Arab Saudi: Agama atau Kekuasaan?

Ada satu asumsi yang begitu populer, begitu sering diulang, hingga terasa seperti kebenaran bahwa Arab Saudi adalah wajah paling otentik dari Islam.

Tapi sejarah, seperti seorang hakim yang dingin dan tidak memihak, sering kali membongkar keyakinan yang terlalu cepat kita terima.

Pertanyaannya sederhana, tapi menggelisahkan: apakah sebuah negara yang lahir dari perebutan kekuasaan, aliansi politik, dan konflik berdarah bisa begitu saja dianggap sebagai cermin ajaran suci yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw?

Jika kita berani menunda keyakinan sejenak, dan memberi ruang bagi akal untuk bekerja, mungkin kita akan menemukan sesuatu yang tak nyaman, tapi justru itu yang mendekatkan kita pada kebenaran.

Sejarah sering kali lebih jujur daripada slogan. Sejarah tidak berteriak, tapi menyimpan jejak dan siapa pun yang mau membaca dengan tenang akan menemukan bahwa tidak semua yang tampak “suci” lahir dari ruang yang suci.

Arab Saudi, yang hari ini sering dibayangkan sebagai representasi Islam itu sendiri, sesungguhnya lahir dari proses yang sangat duniawi yakni konflik, aliansi, ambisi, dan perhitungan kekuasaan. 

Arab Saudi tidak turun dari langit sebagai kelanjutan langsung dari pemerintahan Nabi, tidak pula tumbuh sebagai warisan sistem politik yang dibangun oleh Nabi Muhammad saw. 

Justru sebaliknya, Arab Saudi muncul dari dinamika politik Jazirah Arab yang bergejolak berabad-abad setelah masa kenabian berakhir.

Mari kita mundur sejenak. Setelah wafatnya Nabi Saw, dunia Islam mengenal berbagai bentuk pemerintahan, mulai dari Khulafaur Rasyidin, dinasti Umayyah, Abbasiyah, hingga kekuasaan besar seperti Kekaisaran Utsmani.

Namun tidak satu pun dari struktur itu yang berhubungan langsung dengan apa yang hari ini kita kenal sebagai Arab Saudi. Wilayah yang sekarang menjadi Saudi dulunya hanyalah hamparan suku-suku di Najd dan Hijaz, tanpa satu negara yang utuh.

Baru pada abad ke-18, muncul sebuah aliansi yang mengubah arah sejarah.

Seorang pemimpin lokal, Muhammad bin Saud, bertemu dengan seorang tokoh agama, Muhammad ibn Abd al-Wahhab. Keduanya membuat kesepakatan sederhana tapi berdampak besar. 

Satu menyediakan kekuatan politik dan militer, yang lain menyediakan legitimasi agama. Dari sinilah lahir embrio negara Saudi pertama.

Ini bukan sekadar gerakan dakwah, dan bukan pula sekadar ekspansi politik. Ini adalah perpaduan keduanya. Dalam bahasa yang lebih jujur, agama dan kekuasaan saling menguatkan.

Sejak saat itu, ekspansi dilakukan, konflik terjadi, bahkan tragedi seperti Penyerbuan Karbala 1802 menjadi bagian dari sejarah kelam yang tak bisa dihapus begitu saja. 

Negara pertama itu akhirnya dihancurkan oleh Utsmani, tapi ide dan ambisinya tidak mati.

Setelah jatuh bangun dalam dua fase, proyek ini mencapai bentuk akhirnya di tangan Abdulaziz Ibn Saud. Dengan strategi militer, aliansi suku, dan momentum runtuhnya Utsmani, ia berhasil menyatukan wilayah Najd dan Hijaz, lalu pada 1932 memproklamasikan berdirinya sebuah negara baru, yaitu yang kita kenal hari ini sebagai Arab Saudi. 

Sebuah negara yang bahkan namanya diambil dari nama keluarga (Saud), sesuatu yang cukup unik dalam dunia modern.

Di titik ini, kita perlu jujur pada diri sendiri bahwa ini bukan kelanjutan sistem pemerintahan Nabi, melainkan hasil dari konsolidasi kekuasaan dinasti. 

Agama memang hadir, tapi lebih sebagai legitimasi daripada fondasi tunggal. Struktur politiknya jelas, monarki absolut. 

Kekuasaan diwariskan dalam keluarga, bukan melalui mekanisme syuro sebagaimana sering dibayangkan dalam ideal politik mayoritas Islam klasik.

Lalu datanglah minyak. Penemuan sumber daya ini mengubah segalanya. Dari wilayah gurun yang keras, Arab Saudi menjelma menjadi kekuatan ekonomi global melalui Saudi Aramco. Sejak saat itu, politiknya tidak lagi hanya soal agama dan suku, tapi juga tentang geopolitik, aliansi internasional, dan kepentingan global.

Di sinilah kita mulai melihat gambaran utuhnya. Arab Saudi bukan hanya negara agama, bukan hanya monarki, dan bukan pula sekadar aktor ekonomi. Arab Saudi adalah persilangan dari ketiganya. Tapi jika ditanya mana yang paling menentukan, jawabannya sering kali bukan agama melainkan kekuasaan dan kepentingan.

Seorang pemikir seperti Ibn Khaldun mungkin akan tersenyum melihat ini. Ia pernah menjelaskan bahwa kekuasaan lahir dari solidaritas kelompok, diperkuat oleh agama, lalu dipertahankan oleh kekuatan material. Apa yang terjadi pada Arab Saudi seakan menjadi ilustrasi hidup dari teorinya.

Karena itu, menjadi penting untuk membedakan antara Islam sebagai ajaran dan Arab Saudi sebagai negara.

Islam tidak lahir dari dinasti, tidak dibangun di atas kepentingan geopolitik, dan tidak bergantung pada minyak atau aliansi global. 

Islam datang sebagai pesan moral dan spiritual yang melampaui ruang dan waktu.

Sementara Arab Saudi adalah produk sejarah dan seperti semua produk sejarah, ia tidak pernah steril dari konflik dan intrik.

Menyamakan keduanya adalah kekeliruan yang terlalu sering terjadi. Seolah-olah wajah Islam harus selalu sama dengan wajah sebuah negara dimana agama Islam lahir. 

Padahal, sejarah justru mengajarkan sebaliknya, agama bisa digunakan untuk berbagai tujuan, termasuk untuk memperkuat kekuasaan.

Maka, mungkin yang perlu kita sadari bukanlah menolak atau menerima Arab Saudi, tapi memahami posisinya secara jernih. Bahwa ia adalah negara yang lahir dari dinamika politik manusia, bukan replika dari negara yang dibangun oleh Nabi. 

Dan bahwa Islam, sebagai ajaran, jauh lebih luas dan lebih dalam daripada apa pun yang bisa direpresentasikan oleh satu negara.

Karena pada akhirnya, kebenaran tidak pernah dimonopoli oleh kekuasaan dan agama tidak pernah sepenuhnya bisa dipenjarakan oleh sejarah.