaya 66: 17)
Berapa lama
Yoyakhin menjadi raja di Yerusalem?
a. 3 bulan (II Raja-raja 24: 8)
b. 3 bulan 10 hari (II Tawarikh 36: 9)
Berapa anak Yesua
dan Yoab yang pulang kembali ke Yerusalem dan Yehuda dari pembuangan
Nebukadnezar?
a. 2812 orang (Ezra 2: 6)
b. 2818 orang (Nehemia 7: 11)
Berapa anak-anak
Benyamin dan siapa nama mereka?
a. 10 orang yaitu Bela, Bekher, Asybel, Gera, Naaman,
Ehi, Rosh, Mupim, Hupim dan Ared (Kejadian
46: 21)
b. 5 orang yaitu Bela, Asybel, Ahiram, Sefufam dan Hufam
(Bilangan 26: 38-39)
c. 3 orang yaitu Bela, Bekher dan Yediel (I Tawarikh 7:
6)
d. 5 orang yaitu Bela, Asybel, Ahrah, Noha, dan Adar (I
Tawarikh 8: 1-5)
Berapa cucu
Benyamin (anak-anak Bela) dan siapa nama mereka?
a. 5 orang yaitu Ezbon, Uzi, Uziel, Yerimot dan Iri (I
Tawarikh 7: 7)
b. 9 orang yaitu Adar, Gera, Abihud, Abisua, Naaman,
Ahoah, Gera, Sefufan dan Huram (I Tawarikh 8: 3-5)
c. 2 orang yaitu Ared dan Naaman (Bilangan 26: 40)
Berapa batasan
umur manusia?
a. Tuhan membatasi umur manusia hanya 120 tahun saja atau
tidak lebih dari itu (Kejadian 6: 3)
b. Umur manusia bisa lebih dari 120 tahun :
Adam 930 tahun (Kej. 5: 3-5),
Set 912 tahun(Kej. 5: 6-8),
Enos 905 tahun (Kej. 5: 9-11),
Kenan 910 tahun (Kej. 5: 12-14),
Mahalaleel 895 tahun (Kej. 5: 15-17),
Yared 962 tahun (Kej. 5: 18-20),
Henokh 365 tahun (Kej. 5: 21-23),
Metusalah 969 tahun (Kej. 5: 25-27),
Lamekh 777 tahun (Kej. 5: 28-32),
Nuh 950 tahun (Kej. 9: 29),
Sem 600 tahun (Kej. 11: 10-11),
Arpakhsad 438 tahun (Kej. 11: 12-13),
Selah 433 tahun (Kej. 11: 14-15),
Eber 464 tahun, (Kej. 11: 16-17),
Meg 239 tahun (Kej. 11: 18-19),
Rehu 239 tahun (Kej. 11: 20-21),
Serug 230 tahun (Kej. 11: 22-23),
Nahor 148 tahun (Kej. 11: 24-25),
Sara 127 tahun (Kej. 23: 1-2),
Ismael 137 tahun (Kej. 25: 17),
Yakub selanu 147 tahun (Kej. 47: 28),
Lewi 137 tahun (Kel. 6: 15),
Kehat 133 tahun (Kel. 6: 17),
Amram 137 tahun (Kel. 6: 19),
Harun 123 tahun(Bil. 33: 39),
Ayub 140 tahun lebih (Ayub 42: 16-17)
Tuhan menyesal
atau tidak?
a. Tuhan tidak punya sifat menyesal (I Samuel 15:
29,Bilangan 23: 19)
b. Tuhan menyesal (Kejadian 6: 5-6, I Samuel 15:
10-11,35, Samuel 24: 16, Yeremia 26:3, Yeremia 42:10, Keluaran 32: 14)
Tuhan bisa dilihat
atau tidak?
a. Tuhan tidak bisa dilihat dan didengar (Yohanes 5: 37,
I Timotius 1: 17, 6: 16, Keluaran 33: 20, I Yohanes 4: 12)
b. Tuhan bisa dilihat oleh mata (Keluaran 33: 11, 33: 20,
Kejadian 18: 1, 26: 24, Yohanes 5: 37, ; I Timotius 6: 16, 1: 17, I Yohanes 4: 12 )
c. Tuhan kelihatan kaki-Nya (Keluaran 24: 9-10)
d. Tuhan kelihatan sedang duduk (Yesaya 6: 1)
e. Tuhan bisa dilihat dari jauh (Yeremia 31: 3)
Berapa nama
silsilah dari Abraham sampai dengan Daud?
a. Lukas 3: 31-34 mencatat 15 nama dari Daud sampai
dengan Yesus
b. Matius 1: 2-6 hanya mencatat 14 nama dari Daud sampai
dengan Yesus
Dalam silsilah
dari Abraham sampai dengan Daud, siapakah anak Hezron?
a. Anak Hezron adalah Arni (Lukas 3:33)
b. Anak Hezron adalah Ram (Matius 1:3)
Berapa nama
silsilah dari Daud sampai dengan Yesus?
a. Lukas mencatat 43 nama dari Daud sampai dengan Yesus
(Lukas 3: 23-31)
b. Matius hanya mencatat 28 nama dari Daud sampai dengan
Yesus (Matius 1: 6-16)
Siapakah kakek
Yesus?
a. Yakub (Matius 1: 16)
b. Eli (Lukas 3: 23)
Siapakah anak Daud
yang menurunkan Yesus?
a. Salomo (Matius 1: 6)
b. Natan (Lukas 3: 31)
Yesus memasuki Yerusalem naik apa?
a. Seekor keledai (Markus 11: 7; Lukas 19: 35)
b. Seekor keledai betina dan seekor anak keledai (Matius
21: 7)
Ketika Yesus
bertemu Yairus, apakah anak perempuan Yairus sudah mati?
a. Ya, sudah mati (Matius 9: 18)
b. Belum mati, masih sakit dan hampir mati! (Markus 5:
23)
Bolehkah membawa
tongkat dan kasut dalam perjalanan?
a. Ya, boleh (Markus 6: 7-9)
b. Tidak boleh (Matius 10: 9-10, Lukas 9: 1-3)
Kesaksian Yesus
tentang dirinya, benar atau salah?
a. Tidak benar (Yohanes 5: 31)
b. Benar (Yohanes 8: 14)
Berapa jumlah
orang buta yang bertemu Yesus di Yerikho?
a. Dua orang buta (Matius 20: 29-30)
b. Hanya satu orang buta saja (Markus 10: 46)
Dimana Yesus
menemui orang kerasukan setan?
a. Di Gedara (Matius 8: 28)
b. Di Gerasa (Markus 5: 1-2)
Berapa jumlah
orang kerasukan setan yang ditemui Yesus?
a. Ada 2 orang (Matius 8: 28)
b. Hanya 1 orang saja (Markus 5: 1-2)
Apa yang diucapkan
Yudas di hadapan Yesus?
a. Salam Rabi (Matius 26: 49)
b. Rabi (Markus 14: 45)
c. Yudas tidak mengucapkan apa-apa/diam (Lukas 22: 47)
Ketika Yesus
berjalan di atas air, bagaimana respon para muridnya?
a. Mereka menyembah Yesus (Matius 14: 33)
b. Mereka tercengang dan bingung (Markus 6: 51-52)
Jam berapa Yesus
disalibkan?
a. Jam sembilan (Markus 15: 25)
b. Jam 12 Yesus belum disalibkan (Yohanes 19: 14)
Yesus membawa
damai dan keselamatan atau onar?
a. Yesus menyelamatkan dunia (Matius 5: 9, Yohanes 3: 17,
Yohanes 12: 47)
b. Yesus membawa onar, pedang dan kekacauan keluarga
(Matius 10: 34-36)
Apa hukumnya
bersunat?
a. Sunat itu wajib (Kejadian 17: 10-14, 17: 14, Kejadian
21: 4) Yesus tidak membatalkan sunat (Matius 5: 17-20, Lukas 2: 21). Yesus juga
disunat (Lukas 2: 21). Dan orang yang tidak disunat, tidak dapat diselamatkan
(Kisah Para Rasul 15: 1-2)
b. Kata Paulus, sunat tidak wajib, tidak berguna dan
tidak penting (Galatia 5: 6, I Korintus 7: 18-19)
Bolehkah makan
babi?
a. Babi haram dimakan (Ulangan 14: 8, Imamat 11: 7,
Yesaya 66: 17)
b. Kata Paulus, semua daging binatang halal dimakan,
tidak ada yang haram (I Korintus 6: 12, I Korintus 10: 25,Kolose 2: 16, I
Timotius 4-5, Roma 14: 17)
Selain Yesus,
adakah yang naik ke sorga?
a. Tidak ada, hanya Yesus saja yang pernah naik ke sorga
(Yohanes 3: 13)
b. Henokh dan Elia telah naik ke sorga (Kejadian 5: 24,
II Raja-raja 2: 11)
Tuhan menepati
janji atau tidak?
a. Tuhan berjanji akan memberikan tanah Kanaan kepada
Abraham (Kejadian 17: 8)
b. Abraham meninggal pada umur 175 tahun tetapi janji
Tuhan belum terpenuhi (Kejadian 25: 8, Kisah Para Rasul 7: 2-5, Ibrani 11: 13)
Lot adalah orang
yang benar atau tidak? atau apakah incest dibenarkan?
a. Ketika Lot mabuk, kedua anaknya tidur dengannya, lalu
hamil dan memiliki anak dari ayah mereka (Kejadian
19: 30-38)
b. Lot adalah orang yang benar (II Petrus 2: 7)
Tuhan menguji manusia atau tidak?
a. Tuhan mencobai Abraham dan Musa (Kejadian 22: 1-12,
Ulangan 8: 2) dan mencobai orang Israel (Hakim-hakim 2: 22)
b. Tuhan tidak pernah mencobai siapapun (Yakobus 1: 13)
Siapa nama anak
dari Elifaz?
a. Teman, Omar, Zefo, Gaetam, dan Kenaz (Kejadian 36: 11)
b. Teman, Omar, Zefo, Kenaz (Kejadian 36: 15-16)
c. Teman, Omar, Zefi, Gaetam, Kenaz, Timna, and Amalek (I
Tawarikh 1: 35-36)
Siapakah
bapak-bapak 12 bangsa Israel?
a. Ruben, Simeon, Lewi, Yehuda, Zebulon, Isakhar, Dan,
Gad, Asyer, Naftali, Yusuf, dan Benyamin(Kejadian 49: 2-28)
b. Semuanya kecuali Dan diganti Manasye (Wahyu 7: 4-8)
Dimanakah Yakub
dikuburkan?
a. Dalam sebuah gua di Makhpela, yang dibeli dari Efron
orang Het (Kejadian 50: 13)
b. Di makam daerah Sikhem, yang dibeli dari anak-anak
Hemor (Kisah Para Rasul 7: 15-16)
Anak-anak mendapat
balasan atas dosa orang tua atau tidak?
a. Ya (Keluaran 20: 5, 34: 7, Bilangan 14: 18, Ulangan 5:
9, Yesaya 14: 21-22)
b. Tidak (Ulangan 24: 16, Ezra 18: 19-20)
Apakah orang tua
harus dihormati?
a. Ya (Keluaran 20: 12, Ulangan 5: 16, Matius 15: 4, 19:
19, Markus 7: 10, 10: 19, Lukas 18: 20)
b. Tidak. Yesus datang untuk membawa pertentangan dalam
keluarga (Matius 10: 35-37, Lukas 12: 51-53, 14: 26)
Benar atau
salahkah jika meminjamkan uang dengan minta bunga atau riba?
a. Salah (Imamat 25: 37, Mazmur 15: 5)
b. Benar (Matius 25: 27, Lukas 19: 23-27)
Dimanakah Harun
menemui ajalnya?
a. Di gunung Hor (Bilangan 33: 38)
b. Di Mosera (Ulangan 10: 6)
Kemana orang
Israel pergi setelah kematian Harun?
a. Dari gunung Hor ke Zalmona lalu ke Funon dst.
(Bilangan 33: 41-42)
b. Dari Mosera ke Gudgod lalu ke Yotbata (Ulangan 10:
6-7)
Sisera dibunuh
oleh Jael ketika Sisera sedang tidur atau berdiri?
a. Tidur (Hakim-hakim 4: 21)
b. Berdiri (Hakim-hakim 5: 25-27)
Berapa jumlah anak
Isai?
a. 7 plus Daud, jadi semuanya ada 8 (I Samuel 16: 10-11,
17: 12)
b. Semuanya ada 7 (I Tawarikh 2: 13-15)
Kenalkah Saul
dengan Daud ketika Daud melawan Goliat?
a. Sangat kenal (I Samuel 16: 19-23)
b. Tidak kenal sama sekali (I Samuel 17: 55-58)
Siapakah yang
membunuh Goliat?
a. Daud (I Samuel 17: 50)
b. Elhanan (II Samuel 21: 19)
Siapa nama imam
besar yang memberi Daud roti?
a. Ahimelekh (I Samuel 21: 1-6)
b. Abyatar (Markus 2: 26)
Siapa yang
membunuh Saul?
a. Saul bunuh diri dengan merebahkan dirinya di atas
pedang (I Samuel 31: 4-6)
b. Atas permintaan Saul sendiri, seorang Amalek membunuh
Saul (II Samuel 1: 2-10)
c. Saul dibunuh oleh orang Filistin di Gilboa (II Samuel
21: 12)
Berapa Daud
membayar barang peternakan?
a. 50 syikal perak (II Samuel 24: 24)
b. 600 syikal emas (I Tawarikh 21: 22-25)
Kapankah Baesa
meninggal?
a. Baesa meninggal ketika masa 26 tahun pemerintahan Raja
Asa (I Raja-raja 16: 6-8)
b. Baesa mendirikan sebuah negeri ketika masa 36 tahun
pemerintahan Raja Asa (II Tawarikh 16: 1)
Berapa umur Ahazia
ketika menjadi raja?
a. 22 tahun (II Raja-raja 8: 25-26)
b. 42 tahun (II Tawarikh 22: 1-2)
Kemanakah Yusuf
dan Maria ketika menunggu kelahiran Yesus?
a. Lari ke Mesir menunggu sampai Herodes meninggal,
karena Herodes membunuh semua bayi lelaki berusia dua tahun atau kurang (Matius
2: 13-16)
b. Menetap di Yerusalem sampai Yesus lahir lalu ke
Nazaret, tidak pernah ke Mesir (Lukas 2: 22-40)
Siapakah yang
melihat roh turun dari langit?
a. Yesus (Matius 3: 16, Markus 1: 10)
b. Yohanes (Yohanes 1: 32)
Kemanakah Yesus
setelah dibaptis?
a. Langsung dibawa roh ke ke padang gurun selama 40 hari
dan dicobai Iblis (Matius 4: 1-11, Markus 1: 12-13)b. Hari ketiga setelah
dibaptis, Yesus pergi ke perkawinan di Kana (Yohanes 2: 1-11)
Kemana iblis
membawa Yesus?
a. Ke bubungan bait Allah lalu ke atas gunung (Matius 4:
5-8)
b. Ke atas gunung lalu ke bubungan bait Allah (Lukas 4:
5-9)
Haruskah kita
melawan terhadap musuh?
a. Kasihilah musuhmu (Matius 5: 39, 44)
b. Yesus ingin semua musuhnya dibunuh (Lukas 19: 27)
Bolehkah para rasul
mendatangi kaum selain Israel?
a. Tidak boleh (Matius 10: 2, 5-6)
b. Petrus -salah seorang rasul, mendatangi kaum selain
Israel (Kisah Para Rasul 15: 7)
Anak siapakah
Zakharia?
a. Anak Berekhya (Matius 23: 35)
b. Anak imam Yoyada (II Tawarikh 24: 20)
Siapa yang menegur
wanita pembawa minyak?
a. Para rasul (Matius 26: 8)
b. Beberapa rasul (Markus 14: 4)
c. Yudas Iskariot (Yohanes 12: 4-5)
Makanan apa yang didahulukan dalam perjamuan kudus?
a. Roti lalu anggur (Matius 26: 26-29, Markus 14:22-25)
b. Anggur lalu roti (Lukas 22: 17-20)
Siapa yang membeli
tanah?
a. Imam-imam kepala (Matius 27: 3-7)
b. Yudas (Kisah Para Rasul 1: 16-19)
Apa yang dilakukan
Yudas dengan uang peraknya?
a. Melemparnya ke dalam bait suci lalu pergi (Matius 27:
5)
b. Untuk membeli tanah (Kisah Para rasul 1: 16-19)
Bagaimana Yudas
menemui ajalnya?
a. Gantung diri (Matius 27: 5)
b. Jatuh tertelungkup, dan perutnya terbelah sehingga
semua isi perutnya tertumpah ke luar (Kisah para Rasul 1: 18)
Berapa jarak para
perempuan dari Yesus di kayu salib?
a. Melihat dari kejauhan (Matius 27: 55, Markus 15: 40,
Lukas 23: 49)
b. Cukup dekat sehingga Yesus bisa berbicara dengan
ibunya (Yohanes 19: 25-26)
Siapa yang pertama
kali datang ke kuburan Yesus?
a. Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus (Matius 28: 1)
b. Keduanya dan ditambah dengan Salome (Markus 16: 1)
c. Keduanya dan ditambah dengan Yohana dan perempuan lain
(Lukas 24: 10)
d. Maria Magdalena sendirian (Yohanes 20: 1)
Apa yang terjadi
ketika orang-orang pertama datang ke kuburan Yesus?
a. Terjadi gempa karena datangnya malaikat yang
menggulingkan batu dan duduk di atasnya, di luar kuburan(Matius 28: 2)
b. Tidak ada gempa, ada seorang pemuda duduk di dalam
kuburan (Markus 16: 5)
c. Tidak ada gempa, ada dua orang berdiri di dalam
kuburan (Lukas 24: 2-4)
d. Tidak ada gempa, ada dua malaikat duduk di dalam
kuburan (Yohanes 20: 12)
Bisakah Yesus
disentuh ketika menampakkan diri setelah kematiannya?
a. Maria Magdalena dan Maria yang lain memeluk kakinya
(Matius 28: 9)
b. Yesus melarang Maria memegangnya karena Yesus belum
pergi ke Bapa (Yohanes 20: 17)
c. Delapan hari kemudian, Yesus menyuruh Tomas menyentuhnya
walau Yesus belum pergi ke Bapa(Yohanes 20: 27)
Yesus mengajar
sesudah atau sebelum Yohanes ditangkap?
a. Sesudah (Markus 1: 14)
b. Sebelum (Yohanes 6: 17-25)
Kemana Yesus dan
para rasul pergi setelah memberi makan 5000 orang?
a. Genesaret (Markus 6: 53)
b. Kapernaum (Yohanes 6 : 16-17)
Bolehkah
memberitakan Injil di Asia?
a. Roh Kudus melarang (Kisah Para Rasul 16: 6)
b. Paulus memberitakan Injil di Asia (Kisah Para Rasul
19: 8-10)
Bolehkah para
malaikat menghanguskan rumput?
a. Seluruh rumput dihanguskan para malaikat (Wahyu 8: 7)
b. Mereka diperintahkan untuk tidak merusak rumput (Wahyu
9: 4)
Siapakah yang memikul salib untuk Yesus ?
a. Simon (Matius 27: 32, Markus 15: 21, Lukas 23: 26)
b. Dipikul Yesus sendiri (Yohannes 19: 17)
Kontradiksi dengan ilmu pengetahuan :
a. Matahari
mengelilingi bumi.
Matahari terbit, matahari terbenam, lalu terburu-buru
menuju tempat ia terbit kembali. (Pengkhotbah 1: 5)
b. Bumi tidak
bergerak dan diam di tempat, menurut beberapa Alkitab versi bahasa Inggris.
Yang telah mendasarkan bumi di atas tumpuannya, sehingga
tak akan goyang untuk
seterusnya dan selamanya. (Mazmur 104 : 5)
Dalam Alkitab versi berbahasa Inggris sangat tegas
dikatakan bahwa bumi tidak bergerak (bukan tidak goyang seperti ayat di atas)
He set the earth on its foundations; it can never be
moved. (NIV Bible, Psalms 104 : 5)
You have set the earth firmly on its foundations, and it
will never be moved. (Today's English Bible, Psalms 104: 5)
Seperti kita ketahui bersama, sesungguhnya bumi berputar
pada porosnya dan juga bergerak pada orbitnya mengelilingi matahari.
c. Bumi berbentuk
datar (memiliki 4 sudut), menurut beberapa Alkitab versi bahasa Inggris.
Ia akan menaikkan suatu panji-panji bagi bangsa-bangsa,
akan mengumpulkan orang-orang Israel yang terbuang, dan akan menghimpunkan
orang-orang Yehuda yang terserak dari keempat penjuru bumi. (Yesaya 11 : 12)
Dalam Alkitab versi bahasa Inggris sangat tegas dikatakan
bahwa bumi memiliki 4 sudut alias bumi adalah datar.
And he shall set up an ensign for the nations, and shall
assemble the outcasts of Israel, and gather together the dispersed of Judah
from the FOUR CORNERS OF THE EARTH. (King James Version Bible, Isaiah 11 : 12)
The Lord will raise a signal flag to show the nations
that he is gathering together again the scattered people of Israel and Judah
and bringing them back from the four corners of the earth. (Today's English
Bible, Isaiah 11 : 12)
d. Ular bukan
hewan carnivora bahkan bukan herbivora karena makanan ular adalah debu
Lalu berfirmanlah TUHAN Allah kepada ular itu:
"Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala
ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan
menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu. (Kejadian 3: 14)
e. Janji Tuhan
akan adanya bumi baru dimana serigala dan singa jadi hewan herbivora,
makanannya adalah rumput dan jerami
Serigala dan anak domba akan bersama-sama makan rumput,
singa akan makan jerami seperti lembu dan ular akan hidup dari debu. Tidak ada
yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di segenap gunung-Ku yang
kudus," firman TUHAN. (Yesaya 65: 25)
f. Jika kambing
domba kawin dekat dahan pohon yang bergaris maka anaknya kelak akan bercoreng
dan berbintik-bintik
Lalu Yakub mengambil dahan hijau dari pohon hawar, pohon
badam dan pohon berangan, dikupasnyalah dahan-dahan itu sehingga
berbelang-belang, sampai yang putihnya kelihatan. Ia meletakkan dahan-dahan
yang dikupasnya itu dalam palungan, dalam tempat minum, ke mana kambing domba
itu datang minum, sehingga tepat di depan kambing domba itu. Adapun kambing
domba itu suka berkelamin pada waktu datang minum. Jika kambing domba itu
berkelamin dekat dahan-dahan itu, maka anaknya bercoreng-coreng,
berbintik-bintik dan berbelang-belang. (Kejadian 30: 37-39)
g. Tumbuhan
diciptakan sebelum diciptakannya matahari, atau dengan kata lain tumbuhan dapat
tumbuh tanpa proses fotosintesa
Tanah itu menumbuhkan tunas-tunas muda, segala jenis
tumbuh-tumbuhan yang berbiji dan segala jenis pohon-pohonan yang menghasilkan
buah yang berbiji. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.
Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari ketiga.
Berfirmanlah Allah: "Jadilah benda-benda penerang
pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang
itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan
tahun-tahun, dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu
menerangi bumi." Dan jadilah demikian.Maka Allah menjadikan kedua benda
penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang
lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang. Allah menaruh
semuanya itu di cakrawala untuk menerangi bumi,
dan untuk menguasai siang dan malam, dan untuk memisahkan terang dari
gelap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. Jadilah petang dan jadilah pagi,
itulah hari keempat. (Kejadian 1: 12-19)
Israel Dan Celaan Pada Yahudi
Sudah kita ketahui bersama bahwa Yahudi memusuhi Islam dan tidak akan rela dengan kemajuan serta perkembangan Islam. Bisa kita lihat dari sejarah sejak zaman awal perjuangan Islam di masa Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman,
“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.” (QS. Al-Maidah: 82)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata, “Kedua kelompok inilah golongan manusia yang paling besar dalam memusuhi Islam dan kaum muslimin dan paling banyak berusaha mendatangkan bahaya kepada mereka. Hal itu karena sedemikian keras kebencian orang-orang itu kepada umat Islam yang dilatar belakangi oleh sikap melampaui batas, kedengkian, penentangan, dan pengingkaran.”
Setelah mengalami kehinaan dan pengusiran dari jazirah Arab di zaman keemasan Islam. Orang-orang Yahudi mencari celah dan berusaha membalas dendam kepada Islam. Mereka memanfaatkan kelemahan umat Islam yang keimanan dan semangat beragama mereka mulai lemah. Di zaman ini, Yahudi dengan berbagai cara berusaha kembali merebut kejayaan mereka. salah satu usaha mereka dengan berusaha mendirikan negara yang menjadi kendaraan untuk berkuasa. Dengan berbagai usaha dan akal licik mereka mendirikan negara yang mereka klaim sebagai negara “Israel”. Negara yang mereka buat dengan penuh konspirasi dan penindasan terhadap negara Palestina yang mereka berniat menguasainya dengan penuh.
Yahudi Tidak Berhak Menisbatkan Diri pada Israel
Orang Yahudi menamakan negara dengan nama Israel karena mereka mengklaim bahwa mereka memiliki ikatan darah dengan Bani Israel. Memang benar mereka adalah keturuan Israel yaitu Nabi Ya’qub. Akan tetapi mereka adalah keturunan Israel yang sering membangkang dan tidak tahu diri sehingga dilaknat oleh Allah.
Allah Ta’ala berfirman,
“Telah dila’nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan ‘Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas.” (QS. Al Maidah: 78)
Ini adalah makar mereka untuk menutupi jati diri mereka karena di berbagai kitab Samawi nama Yahudi identik dengan kejelekan dan perbuatan mereka yang melampui batas.
Sebagaimana di dalam Al-Quran, Allah mencela dan melaknat kaum Yahudi. Allah Ta’ala berfirman,
“Orang-orang Yahudi berkata: “Tangan Allah terbelenggu” , sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu.” (QS. Al Ma’idah: 64)
Orang Yahudi juga mengklaim bahwa mereka membawa kemuliaan ajaran nabi Ibrahim karena mereka adalah keturunan Israel (Nabi Ya’qub) yang adalah keturunan Nabi Ibrahim. Akan tetapi ini dibantah dalam Al-Quran, mereka orang Yahudi bukanlah pembawa ajaran Nabi Ibrahim dan nabi Ibrahim bukan pula orang Yahudi. Allah Ta’ala berfirman,
“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Ali Imran: 67)
Yang paling berhak mengklaim pengikut ajaran Ibrahim adalah mereka yang mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu umat islam. Allah Ta’ala berfirman,
“Sesungguhnya orang yang paling berhak terhadap Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad) , beserta orang-orang yang beriman, dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 68)
Sering kita mendengar celaan terhadap Israel yang sebenarnya ditujukan terhadap nergara Yahudi ini. Padahal kata “Israel” adalah nama lain Nabi Ya’qub ‘alaihissalam. Dan orang Yahudi tidak berhak mengatasnamakan nabi Ya’qub.
Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma mengatakan,
Suatu saat sekelompok orang Yahudi mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu beliau bertanya pada mereka: “Apakah kalian mengetahui bahwa Israel adalah Ya’qub?” Orang-orang Yahudi itu pun menjawab,“Itu betul.“ Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Ya Allah saksikanlah perkataan mereka’.”[ HR. Abu Dawud At-Thayalisi no. 2854 dan Ahmad 1/273]
Israiil dalam bahasa Ibrani bermakna Abdullah atau hamba Allah. Abu Ja’far berkata,
“Nabi Ya’qub dipanggil dengan Kata “Israil”, karena bermakna Abdullah (hamba Allah) dan shafwatullah (kekasih Allah). Dan kata “Iil” adalah Allah sedangkan kata “Israa” adalah hamba. Sebagaimana dikatakan bahwa “Jibrill” adalah hamba Allah.” [ Tafsir At-Thabari 1/553, Mu’assasah Risalah]
Mari kita biasakan menyebut mereka dengan Yahudi dan negara Yahudi atau negara zionis Yahudi.
Oleh: dr. Raehanul Bahraen
(Muslim/Islampos)
Nasehat Bagi “Yang Baru Belajar Ngaji”
Ketika Mulai “Ngaji”: Terlalu Semangat, Keras dan Kebablasan
Kami sempat melakukan tindakan ini di awal-awal kami mengenal dakhwah ahlus sunnah karena kekurangan kami akan ilmu. Kemudian kami ingin membaginya supaya ikhwan-akhwat bisa mengambil pelajaran dan mengingatkan mereka yang telah lama mengenal anugrah dakwah ahlus sunnah. Beberapa hal tersebut ada sepuluh berdasar pengalaman kami:
Merasa lebih tinggi derajat dan akan terbebas dari dosa karena sudah merasa mengenal Islam yang benar.
Terlalu semangat menuntut ilmu agama sampai lupa kewajiban yang lain.
Kaku dalam menerapkan ilmu agama padahal Islam adalah agama yang mudah.
Keras dan kaku dalam berdakwah.
Suka berdebat dan mau menang sendiri bahkan menggunakan kata-kata yang kasar.
Menganggap orang di luar dakwah ahlus sunnah sebagai saingan bahkan musuh.
Berlebihan membicarakan kelompok tertentu dan ustadz/tokoh agama tertentu.
Tidak serius belajar bahasa Arab.
Tidak segera mencari lingkungan dan teman yang baik.
Hilang dari pengajian dan kumpulan orang-orang yang shalih serta tenggelam dengan kesibukan dunia.
Kami coba jabarkan satu-persatu.
1. Merasa lebih tinggi derajat dan akan terbebas dari dosa karena sudah merasa mengenal Islam yang benar
Ketika awal-awal mengenal dakwah ahlus sunnah bisa jadi ada rasa bangga dan sombong bahwa ia telah mendapat hidayah dan merasa ia sudah selamat dunia-akherat. Padahal ini baru saja fase yaqzhoh [bangun dari tidur], awal baru akan mulai mengarungi ilmu, amal, dakwah dan bersabar di atasnya.
Ingatlah, janganlah kita menganggap diri kita akan selamat dari dosa dan maksiat hanya karena baru mengenal dakwah ahlus sunnah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)
Muhammad bin Ya’qub Al-Fairuz Abadi rahimahullah menukil penafsiran Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma tentang ayat ini:
“Jangan kalian membebaskan diri kalian dari dosa dan Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa/takut dari maksiat dan membuat perbaikan.” [Tanwirul Miqbaas min tafsiri Ibni Abbaas 1/447, Darul Kutubil ‘Ilmiyah, Libanon, Asy-Syamilah]
Seharusnya jika kita menisbatkan pada dakwah salafiyah maka ingatlah pesan salaf [pendahulu] kita yaitu sahabat Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu,
“Kalau kalian mengetahui dosa-dosaku maka tidak akan ada dua orang yang berjalan di belakangku dan sungguh kalian akan melemparkan tanah di atas kepalaku, dan aku berangan-angan Allah mengampuni satu dosa dari dosa-dosaku dan aku dipanggil Abdullah bin Kotoran.” (HR.Hakim dalam Al-Mustadrok 3:357, no 5382, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnaf 7:103, no 34522dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman 1: 504, no 848, shahih)
2. Terlalu semangat menuntut ilmu agama sampai lupa kewajiban yang lain
Semua ikhwan-akhwat baru “ngaji” pasti semangat menuntut ilmu, karena banyak ilmu agama yang selama ini mereka yakini kurang tepat dan mereka dapatkan jawabannya dalam manhaj dakwah salafiyah yang ilmiyah. Akan tetapi ada yang terlalu semangat menuntut ilmu sampai lupa kewajibannya. Contoh kasus:
- Ikhwan kuliah di kampus, ia diberi amanah oleh orang tuanya untuk belajar di kota A, menyelesaikan studinya, pulang membawa gelar dan membahagiakan keduanya. Kedua orang tua bersusah payah membiayainya. Akan tetapi ia sibuk belajar agama di sana – di sini dan lalai dari amanah orang tua yang WAJIB juga ditunaikan. Nilainya hancur dan terancam Drop Out. Tentu saja orang tuanya bertanya-tanya dan malah menyalahkan dakwah salafiyah yang ia anut. Ia pun tidak menjelaskan dengan baik-baik kepada kedua orang tuanya.
- Seorang suami yang sibuk menuntut ilmu agama dan menelantarkan istri dan anaknya. Melakukan safar tholabul ilmi ke berbagai daerah, langsung membeli kitab-kitab yang banyak dan mahal. Padahal ia agak kesusahan dalam ekonomi dan tidak memberikan pengertian kepada istri dan anak-anaknya.
Kita seharusnya memperhatikan firman Allah:
“Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-An’am: 141). Artinya, mempelajari ilmu juga harus bisa memperhatikan kewajiban lainnya, yaitu kewajiban bakti pada orang tua dan memberi nafkah pada keluarga. Dan jika kita perhatikan, orang-orang seperti ini hanya [maaf] “panas-panas tahi ayam”. Semangat hanya beberapa bulan saja setelah itu kendor bahkan futur [malas dan jenuh].
3. Kaku dalam menerapkan ilmu agama padahal Islam adalah agama yang mudah
Allah Ta’ala mengkhendaki kemudahan bagi hamba-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”. (QS. Al-Baqarah: 185)
Sebagian ikhwan-akhwat yang baru “ngaji” mungkin dikarenakan masih sedikitnya ilmu terlalu kaku menerapkan ilmu agama sehingga sehingga nampaknya islam adalah agama yang sulit dan tidak fleksibel. Contoh kasus:
- Seorang akhwat ingin memakai cadar agar bisa menerapkan dan melestarikan sunnah agama islam. Akan tetapi semua keluarganya melarangnya bahkan keras karena nanti disangka teroris dan lingkungan akhwat tersebut sangat aneh dengan cadar. Ia sudah menjelaskan dengan baik-baik tetapi keluarganya yang sangat awam masih belum bisa menerima. Orang tuanya bahkan tidak ridha dan hubungan silaturahmi dengan keluarga menjadi terputus. Dalam kasus ini:
Apabila ia menyakini bahwa cadar hukumnya sunnah maka diterapkan kaidah:
“Menolak mafsadat didahulukan daripada mendatangkan mashlahat”. Jika ia memakai cadar maka mendatangkan mashlahat yaitu melaksanakan sunnah, jika ia tidak pakai cadar maka menolak mafsadat yaitu tidak ridhanya ortu dan putus silaturhami. Maka dengan kaidah ini ia wajib menolak mafsadat dengan tidak memakai cadar. Selain itu hukum wajib didahulukan dari hukum sunnah.
- Begitu juga dengan kasus seorang akhwat kuliah di luar kota, ia harus safar tanpa mahram dan tidak tahan kuliah ikhtilat [bercampur-baur laki-laki dan perempuan], maka ia memutuskan tidak melanjutkan kuliah. Sehingga diminta pulang oleh orang tuanya. Akan tetapi di tempatnya tidak ada kajian dan mejelis ilmu sehingga ia menjadi futur karena ia baru-baru “ngaji”. Sedangkan di kota tempat ia kuliah ada banyak majelis ilmu. Maka keputusan ia berhenti kuliah kurang tepat. Karena diterapkan kaidah:
”Jika ada dua mudharat (bahaya) saling berhadapan maka di ambil yang paling ringan.”
Dan banyak kasus yang lain. Intinya kita harus banyak-banyak berdiskusi dengan ustadz dan orang yang berilmu jika mendapatkan sesuatu dalam agama yang berat dan sesak terasa jika kita jalankan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
“Dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu . Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah.” (QS. Ali Imron: 159)
4. Keras dan kaku dalam berdakwah
Mungkin ini disebabkan karena terlalu semangat ingin meyebarkan dakwah manhaj salafiyah. Akan tetapi karena sedikitnya ilmu tentang tata-cara berdakwah, dakwah terkesan kaku dan keras. Contoh kasus:
- Seorang pemuda yang baru mengenal dakwah, ketika pulang langsung menceramahi orang tuanya dan kakeknya. Dan berkata ,“ini haram”, itu bid’ah, ini syirik”. Tentunya saja kakeknya akan berkata, “Kamu anak ingusan kemaren sore, baru saya ganti popokmu, sudah berani ceramahi saya?”.
- Seorang ikhwan yang baru tahu hukum tahlilan setelah kematian adalah bid’ah. Kemudian ia datang kekumpulan orang yang melakukannya dalam suasana duka. Ia sampaikan ke majelis tersebut bahwa ini bid’ah maka bisa jadi ia pulang tinggal nama saja.
- Seorang akhwat yang ingin mendakwahkan temannya yang masih sangat awam atau baru masuk islam. Ia langsung mengambil tema tentang cadar, jenggot, isbal, bid’ah, hadist tentang perpecahan dan firqoh. Ia juga langsung membicarakan bahwa aliran ini sesat, tokoh ini sesat dan sebagainya. Seharusnya ia mengambil tema tauhid dan keindahan serta kemudahan dalam islam.
Seharusnya berdakwah dengan cara yang lembut serta penuh hikmah. Dan berdakwah ada tingkatan, cara dan metodenya. Berpegang pada prinsip yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan,
“Mudahkan dan jangan mempersulit, berikan kabar gembira dan jangan membuat manusia lari.” (HR. Bukhari, Kitabul ‘Ilmu no.69)
5. Suka berdebat dan mau menang sendiri bahkan menggunakan kata-kata yang kasar
Karena terlalu semangat berdakwah akan tetapi tanpa disertai ilmu. Maka ada sebagian ikhwan-akhwat baru “ngaji” sering terjatuh dalam kebiasaan suka berdebat. Dan parahnya, ia baru hanya tahu hukumnya saja, tidak mengetahui dan menghafal dalil serta tidak tahu metode istidlal [mengambil dalil]. Jadi yang ada hanya berdebat saling “ngotot” tentang hukum sesuatu apalagi mengeluarkan kata-kata yang kasar sampai mencaci-maki dan menyumpah-serapah.
Memang ada yang sudah hafal dalilnya dan mengetahui metode istidlal (cara pendalilan). Akan tetapi, ia tidak membaca situasi dakwah, siapa objek dakwah, waktu berdakwah ataupun posisi dia saat mendakwahkan.
Dan ada juga yang berdebat karena ingin menunjukkan bahwa ia ilmunya tinggi, banyak menghafal ayat dan hadist, mengetahui ushul fiqh dan kaidah-kaidahnya.
Memang saat itu kita menang dalam berdebat karena manhaj salafiyah ilmiyah. Akan tetapi tujuan berdakwah dan nasehat tidak sampai. Orang tersebut sudah dongkol atau sakit hati karena kita berdebat dengan cara yang kurang baik bahkan menggunakan kata-kata yang kasar. Hatinya tidak terima karena merasa sudah dipermalukan, akibatnya ia gengsi menerima dakwah. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat”. (HR. Muslim 55/95)
Yang dimaksud dengan nasehat adalah menghendaki kebaikan. Jadi bukan tujuannya menunjukkan kehebatan berdalil dan menang dalam berdebat.
Mengenai suka berdebat, para nabi dan salafus shalih sudah memperingatkan kita tentang bahayanya. Nabi Sulaiman ‘alaihis salam berkata kepada anaknya,
“Wahai anakku, tinggalkanlah mira’ (jidal, mendebat karena ragu-ragu dan menentang) itu, karena manfaatnya sedikit. Dan ia membangkitkan permusuhan di antara orang-orang yang bersaudara.” (Syu’abul Iman: 8076 Al-Baihaqi, cetakan pertama, Darul Rusdi Riyadh, Asy-syamilah)
Mengenai berkata-kata kasar, maka ini tidak layak keluar dari lisan seseorang yang mengaku menisbatkan diri pada manhaj salaf. Renungkan firman Allah Ta’ala,
“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (QS. At-Thoha: 43-44).
Kepada orang selevel Fir’aun saja harus berdakwah dengan kata-kata yang lemah lembut, apalagi kita akan mendakwahkan saudara kita seiman? Maka gunakanlah kata-kata yang lembut dan bijaksana lagi penuh hikmah.
6. Menganggap orang di luar dakwah ahlus sunnah sebagai saingan bahkan musuh
Ikhwan-akhwat baru “ngaji” yang sedang semangat-semangatnya berdakwah ada sebagian yang melihat orang di luar dakwah ahlus sunnah adalah saingan mereka. Padahal mereka adalah sasaran dakwah juga bukan saingan dakwah. Mereka adalah saudara seiman kita. Mereka berhak mendapatkan hak-hak persaudaraan dalam islam. Seharusnya kita lebih mengasihi dan menyayangi mereka karena mereka punya semangat membela dan menyebarkan islam hanya saja mereka sudah terlanjur salah dalam memahami Islam. Mereka tidak seberuntung kita medapatkan anugrah dakwah ahlus sunnah. Contohnya:
- Di kampus, ketika bertemu dengan teman-teman yang berdakwah tidak dengan dakwah ahlus sunnah, maka kita bermuka sangar, cemberut, tidak mau menyapa dan tidak membalas salam. Tidak mau duduk bermajelis dengan mereka karena tidak merasakan suasana kekeluargaan islami. Dan parahnya, malah kita dengan orang di luar Islam lebih akrab dan hangat. Ketahuilah mereka saudara-sudara seiman kita yang lebih patut mendapat perhatian dan dakwah dari kita. Tidak heran jika saudara-saudara kita mengatakan, “Kok kita sesama orang islam saling gontok-gontokan, tapi berbaikan dengan orang kafir.”
Allah Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan bertakwalah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 10)
- Di kampung, ada ustadz /kiayi haji/ tuan guru/ tokoh masyarahat yang berdakwah tidak dengan dakwah ahlus sunnah. Maka ada sebagian ikhwan-akhwat yang seolah-olah meremehkan mereka, menganggap mereka aliran sesat, ilmunya salah dan ngawur, Tidak menghormati mereka. Padahal belum tentu kita lebih baik dari mereka. Bisa jadi mereka amalnya sedikit yang benar tapi sangat ikhlas, mengalahkan amal kita yang –sekiranya benar insya Allah- tapi tidak ikhlas dan dipenuhi dengan riya’ dan dengan rasa sombong mampu beramal. Seharusnya kita memposisikan mereka sesuai dengan posisi mereka, menghormati mereka dan memilih kata-kata dakwah yang baik dan tidak terkesan menggurui.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda memerintahkan agar kita memposisikan manusia sesuai dengan kedudukuannya masing-masing. Salah satu penerapan beliau adalah surat beliau kepada raja Romawi Heraklius:
“Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dari Muhammad utusan Allah kepada pembesar/ tokoh besar Romawi”
Kemudian jika mereka tidak menerima dakwah kita maka ada sebagian ikhwan-akhwat yang langsung mengangapnya sebagai musuh. Mereka akan merusak agama islam, mencap sebagai ahli bid’ah dan syirik dan tahu kaidah pembid’ahan dan pengkafiran. Padahal mereka tetap saudara kita dan masih berhak mendapatkan hak-hak persaudaraan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Jangan kalian saling hasad, jangan saling melakukan najasy, jangan kalian saling membenci, jangan kalian saling membelakangi, jangan sebagian kalian membeli barang yang telah dibeli orang lain, dan jadilah kalian sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara muslim bagi lainnya, karenanya jangan dia menzhaliminya, jangan menghinanya, jangan berdusta kepadanya, dan jangan merendahkannya.(HR. Muslim no. 2564)
Jika mereka tidak menerima, maka tugas kita hanya menyampaikan saja. Mereka terima Alhamdulillah , jika tidak diterima jangan dipaksa dan dimusuhi. Karena kita hanya memberikan hidayah ‘ilmu wal bayan berupa penjelasan, sedangkan hidayah taufiq hanya ditangan Allah. Seharusnya kita mendoakan mereka semoga mandapatkan hidayah, bukan dimusuhi.
Lihatlah tauladan kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala pergi ke Thaif untuk berdakwah sekaligus meminta perlindungan kepada mereka dari tekanan kafir Quraisy setelah meninggalnya paman beliau Abu Thalib. Akan tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diusir dengan lemparan batu, caci-maki dan ejekan. Tubuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia sampai berdarah-darah. Perasaan beliau makin sedih karena saat itu tahun-tahun ditinggal juga oleh istrinya Khadijah radhiallahu ‘anha, pendukung dakwah beliau. Kemudian datanglah malaikat Jibril ‘alaihissalam memberi tahu bahwa malaikat penjaga bukit siap diperintah jika beliau ingin menimpakan bukit tersebut kepada orang-orang Thaif. Malaikat tersebut berkata,
“Wahai muhammad, terserah kepada engkau, jika engkau mnghendaki aku menghimpitkan kedua bukit itu kepada mereka”
Tapi apa yang keluar dari lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Doa kepada penduduk Thoif. Beliau berdoa,
“Bahkan aku berharap Allah akan mengeluarkan dari tulang sulbi mereka keturunan yang akan menyembah Allah semata, tidak disekutukanNya dengan apa pun” [kisah yang panjang bisa dilihat di shahih Bukhari no. 3231]
Subhanallah, kita sangat jauh dari cara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah. Dan terbukti doa beliau mustajab. Penduduk Thoif tidak lama menjadi salah satu pembela Islam dan mengikuti peperangan jihad membela Islam.
Mengenai berwajah sangar, seram dan cemberut terus seolah-olah prajurit perang yang marah. Mungkin ini salah persepsi sebagian ikhwan-akhwat karena mereka sering dan terlalu banyak melihat syirik, bid’ah dan maksiat dimana-mana. Seolah-olah menunjukkan mereka ingin mengingkari semuanya. Tetapi Islam tidak mengajarkan demikian, seorang muslim berprinsip “Berwajah ceria bersama manusia dan berlinang air mata akan dosanya saat sendiri bermunajat kepada Rabb-nya”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Janganlah engkau remehkan suatu kebajikan sedikitpun, walaupun engkau bertemu dengan saudaramu dengan wajah yang ceria/bermanis muka”. (HR. Muslim no. 2626)
7. Berlebihan membicarakan kelompok tertentu dan ustadz/tokoh agama tertentu
Ada sebagian ikhwan-akhwat yang terlalu tenggelam dan sibuk membicarakan masalah perpecahan dan firqoh. Memang kita harus mempelajarinya agar tahu mana yang selamat, akan tetapi kita jangan terlalu menyibukkan diri membicarakan kelompok-kelompok tersebut. Tema yang terlalu sering diangkat dalam kumpul-kumpul, majelis dan pengajian adalah sesatnya kelompok ini, jangan ikut kajian dengan kelompok itu, menerapkan hajr/memboikot di sana-sini tanpa tahu kaidah meng-hajr. Akhirnya sibuk dan lalai mempelajari tauhid, aqidah, akhlak, fiqh keseharian dan bahasa Arab.
Seharusnya ada prioritas dalam belajar. Hendaknya kita lebih memprioritaskan pembicaraan tentang tauhid dan akidah. Itulah seruan pertama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ingin berdakwah. Beliau bersabda kepada Muadz yang diutus ke Yaman,
“Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum Ahli kitab maka hendaklah dakwah yang pertama kali engkau sampaikan kepada mereka adalah syahadat Laa ila Illallah, dalam riwayat yang lain: supaya mereka mentauhidkan Allah”. (Muttafaqun ‘alaih)
Selain membicarakan kelompok, sebagian ikhwan-akhwat juga sibuk membicarakan kesalahan dan kejelekan ustadz/tokoh tertentu. Mencap sebagai ahli bid’ah tanpa tahu kaidah pembid’ahan atau mencap kafir tanpa tahu kaidah pengkafiran. Tidak mau ikut pengajian ustadz fulan. Bahkan sampai tingkat ulama. Syaikh fulan terjatuh dalam aqidah Murji’ah, syaikh fulan ikut merestui kelompok sesat, syaikh fulan sudah ditahzir/diperingati oleh syaikh fulan. Parahnya, info yang sampai ke dia hanya qiila wa qoola, berita-berita yang tidak jelas dan belum tahu apakah sudah tabayyun/klarifikasi atau belum. Akhirnya sibuk mencari-cari aib orang lain. Membicarakan kesalahan orang lain.
Seharusnya kita lebih banyak mencari kesalahan kita, merenungi dosa-dosa kita yang banyak. Seharunya kita ingat perkataan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
“Salah seorang dari kalian dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya tetapi dia lupa akan kayu besar yang ada di matanya.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrod no. 592. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa riwayat ini shahih)
Ustadz/ tokoh tersebut jika memang ia salah, belum tentu kita lebih baik dari mereka. Bisa jadi amal mereka sedikit yang benar tapi sangat ikhlas. Sedangkan kita, seandainya banyak amal kita yang sesuai sunnah tapi tidak ikhlas, dipenuhi riya’ dan rasa sombong mampu beramal banyak. Ajaran islam mengajarkan agar kita tawaddhu’, rendah hati dan mengaggap orang lain lebih baik dari kita.
‘Abdullah Al Muzani rahimahullah berkata,
“Jika iblis memberikan was-was kepadamu bahwa engkau lebih mulia dari muslim lainnya, maka perhatikanlah. Jika ada orang lain yang lebih tua darimu, maka seharusnya engkau katakan, “Orang tersebut telah lebih dahulu beriman dan beramal sholih dariku, maka ia lebih baik dariku.” Jika ada orang lainnya yang lebih muda darimu, maka seharusnya engkau katakan, “Aku telah lebih dulu bermaksiat dan berlumuran dosa serta lebih pantas mendapatkan siksa dibanding dirinya, maka ia sebenarnya lebih baik dariku.” Demikianlah sikap yang seharusnya engkau perhatikan ketika engkau melihat yang lebih tua atau yang lebih muda darimu.” (Hilyatul Awliya’ 2/226, Abu Nu’aim Al Ashbahani, Asy-Syamilah)
8. Tidak serius belajar bahasa Arab
Mungkin ikhwan-akhwat yang baru “ngaji” sekalipun sudah tahu bahwa hukum mempelajari bahasa Arab, yaitu fardhu. Ada juga yang merinci fardhu ‘ain bagi mereka yang mampu belajar dan bagi orang-orang yang akan banyak berbicara agama seperti calon ustadz dan aktifis dakwah. Kemudian fardhu kifayah bagi mereka yang tidak mampu otaknya seperti orang yang sangat tua. Fadhu ‘ain juga pada ilmu yang mencukupkan ia paham agamanya dan fadhu kifayah pada ilmu tambahan seperti ilmu syair. Sebagaimana perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah:
“Di sana ada bagian dari bahasa Arab yang wajib ‘ain dan ada yang wajib kifayah. Dan hal ini sesuai dengan apa yang diriwayatkan oleh Abu Bakar bin Abi Syaibah, dari ‘Isa bin Yunus dari Tsaur, dari Umar bin Yazid, beliau berkata: Umar bin Khaththab menulis kepada Abu Musa Al-Asy’ari (yang isinya), “Pelajarilah As-Sunnah, pelajarilah bahasa Arab dan I’roblah Al-Qur’an karena Al-Qur’an itu berbahasa Arab.” (Iqtidho’Shirotal Mustaqim hal 527 jilid I, tahqiq syaikh Nashir Abdul karim Al–‘Aql, Wizarot Asy Syu-un Al Islamiyah wal Awqof)
Bahasa Arab sangat penting, karena sarana memahami Islam. Sehingga kita bisa mudah menghapal Al-Quran dan hadits, mudah tersentuh dengan Al-Quran, memahami buku-buku ulama. Hanya orang yang menguasai bahasa Arab yang bisa merasakan manisnya menuntut ilmu.
Tetapi ada sebagian ikhwan-akhwat yang lalai belajar bahasa Arab, tidak serius dan ada juga yang menyerah belajar bahasa Arab. Hal ini membuat mereka kurang kokoh dalam beragama. Dan setelah diperhatikan, Ikhwan-akhwat yang kemudian kendor menuntut ilmu dan hilang semangat belajar agama bahkan futur adalah mereka yang tidak serius belajar bahasa Arab.
Prosesnya mungkin seperti ini: pertama mereka semangat ikut kajian di sana-sini, kemudian mulai bosan dengan kajian yang temanya itu-itu saja. Dan berpikir materi seperti ini bisa dibaca di rumah dan di internet. Akhirnya hilang dari pengajian dan kumpulan orang-orang shalih. Kemudian dengan membacapun agak bosan [inipun kalau ia rajin membaca], Karena buku-buku terjemahan dan artikel materinya sangat terbatas. Akhirnya ia malah disibukkan dengan hal-hal yang kurang bermanfaat seperti facebook dan internet berjam-jam, ngobrol-ngobrol tentang akhwat padahal belum mau nikah dan lain-lain. Bahkan terjerumus dalam hal-hal yang haram. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata:
“Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, pasti akan disibukkan dengan hal-hal yang batil” (Al Jawabul Kaafi hal 156, Darul Ma’rifah, cetakan pertama, Asy-Syamilah).
Berbeda dengan mereka yang mengusai bahasa arab. Mereka semakin tertantang untuk belajar banyak ilmu dan tingkatan ilmu yang lebih tinggi seperti ilmu mustholah hadist, kaidah fiqh, ushul fiqh, mendengarkan muhadharah/ceramah syaikh dan menelaah kitab-kitab ulama yang tebal dan berjilid-jilid. Sehingga mereka selalu disibukkan dengan ilmu, amal dan dakwah. Mereka pun bisa merasakan kebahagian dan manisnya ilmu syar’i.
9. Tidak segera mencari lingkungan dan teman yang baik
Lingkungan dan teman sangat penting, karena sangat berpengaruh dengan diri kita. Ikhwan-akhwat yang baru “ngaji” biasanya masih mudah goyang dan tidak stabil, karena diperlukan teman-teman yang shalih dan baik. Bisa dilakukan dengan tinggal di wisma atau kost-kostan khusus ikhwan dan khusus akhwat. Atau jika memungkinkan pindah ke lingkungan sekitar pondok atau perumahan yang banyak ikhwannya. Atau jika tidak bisa, sering-sering silaturahmi ke ikhwan-akhwat yang shalih dan shalihah serta berkumpul bersama mereka. Allah Ta’ala berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar(jujur).” (QS. At Taubah: 119)
Jika tidak, maka sudah sering terdengar cerita banyak ikhwan-akhwat yang dulunya semangat “ngaji” sekarang sudah futur dan hilang dari peredaran dakwah. Lingkungan dan teman yang baik memang dibutuhkan bagi semua orang.
Mengenai teman yang baik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari no. 2101)
Perlu diperhatikan bahwa hati manusia lemah, apalagi jika sendiri. Perlu dukungan, saling menasehati antar sesama. Selevel Nabi Musa ‘alaihissalam saja memohon kepada Allah agar punya teman seperjuangan yang bisa membantunya dan membenarkan perkataannya, yaitu Nabi Harun alaihissalam . Sebagaimana kisahnya dalam Al-Quran,
“Dan saudaraku Harun dia lebih fasih lidahnya daripadaku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkataan)ku; sesungguhnya aku khawatir mereka akan mendustakanku”.(QS. Al-Qashash: 34)
10. Hilang dari pengajian dan kumpulan orang-orang shalih serta tengelam dengan kesibukan dunia
Penyebab terbesar futur adalah point ini. Majelis ilmu adalah tempat mere-charge keimanan kita, setelah terkikis dengan banyaknya fitnah dunia yang kita hadapi.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidaklah suatu kaum berkumpul di satu rumah Allah, mereka membacakan kitabullah dan mempelajarinya, kecuali turun kepada mereka ketenangan, dan rahmat menyelimuti mereka, para malaikat mengelilingi mereka dan Allah memuji mereka di hadapan makhluk yang ada di dekatnya”. (HR. Muslim nomor 6793)
Dan orang-orang shalih adalah pendukung dan penguat iman kita dengan saling menasehati. Di mana dengan berteman dengan mereka, maka kita akan sering mengingat akherat dan menjadi tegar kembali dalam beragama. sebagaimana Ibnul Qoyyim rahimahullahu berkata,
“Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah), jika kami ditimpa perasaan takut yang berlebihan, atau timbul dalam diri kami prasangka-prasangka buruk, atau (ketika kami merasakan) kesempitan hidup, kami mendatangi beliau, maka dengan hanya memandang beliau dan mendengarkan ucapan beliau, maka hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang.” (Al Waabilush Shayyib hal 48, cetakan ketiga, Darul Hadist, Asy-Syamilah)
Tidak sedikit kita mendengar berita:
- Ikhwan yang dulunya semangat mengaji dan menjadi panitia-panitia kajian, kemudian bekerja di perusahaan kota A dengan gaji yang menggiurkan sekarang sudah potong jenggot, isbal, berpacaran dan seolah-olah menjauh dari ikhwan-ikhwan jika di sms atau ditelepon.
- Akhwat yang dulunya semangat menuntut ilmu, memakai jilbab lebar, memakai cadar bahkan purdah, kemudian melanjutkan studi S2 atau S3 dikota B atau di luar negeri, kemudian terdengar kabar bahwa ia sudah memakai jilbab ala kadar yang kecil “atas mekkah bawah amerikah”.
Terkadang kita tidak percaya dengan berita-berita seperti ini. Bagaimana mungkin dulu ia adalah guru bahasa arab, imam masjid dan jadi rujukan pertanyaan, sekarang menjadi seperti itu. Semua ini bisa jadi karena tenggelam dengan kesibukan dunia dan terkikis fitnah secara perlahan-lahan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memisalkannya seperti tikar, beliau bersabda,
“Fitnah-fitnah akan mendatangi hati bagaikan anyaman tikar yang tersusun seutas demi seutas”. (HR.Muslim no 144)
Demikian yang dapat kami jabarkan. Dan dampak dari beberapa kesalahan tersebut adalah:
Merasakan kesempitan hidup setelah mengenal dakwah ahlus sunnah
Dakwah tidak diterima oleh orang lain
Merusak nama dakwah salafiyah ahlus sunnah dan memberi kesan negatif
Memecah belah persatuan umat Islam
Kemudian marilah kita banyak-banyak berdoa agar diberi istiqomah beragama yang merupakan anugrah terbesar.
“Yaa muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘ala diinik” artinya: ‘Wahai Zat yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu’ (HR. Tirmidzi no 2066. Ia berkata: “Hadits Hasan”, dishahihkan oleh Adz-Dahabi)
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.
Penyusun: Raehanul Bahraen
Disempurnakan di Lombok, pulau Seribu Masjid
6 Syawwal 1432 H, bertepatan 5 September 2011
Dari artikel 'Ketika Mulai “Ngaji”: Terlalu Semangat, Keras dan Kebablasan
Subscribe to:
Posts (Atom)




