5 Amalan Pelebur Dosa di Bulan Ramadhan


Shalat lima waktu, bertemu dengan hari Jumat dan bertemu dengan Ramadhan
“Antara shalat yang lima waktu, antara jum’at yang satu dan jum’at berikutnya, antara Ramadhan yang satu dan Ramadhan berikutnya, di antara amalan-amalan tersebut akan diampuni dosa-dosa selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim no. 233)

Amalan puasa Ramadhan
“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760)

Qiyam Ramadhan (shalat Tarawih)
“Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759)

Menghidupkan shalat malam pada Lailatul Qadar
“Barangsiapa melaksanakan shalat pada lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901)

Zakat fitrah
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari kata-kata yang sia-sia dan kata-kata keji, dan juga untuk memberi makan pada orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka itu hanya dianggap sebagai sedekah di antara berbagai sedekah.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah, hasan)

10 Keutamaan Shalat Subuh Berjamaah

Salah satu ibadah wajib yang terasa berat dilaksanakan bagi sebagian besar kaum Muslim, khususnya laki-laki dewasa adalah shalat Subuh secara berjamaah.

Padahal shalat Subuh berjamaah memiliki banyak keutamaan yang luar biasa, berikut ini 10 keutamaan Shalat Subuh berjamaah:

1. Orang yg shalat subuh berjamaah mendapatkan berkah dari Allah Ta’ala.

Sebab, aktivitas yang dilaksanakan pada waktu pagi, terlebih aktivitas wajib dan dilaksanakan berjamaah seperti halnya shalat Subuh, telah didoakan Rasulullah agar mendapatkan berkah. Sbgmn hadits yg diriwayatkan  Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibn Majah.

Beliau berdoa :‎ "Ya Allah, berikanlah keberkahan pada umatku di waktu pagi."

 2. Mendapatkan cahaya yang sempurna pada hari Kiamat.
Kondisi pada waktu subuh umumnya masih gelap, Namun, dengan kondisi seperti itulah justru terdapat ganjaran yang besar dari Allah Ta’ala bagi manusia-manusia yang pergi menuju masjid utk melaksanakan shalat subuh berjamaah, dalam hadits disebutkan: 

"Sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang berjalan pada saat gelap menuju masjid, mereka mendapat cahaya yang sempurna pada hari Kiamat.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

3. Mendapatkan ganjaran shalat malam sepenuh waktunya. 
Sementara manusia disibukkan dgn kerja di siang hari ternyata pahala melakukan shalat malam sepenuh waktu malam bisa kita dapatkan dengan melakukan shalat Subuh secara berjamaah, dalam hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

“Barang siapa yang melakukan shalat Isya berjamaah, maka dia sama seperti manusia yang melakukan shalat setengah malam. Barang siapa yang melakukan shalat Subuh berjamaah, maka dia sama seperti manusia yang melakukan shalat malam sepanjang waktu malam itu.” (HR. Muslim, dari Utsman bin Affan Radhiallahu ‘anhu)

4. Berada dalam jaminan Allah Ta’ala.
Artinya, orang yang melaksanakan shalat Subuh berjamaah, maka dia berada dalam jaminan dan perlindungan Allah Azzawajalla, dengan begitu, siapa yang berada dalam perlindungan Allah, orang itu tidak boleh disakiti, orang yang berani mencelakakannya terancam dengan azab yang pedih, sebab dia telah melanggar perlindungan yang Allah berikan kepada orang tersebut, dalam haditsnya, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: 

“Barang siapa yang melaksanakan shalat Subuh berjamaah maka dia berada dalam jaminan Allah. Maka jangan sampai Allah menuntut kalian sesuatu apa pun pada jaminan-Nya. Karena barangsiapa yang Dia tuntut pada jaminan-Nya, pasti Dia akan mendapatkannya. Kemudian dia akan ditelungkupkan wajahnya di dalam Neraka.” (HR. Muslim)

5. Dibebaskan dari sifat orang munafik.
Shalat Subuh secara berjamaah adalah salah satu upaya yang bisa kita tempuh agar bisa terhindar dari terjangkit penyakit kemunafikan itu, sebagaimana disebutkan dalam hadits:

“Tidak ada Shalat yang lebih berat (dilaksanakan) bagi orang munafik daripada shalat Subuh dan Isya. Seandainya mereka tahu (keutamaan) yang terdapat di dalamnya, niscaya mereka akan melakukannya kendati dengan merangkak. Sungguh aku telah memerintahkan kepada muazin untuk iqamat (Shalat) kemudian aku mengambil bara api dan membakar (rumah) orang yang belum mau keluar melaksanakan Shalat (di masjid).” (HR. Bukhari-Muslim, dari Abu Hurairah)

6. Jamaah shalat Subuh dipersaksikan oleh malaikat. Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: 

“­Malaikat bergantian melihat kalian pada siang dan malam. Para malaikat itu bertemu di shalat Subuh dan shalat Ashar. Kemudian yang bermalam dengan kalian naik (ke langit) dan ditanya oleh Rabb mereka, dan Dia lebih tahu keadaan hamba-hambanya, Bagaimana kondisi hamba-hambaku ketika kalian tinggalkan?’ Para malaikat menjawab, ‘Kami meninggalkan mereka dalam keadaan shalat, dan kami mendatangi mereka dalam keadaan shalat.” (HR. Bukhari-Muslim)

7. Berpeluang mendapatkan pahala haji atau umrah bila berzikir hingga terbitnya matahari. 
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Barang siapa yang shalat Subuh berjamaah kemudian dia duduk berzikir kepada Allah hingga matahari terbit, lantas shalat syuruk dua rakaat, maka baginya seperti pahala haji dan umrah, yang sempurna.” (HR. Tirmidzi)

8. Mendapatkan Kebaikan melebihi dunia dan seisinya bagi yang melaksanakan shalat sunah qobla Subuh.

“Dua rakaat (shalat sunah) sblm Subuh lebih baik daripada dunia dan segala isinya.” (HR. Muslim dari Ummul Mukminin Aisyah Radhiallahu ‘anha) 

9. Keselamatan dari siksa Neraka. Keselamatan dari siksa Neraka berarti berita gembira tentang Surga. Ganjaran ini tentunya berlaku bagi yang melaksanakan shalat Subuh secara sempurna (berjamaah).

Dari Umarah Radhiallahu ‘anhu berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Tidak akan masuk Neraka seorang yang shalat sebelum terbitnya matahari (Subuh) dan terbenamnya matahari (Ashar).” (HR. Muslim)

10. Kemenangan dengan melihat Allah Ta’ala pada hari Kiamat nanti. Tentunya hal ini merupakan ganjaran terbesar yang dikaruniakan Allah kepada hamba-Nya.

Dari Jarir Bin Abdullah al-Bajali Radhiallahu ‘anhu berkata, “Kami pernah duduk bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, kemudian beliau melihat ke bulan di malam purnama itu, Rasulullah bersabda, ‘Ketahuilah bahwa sesungguhnya kalian akan melihat kepada Rabb kalian sebagaimana kalian melihat kepada bulan ini. Kalian tidak terhalangi melihatnya. Bila kalian mampu untuk tidak meninggalkan shalat sebelum terbitnya matahari dan sebelum terbenamnya, maka lakukanlah!” (HR. Bukhari-Muslim)

Semoga kita istiqomah untuk senantiasa bisa menjaga shalat Subuh secara berjamaah.

Persiapan Menghadapi Ramadhan

Persiapan Menghadapi Ramadhan

Segala sesuatu yang kita hadapi akan lebih baik hasilnya jika kita memiliki persiapan sebelumnya. Tak terkecuali dengan Ramadhan. Dalam menyambut Ramadhan ada lima persiapan yang harus dilakukan:

Pertama, persiapan ilmu.

Agar aktifitas di bulan Ramadhan bisa optimal, kita harus memiliki wawasan dan pemahaman yang benar dan cukup tentang Ramadhan dan hal-hal yang terkait dengannya. Caranya dengan membaca berbagai bahan rujukan dan menghadiri majelis-majelis ilmu yang membahas tentang Ramadhan. Kegiatan ini berguna untuk mengarahkan kita agar beribadah sesuai tuntunan Rasulullah SAW, sebelum, selama dan pasca Ramadhan.

Kedua, persiapan semangat.

Semangat Ramadhan harus kita miliki jauh-jauh hari sebelum ia tiba. Salafus-shaleh biasa membaca doa ini: "Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban, dan pertemukan kami dengan Ramadhan." Selain doa, semangat dapat kita tingkatkan dengan memperbanyak ibadah-ibadah sunnah.

Ketiga, persiapan fisik.

Aktifitas di bulan Ramadhan memerlukan fisik yang lebih prima dari bulan lainnya. Sebab, jika fisik kita lemah, kemulian yang dilimpahkan Allah pada bulan tersebut tidak dapat kita raih secara maksimal. Kita harus membiasakan hidup sehat dengan mengatur pola makan, istirahat dan beraktifitas secara seimbang, serta cukup berolah raga, agar tubuh kita prima saat Ramadhan tiba. Kita juga harus melatih fisik untuk melakukan puasa sunnah, banyak berinteraksi dengan al-Qur'an, biasa bangun dan shalat malam, dan aktivitas lainnya. Agar kita memiliki ketahanan yang baik saat secara maksimal melakukannya di bulan Ramadhan.

Keempat, persiapan harta.

Sebaiknya, sebelum Ramadhan tiba kita sudah memiliki perbekalan harta yang cukup. Sehingga saat Ramadhan, waktu kita bisa lebih difokuskan untuk beribadah. Lebih dari itu, persiapan harta adalah untuk melipatgandakan sedekah atau infaq kita di bulan Ramadhan. Apalagi pahalanya dilipatgandakan oleh Allah dan Rasulullah telah mencontohkan kedermawanan yang sangat tinggi di bulan ini. 

Kelima, persiapan target peningkatan diri.

Juga penting untuk kita persiapkan adalah target-target yang ingin kita capai di bulan Ramadhan nanti. Agar terjadi peningkatan dalam diri kita sesuai dengan yang kita inginkan. Misalnya target mengkhatamkan Al-Quran atau menghafalnya, target penguasaan bahasa Arab atau melancarkannya, target menamatkan kitab-kitab tafsir, hadits dan lainnya, target jumlah infaq, membantu orang yang kesusahan, dan yang semisalnya. Baik dari sisi kwalitas maupun kwantitasnya. Pembuatan target capaian bulan Ramadhan akan memacu kita untuk beramal lebih baik lagi dari sebelumnya.

Mari kita jadikan Ramadhan tahun ini lebih baik dan bermakna dari yang telah kita lalui sebelumnya.

Periodisasi Dunia Islam



Rasulullah bersabda: "Kalian akan mengalami masa kenabian sampai Allah menghendaki kemudian Allah angkat (masa kenabian tersebut). Seterusnya masa khilafah dengan manhaj kenabian kemudian Allah mengangkatnya jika Allah menghendakinya. Seterusnya masa raja yang menggigit kemudian Allah mengangkatnya jika Allah menghendakinya. Seterusnya masa raja diktator sampai Allah menghendakinya, kemudian Allah mengangkatnya. Seterusnya masa khilafah dengan manhaj kenabian, kemudian diam." (HR Ahmad)

Nubuwah (ramalan) Rasulullah ini sebagiannya sudah terjadi dan sebagian kecil-insya Allah- akan terjadi. Dalam hadits tersebut ada 5 periode perjalanan sejarah umat manusia lebih khusus lagi umat Islam atau umat yang beriman kepada Allah, yaitu:

1. Manusia dipimpin oleh para nabi dan para rasul (masa kenabian)
Manusia pada saat itu dipimpin oleh para nabi dan para rasul, mulai dari nabi Adam sampai nabi Muhammad. Pada masa ini para nabi dan para rasul yang diutus Allah kepada manusia sekaligus berfungsi sebagai pemimpin mereka.

2. Manusia dipimpin oleh Khulafaur Rasyidin (masa khilafah sesuai dengan pedoman Rasulullah SAW) 
Kepemimpinan manusia dan umat Islam berpindah pada Khulafaur Rasyidin (khalifah yang mendapat petunjuk), yaitu Abu Bakar As-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin ‘Affan dan Ali bin Abi Thalib.

3. Manusia dipimpin oleh raja-raja yang menggigit (masa malik ‘adhon) Pada masa ini sistem hukum yang dipakai masih bersandar pada Al-Qur’an dan Sunnah, tetapi sistem pergantian kepemimpinan berubah dari sistem syura’ menjadi sistem kerajaan yang diangkat secara turun temurun.
Mulai dari dinasti Bani Umayyah, kemudian berpindah ke Bani Abbasiyah dan yang terakhir kekuasaan Turki Utsmani yang runtuh pada tahun 1924 M. Sehingga masa ini adalah masa yang cukup lama yaitu dari abad ke 6 sampai awal abad ke 20.

4. Manusia dipimpin oleh raja-raja atau penguasa yang diktator dan tidak berpedoman pada ajaran Islam.
Inilah masa kejatuhan umat Islam dari semua sisi kehidupan, termasuk sisi politik, karena umat Islam pada masa ini tertindas oleh penjajahan barat atau timur yang tidak beriman pada Allah dan menerapkan sistem sekuler yang jauh dari ajaran Islam.

5. Manusia dipimpin kembali oleh sistem khilafah sesuai pedoman yang dibawa nabi Muhammad SAW.
Masa Khilafah ‘ala Manhajin Nubuwah (Khilafah sesuai pedoman kenabian). Tanda tersebut sudah semakin dekat. Gerakan Islam semakin kuat dalam memperjuangkan kembalinya sistem Islam termasuk dalam dunia politik.

Wallahu a’lam

Istri Shalihah Yang Diridhoi Suami


Mau Jadi Istri Shalihah Dan Diridhoi Suami?

1. Segera menyahut dan hadir apabila diajak untuk berhubungan.

2. Tidak membantah perintah suami selagi tidak bertentangan dengan syariat.

3. Tidak bermasam muka terhadap suami.

4. Senantiasa berusaha memilih perkataan yang terbaik ketika berbicara.

5. Tidak memerintahkan suami untuk mengerjakan pekerjaan wanita.

6. Keluar rumah hanya dengan izin suami.

7. Berhias hanya untuk suami.

8. Tidak memasukkan orang ke dalam rumah tanpa seijin suami.

9. Menjaga waktu makan dan waktu istirahat suami.

10. Menghormati mertua serta kerabat keluarga suami. Terutama ibu mertua.

11. Berusaha menenangkan hati suami jika suami galau.

12. Segera minta ma'af jika melakukan kesalahan kepada suami.

13. Mencium tangan suami tatkala datang dan pergi.

14. Mau diajak oleh suami untuk sholat malam, dan mengajak suami untuk sholat malam.

15. Tidak menyebarkan rahasia keluarga terlebih lagi rahasia ranjang...!

16. Tidak membentak atau mengeraskan suara di hadapan suami.

17. Berusaha untuk bersifat qona’ah (nerimo) sehingga tidak banyak menuntut harta kepada suami.

18. Sedih dan bergembira bersama suami dan berusaha pandai mengikuti suasana hatinya.

19. Perhatian akan penampilan, jangan sampai terlihat dan tercium oleh suami sesuatu yang tidak disukainya.

20. Berusaha mengatur uang suami dan tidak boros.

21. Tidak menceritakan kecantikan dan sifat-sifat wanita lain kepada suaminya.

22. Berusaha menasehati suami dengan baik tatkala suami terjerumus dalam kemaksiatan, bukan malah ikut-ikutan.

23. Menjaga pandangan dan tidak suka membanding-bandingkan suami dgn para lelaki lain.

24. Lebih suka menetap di rumah, dan tidak suka sering keluar rumah.

25. Jika suami melakukan kesalahan maka tidak melupakan kebaikan-kebaikan suami selama ini. Karena ini sebab terbesar wanita masuk neraka.

Ciri-Ciri Berita HOAX

Salah satu indikator yang paling gampang dikenali dari suatu berita HOAX adalah kalimat: "Sebarkan berita ini kepada teman-teman Anda".

Penulis hoax ingin berita-nya segera menyebar sebanyak dan secepat mungkin, bila perlu mereka akan menambahinya dengan iming-iming atau ancaman menakut-nakuti untuk memastikan pesannya dapat berantai dilanjutkan ke orang lain.

Berikut ini beberapa iming-iming tipikal hoax: 

"Bagikan SMS ini ke minimal 10 orang teman Anda, maka Anda akan mendapat rezeki melimpah dari Tuhan."

"Jika Anda mengirimkan pesan ini pada teman Anda, Anda akan mendapat rahmat."

Di sisi lain, berita palsu biasanya memanfaatkan ketakutan pembacanya seperti berikut: 

"Sebarkan kabar ini ke teman Anda. Jika tidak disebar, Anda akan celaka."

"Jika tidak disebar, Anda akan ditimpa bencana tiada henti." 

"Barangsiapa tidak menyebarkan berita ini, niscaya akan mendapat laknat dari Tuhan, musibah."

Pada zaman kertas dulu teknik ini terkenal dengan sebutan surat berantai.

Indikator selanjutnya adalah penulis hoax cenderung memakai bahasa emosional yang dilebih-lebihkan dan tidak sewajarnya. Hoax seringkali dibumbui dengan kata-kata atau frase seperti: "Darurat", "Bahaya", "Awas", "Jangan sampai terlambat", dan lain sebagainya. Isi pun mengaduk emosi kita, "Selamat, Anda beruntung mendapatkan hadiah satu milyar."


Menggunakan Huruf Kapital

Sering juga ditemui berita semacam ini seluruhnya menggunakan huruf kapital untuk penekanan pemberitaan. "HATI-HATI!" Frase "INI KISAH NYATA", "TELAH TERJADI", "BUKAN HOAX" biasanya justru dipakai untuk mempengaruhi dan meyakinkan korbannya.

Menggunakan Bahasa yang Canggih

Untuk menutupi dengan rapi kepalsuannya, berita bohong sering menggunakan bahasa teknis tingkat tinggi untuk mendeskripsikan atau menarasikan isi beritanya.

Berlindung di balik Anonimitas atau Kekaburan Data

Indikator lain dari berita palsu adalah kecenderungan tidak memberikan referensi yang dapat diperiksa pembacanya. Promosi, undian, hadiah yang asli biasanya selalu akan mengacu pada situs atau link perusahaan yang kredibel.

Khalifah Ali dan Seorang Yahudi

Hakim: “Wahai Amirul Mukminin, apa yang kamu adukan?”
Ali: “Baju besi ini jatuh dari untaku, ia memiliki tanda-tanda begini dan begini. Dan orang Yahudi ini telah menemukannya.”

Hakim: “Wahai Yahudi, apa yang kamu katakan?”
Yahudi: “Baju perang ini adalah milikku karena ia ada di tanganku.”

Hakim: “Setelah memeriksa tanda-tandanya, baju besi itu persis seperti yang dikatakan Amirul Mukminin. Namun begitu, engkau perlu mendatangkan dua saksi ya Amirul Mukminin”

Ali kemudian memanggil seorang tentaranya dan Hasan, putranya sendiri. Merekalah yang akan memberikan kesaksian bahwa baju besi itu adalah milik Ali.

Hakim: “Kesaksian tentara ini diterima. Sedangkan kesaksian Hasan bin Ali tidak bisa diterima.”

Ali: “Wahai hakim, tidakkah engkau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda sebagaimana yang diriwayatkan Umar bin Khattab bahwa Hasan dan Husein adalah pemimpin pemuda dan penghuni surga?”
Hakim: “Benar, aku mendengarnya.”

Ali: “Lalu mengapa kesaksian pemimpin pemuda penghuni surga tidak diperbolehkan?”
Hakim: “Bukan begitu Amirul Mukminin. Yang menjadi masalah adalah, dia ini anakmu sendiri.”

Mendengar dan menyaksikan jalannya pengadilan ini, hati orang Yahudi terus bergetar. Bagaimana mungkin ada pengadilan seperti ini, bagaimana mungkin ada agama seadil dan seindah ini.

Ia pun kemudian menyela, “Wahai Amirul Mukminin, ini sebenarnya adalah baju besimu. Ambillah! Aku telah menyaksikan seorang kepala negara yang untuk urusan baju besi saja mau datang ke pengadilan dan hakimnya yang seorang muslim pun memutuskan dengan sangat adil dan jujur. Ambillah baju besi yang kutemukan saat terjatuh dari untamu ini dan saksikanlah bahwa aku hari ini bersyahadat."

Apakah saat ini masih ada pemimpin yang memposisikan dirinya setara dengan rakyat biasa di depan hukum?